silhouette image of person praying
Photo by Rodolfo Clix on <a href="https://www.pexels.com/photo/silhouette-image-of-person-praying-1615776/" rel="nofollow">Pexels.com</a>

(by : Mardin Ga’a: Sebuah Essay)

Membaca “Allah” di dalam filsafat berarti berusaha menemukan konsepsi atau gagasan tentang Allah secara filosofis yang dikaji atas dasar pengertian akali.

Pendahuluan

Pada kesempatan kali ini saya akan memberikan sebuah uraian sederhana yang diberi judul ‘Membaca “Allah” di dalam Filsafat : Sebuah Usaha untuk menalar Tuhan lewat Aktifitas Ratio. Dari judul ini, tentu sedikit problematis  bagi kaum religius yang sangat fanatik dan kental dalam menjalani praktik peribadatan keagamaan secara aktif dan ketat. Kok, Allah bisa dikenal dan dipahami bahkan dikonsepsi secara akali manusia. Bukan kah Allah itu sesuatu yang sangat misteri dan berpredikat ‘Maha’ sehingga terlalu arogan untuk ditakhlukan secara akali untuk setingkat manusia yang secara kodrati terbilang terbatas dan rapuh.

Problematis ini akan dijawab dalam kelanjutan uraian-uraian kemudian. Allah memang merupakan obyek kultus religioisa subyek manusia yang kita temukan dalam praktik religi atau di dalam praktik kultus kultur tertentu. Bahwa predikat ini tidak bisa dipungkiri sebagai sebuah faktual perjalanan sejarah umat manusia (homo religius), seperti yang kita temukan di dalam kitab sejarah suatu suku tertentu atau di dalam kitab suci agama tertentu. Dalam kitab tersebut terbangun sebuah relasional vertical timbal balik antara Allah sebagai sumber penuntun dan manusia sebagai umat-Nya. Karen Armstrong dalam bukunya Masa Depan Tuhan sempat menyinggung perihal ini dengan mengangkat tentang kultus perburuan masyarakat kuno yang menghidupkan tradisi puasa seks sebelum melakukan perburuan untuk mengaktifkan piranti ekstatis dalam ritual perburuan ini karena meyakini bahwa hewan perburuan merupakan kiriman dewata dari alam supranatural yang mana aspek pembatinan para pemburu harus disatukan bersama alam dewata sembari menghindari dari ancaman bahaya dan kecelakan di alam perburuan.

Setelah mengupas tentang problematisnya, Nah sekarang mari Kita membahas konsepsi Allah di dalam koridor filsafat. Di dalam Filsafat kita akan menguraikan Allah bukan sesuai konsepsi mekanisme religious-spiritual, melainkan mencoba untuk memahaminya secara akali atau menganalisis hakaikat Allah ke dalam pengertian dan pemahaman pemikiran sesuai dengan mekanisme atau daya pemikiran

Baca juga : Apa yang dimaksudkan dengan Monisme

“Allah” di dalam Filsafat

Banyak ulasan di dalam Filsafat terkait dengan pembahasan seputar Allah atau tentang hal yang menjadi yang adi-kodrati. Di dalam filsafat populer dikenal dengan aksen penyebab pertama atau penyebab yang tidak disebabkan oleh sebab yang lain. Dalam istilah lain dikenal dengan actus purus. Dia adalah penentu atau determinan bagi sebab-sebab yang lain. Ulasan mengenai Allah di dalam filsafat dipahami bukan sebagai persona eksistensial melainkan sebagai subyek esensial yang bersiat proslogion. Artinya pikiran kita tidak dapat mutlak menempatkan secara lengkap hakaikat tentang Allah akan tetapi kita hanya dapat ikut cooperative di dalam mengenal hakaikat Allah sebagai unsur subyektif atau pemikiran tentang Allah di tempatakan melalui atau lewat pemikiran manusia. Di sini kita mengandalkan kognisi murni bukan kognisi empiris.

Telah banyak pembahasan mengenai Allah yang diuraikan oleh pemikir-pemikir yang tereksplanasi secara filosois. Hal ini dapat kita temukan di dalam Metafisika dan Filsafat Ketuhanan. Dan procedural atau mekanisme yang dijalankan adalah bukanlah secara aposteriori atau pengenalan langsung melainkan secara apriori atau melalui jalan silogisme.  Salah satu tokoh skolastik ternama yang membahas Allah secara kognitif adalah Thomas Aquinas. Ia memperkenalkan lima jalan atau yang lebih dikenal dengan Qinquae Viae  yaitu : 1) Gerak, 2) Penyebab efisien, 3) Keberadaan Niscaya, 4) Kesempurnaan, dan 5) Keteraturan/ Order. Beberapa penjelasan singkat dari lima jalan Thomas Aquins adalah sebagai berikut : .1. Gerak) Gerak disini dimaksudkan dengan proses berubah sesuatu dari hal-hal yang besifat masih potensial menjadi aktus. Hal yang ingin dilihat lebih jauh adalah mengenai apa yang menyebabkan sehingga terjadi perubahan di dalan gerak tersebut. Di sini sampailah pemahaman akan apa yang disebut dengan pnggerak yang tidak digerakan. Hal ini pernah dibahas oleh aristoteles tentang penggerak pertama.  2) Penyebab Efisien atau biasa disebut dengan penyebab final. Ini adalh suatu usaha silogisme dimana kita akan mencari sebab pertama di antara sebab- sebab yang lain.  3) Bagian jalan ketiga dibahas tentang sumber tertinggi dari keniscayaan 4) ini berkaitan dengan jalan kesempurnaan dimana kita dapat memetakan tingkatan-tingkatan kesempurnaan misalkan mulai dari yang dilihat paling kurang baik kemudian menjadi baik dan menjadi sangat baik. Disini kita akan menyusun yingkat kesempurnaan dan Allah dipahami sebagai sesuatu yang paling sempurna tersebut. 5) Keteraturan. Bahwa segala sesuatu yang mejadi teratur di dalam perputaran waktu dan keberadaan semesta ini adalah penntuan dari sesuatu yang lain yang disebut Allah. Demikian lima jalan yang dibicarakan oleh Thomas Aqianas yang saya petakan atas dasar ingatan saya dalam mata kuliah Sejarah Filsafat Barat Kuno yang disampaikan oleh salah satu dosesn saya yakni Romo Richard Muga di STFK Ledalero.

Allah di dalam filsafat seturut Tomas Aquinas
St.Tomas Aquino by Tobs Peralta

Eksistensi Allah

ada istilah cogito yang kerapa dimainkan dalam menyadari diri sebagai makhluk yang berpikir. Refleksi ini mengarah kepada diri yang berpikr dengan melibatkan akal untuk mengeksplorasi ide-ide. Seperti Descartes telah membagi ide-ide atas tiga bagian yaitu 1. Ide-ide bawaan (ideae innatae) yang ada dalam subyek pemikiran yang muncul bersamaan dengan kesadaran manusia, 2. Ide-ide yang terjadi (kebetulan) yang berasal dari luar kemudian sampai kepada kesadaran yang mengantar hal-hal yang sedikit asing, 3. Ide-ide buatan. Ideae innatae menurut descartes adalah perihal tentang Allah sebagai “subtansi tak terbatas, abadi, tak berubah, tak bergantung, mahatahu, yang telah menciptakan dengan agung mengenai isi kosmos. Ide ini seperti telah dijelaskan di atas tidak bertolak dari pengelaman empirikal manusia melainkan atas dasar oleh kesadaran manusia.[1] Jadi memahami eksistensi Allah adalah aktifitas serentak dalam mengenal esensinya melalui ide bawaan ini sebagai upaya menegaskan tentang bukti ontologis. Hal ini sepadan dengan apa yang ditekankan oleh Immanuel Kant di dalam pembahasan tentang pencapaian akal transendental dalam mencapai Allah seperti yang termuat di dalam maha karyanya Kritik Akal budi Murni.

Penutup

Akan tetapi perlu diketahui bahwa di dalam uraian-uraian filosofis tentang Allah masih saja tindak cukup dalam mengerti tentang hakaikat Allah secara subtansial dan lebih massif. Suatu jalan lain yang mejadi rujukan adalah kembali kepada religiosa atau ungkapan dan penghayatan iman karena intuisi kepada Allah melalui mistik lebih menjamin dalam memahami Allah karena intyisu membawa kita kepada suatu rasa kehadiran yang lebih mendalam tentang Allah

Akan tetapi secara  filosofis  sangatlah penting bagi kita untuk memahami hakaikat Allah melaui pemikiran kita sehingga apa yang kita yakini menjadi lebih dapat dipertanggung jawabkan dalam mempertanggusng jawabkan tentang hakaikat keberadaan Allah.

misalkan di dalam risalah kant kita akan menemukan tulisan tentang konsepsi fisik-teologis yang menyususn benda-benda fisikal material dengan bermuara pada ketentuan penyebab final yang menatur semuanya.

Hal ini akan sangat lengkap jika kita membahas lebih jauh sampai kepada persoalan iman dan nalar sehingga diskursus tentang Allah akan lebih memadai dalam menunjang untuk terhindar di dalam kepicikan dan takhayul dalam praktik real keagamaan. Dan Allah yang dapat kita ketahui bukanlah Allah secara ituh akan tetapi hanyalah sebuaj jejak atau enigma

Referensi

[1] Frans Cheunfin, Sejarah Pemikran Modern ( Diktat Kuliah STFK Ledalero, Maumere : 2023) hal. 80

By Ardy G

Pernah belajar di bidang Filsafat

2 thoughts on “Membaca Allah di dalam Filsafat : Sebuah Usaha Menalar Tuhan lewat Aktifitas Ratio”
  1. Pada tataran ini munkin kita perlu berpijak pada ranah imanen yah🙏🙏.
    Sehingga kita bisa mencoba mengenali value ketuhanan yg msh bisa dicerna akal yg memang penuh dengan batasan kodrati..

    1. Maksih bang udah mampir di sini.. hehe.. iya” benar sekali bang.. Sekalipun Kita sampai pada transendensi secara pemikiran namun kita tetap eksis sebagai yang imenensial…Memang masalah Ketuhanan sesuatu yang rumit..🙏🙏🙏

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Eksplorasi konten lain dari Patadela.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca