close up photo of woman with gold glitters on her face
Photo by Allen - on <a href="https://www.pexels.com/photo/close-up-photo-of-woman-with-gold-glitters-on-her-face-2250619/" rel="nofollow">Pexels.com</a>

Aksiologi dalam term filsafat menjadi sesuatu yang sangat menarik untuk dibahas berkenaan dengan aspek nilai atau pandangan  dan estetis yang berkaitan dengan proses ealuatif terhadap suatu konten atau bahan kajian. Mengenai pendapat dan pandangan sangat diperlukan untuk penguatan atau konsolidasi terhadap konten itu sehingga ia bisa dikatakan bernilai atau tidak dan disukai dan disenangi atau tidak. Aksiologi menempatkan sesuatu hal menjadi lebih berarti karena telah melalui proses validasi.  Secara umum yang hendak  dicapai oleh aksiologi adalah hakikat dan manfaat mengenai sebuah konten atau  suatu pengetahuan. Dalam praksis kehidupan seharian manusia sangat membutuhkan masukan dalam bentuk nila semacam ini yang memberikan dirinya suatu daya impuls atau masukan akan konten yang dipertunjukan tersebut apakah mendapat kesan baik atau tidak sebagai bentuk koreksio yang konstruktif.

Secara etimologis, aksiologi berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari dua kata yaitu axios yang berarti layak atau pantas dan logos yang berarti ilmu atau studi mengenai.[1] Sedangkan menurut KBBI diijelaskan bahwa aksiologi adalah kegunaan ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia, kajian tentang nilai-nilai seperti etika.

Baca Juga : Apa yang dimaksudkan dengan Monisme ?

Selain itu Peter Gibson mengemukakan bahwa nilai adalah konsep umum yang menarik dan memberikan sebuah motivasi. Nilai adalah fokus pada apa yang kita anggap penting sebagai sebuah privilese positif yang serentak ingin dishare kepada sesama yang lain di sekitar-kita.[2]

Ada beberapa makna terminologis aksiologi, yaitu :

  1. Aksiologi merupakan analisis nilai-nilai, asal, tipe. Maksud daripada analisis ini ialah membatasi arti,ciri-ciri, asal,  tipe, kriteria dan staus dari epistemology  dari nilai-nilai tersebut. Dengan kata lain aksiologi pada hal ini berkutat dengan problematika epistemis.
  2. Aksiologi merupakan studi yang menyangkut teori umum tentang nilai atau suatu studi yang menyangkut segala yang bernilai. Hal ini merujuk pada aspek perihal yang dinyatakan bernilai atau berfaedah.
  3. Aksiologi adalah studi filosofis tentang hakaikat-hakaikat nilai. Terdapat tiga macam hal yang berkenaan dengan hakaikat nilai yakni a). nilai sepenuhnya berhakaikat subyektif  dalam hal ini nilai adalah  reaksi-reaksi yang diberikan oleh manusia dan pelaku.b). nilai-nilai iliapakan kenyataan, namun tidak terdapat dalam ruang dan waktu. Nilai-nilai merupakan esensi-esensi logis dan dapat hanya diketahui oleh akal.c). nilai-nilai merupakan unsur-unsur objektif  yang menyusun kenyataan. [3]

Terdapat tiga macam nilai yang meliputi nilai sipil sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat, nilai moral yang berkaitan dengan dasar system etika kita dan nilai-nilai estetika yakni berkaitan dengan apa yang menurut kita indah[4]. Berbicara mengenai kecantikan dan seni masuk dalam koridor ini. Bagaimana orang bisa mengagumi sebuah prestasi yang gemilang dan cerdas, terampil atau menantang dari performa seseorang. Hal ini terjadi berkat adanya kepekaan atau rasa begitupun dengan perihal kecantikan, bagaimana seseorang dapat memberikan rasa kagum pada kecantikan yang dibentuk oleh tatanan pulchrum. Jadi terdapa stimulus-respons yang memainkan proses mental sesorang dalam memberikan defenisi sesuatu hal menjadi bernilai atau tidak, seni dan tidak seni serta bermoral atau tidak bermoral.

Baca Juga : Apa itu Kebenaran ?

Tentang Aksologi yang lebih diperankan oleh faktor rasa secara subyeksif  tentu berbeda dengan apa yang dinamakan fakta. Aksiologi berkutat dengan peran ealuatif maka fakta merupakan sebuah keadaan yang menunjukan konten yang real actual atau lebih dikenal dengan prima facie atau dalam pandangan alami. Fakta berkaitan dengan kejadian obyektif entah itu besifat baik dan buruk. Dan kesan tentang baik-buruknya merupakan sebuah ealuatif akal manusia yang disebut dengan nilai.

Perlu diketahui pula bahwa secara historis, aksiologi atau teori umum tentang nilai bermula dari perdebatan Alexius Meinong  dengan Christian von Ahrenfels pada tahun 1890-an berkaitan dengan sumber nilai dimana Meinong memandang bahwa sumber nilai adalah perasaan (feeling), atau perkiraan, atau kemungkinan adanya kesenangan  terhadap suatu obyek. Spinoza juga melihat sumber nilai adalah hasyrat atau keinginan.[5] Maka dari ini nilai lebih melibatkan faktor emosional seseorang yang berkutat dengan proses mentalnya.


[1]  Dr. Zaprulkhan, Filsafat Ilmu : sebuah Analisis Kontemporer,(Depok : Rajawali Pers,2015), hal.82

[2]  Peter Gisbson, Segala Sesuatu yang Perlu Anda Ketahui tentang Filsafat,(Jakarta : Penerbit Gramedia,2020), hal.159

[3] Dr. Zaprulkhan, Op.Cit

[4] Peter Gisbson, Op.Cit

[5] Dr. Zaprulkhan, Op.Cit, hal 139

By Ardy G

Pernah belajar di bidang Filsafat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Eksplorasi konten lain dari Patadela.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca