Sebelum diuraikan lebih jauh tema tema inti tentang filsafat ada baiknya terlebih dahulu dibuatkan sebuah catan awal tentang apa itu Filsafat dan bagaimana isi ruang lingkupnya. Tak bisa disangkal bahwa filsafat telah dianggap oleh banyak orang sebagai suatu disiplin ilmu pengetahuan yang sukar dan syarat problematis. Mari kita langsung melihat pengertiannya. Seperti yang tertulis dalam buku Sejarah filsafat Yunani karangan K. Bertens, filsafat secara etimologis terbentuk dari dua kata yang berasal dari bahasa Yunani yakni philos dan sophia. Philos berarti suatu upaya kecintaan yang sangat mendalam sedangkan sophia berati bijaksana. Jadi filsafat atau philosophia berarti pencapaian budi untuk hal-hal bijaksana. Dalam sejarah istilah ini pertama kalinya diperkenalkan oleh Pytagoras. Dalam dialog Plato yang berjudul phaidros dikatakan sepertinya nama cinta akan kebijaksanaan terlihat terlalu luhur untuk manusia dengan insan keterbatasannya. Istilah philosophia rupanya sangat melekat dengan kodrat kebaikan tertinggi yang hanya dicapai dan dimiliki oleh para dewa atau yang diyakini oleh manusia misalnya Allah.

Baca Juga : Kaum Sofis

  Meski dewasa ini dalam era postmodern kita telah hidup dalam situasi ketidakpastian yang diwarnai dengan digitalisasi dan disrupsi informasi, filsafat terkadang dilihat sebagai sesuatu hal yang sangat asing dan dipandang kuno atau arkhais oleh banyak orang. Akan tetapi hemat saya, filsafat masih memiliki relevansi yang cukup penting di dalam banyak bidang kajian dan cabang pengetahuan. Peranan filsafat dalam membangun pikiran kepada keseluruhan dan realitas yang tak dibatasi adalah penting dalam mengurangi ciri parsialis dan isolir khas masing- masing disiplin ilmu pengetahuan dewasa ini. Filsafat membantu pikiran manusia untuk memahami kepada hal-hal yang transenden dan membangun suatu cara berpikir yang tersruktur dan sistematis sehingga pikiran kita tidak menjadi picik dan falible atau sesat.

  Baca Juga : Mazhab Pythagoras

Tidak dipungkiri bahwa keseluruhan proses filsafat terbentuk di Yunani dan menjadi suatu ciptaan peradaban Yunani itu sendiri. Sehingga kita bisa kenal tempat miletos yang merupakan sumbangan bagi munculnya filsuf- filsuf pra-sokratik seperti Thales, Anaximandros dan Anaximenes. Disebut sebagai filsuf pra-sokratik karena mereka muncul sebelum Socrates yang adalah bapak peletak dasar filsafat. Ketiga filsuf miletos di atas memberikan sumbangan pemikiran di dalam mempertanyakan sebab atau segala sesuatu yang ada dan terjadi dari bumi dan alam semesta yang meliputi refleksi kosmogonis dan kosmologis, atau arkhe(asal) yang biasa dikenal dalam istilah filsafat. Thales mengemukakan bahwa air adalah dasar dari segala sesuatu sedangkan Anaximandros dengan to apeiron “yang tak terbatas” yang meliputi segala-galanya yang abadi dan bersifat ilahi serta Anaximenes mengemukakan bahwa udara adalah dasar atas prinsip dari segala sesuatu. Ketiga filsuf ini menjadi peletak dasar corak filsafat karena telah merumuskan suatu konsep dan refleksi ilmiah melalui pertanggung jawaban nalar atau pandangan yang disertakan dengan dalil dan alasannya yang lawannya adalah tradisionalis mitologis.

Uraian-uraian seperti yang termaktub dalam filsuf miletos seperti yang disinggung sebelumnya mau mencirikan bahwa filsafat berangkat dari rasa ingin tahu yang mendalam tentang suatu hal. Muncul rasa kagum atau rasa heran akan sesuatu membuat seseorang dalam hal ini termasuk para filsuf selalu menuangkan pertanyaan mengapa, mengapa, dan terus mengapa (Apa itu Filsafat). Kita bisa setuju dengan pendapat Peter Gibson bahwa filsafat berkutat pada studi mengenai penalaran atas suatu pendapat, jadi tak heran rumusan ini juga menegaskan bahwa filsafat itu sesuatu yang sangat abstrak.

     Usaha refleksi kritis rasional yang berasaskan ilmiah akhirnya dilanjutkan dalam beberapa tahapan mazhab yakni mazhab pytagoras, xenophanes, Herakleitos, mahzab elea, filsuf pluralis dan filsuf atomis dan kemudian masuk pada kaum sofis dan socrates dan berlanjut ke palto dan aristoteles. Pada era ini struktur filsafat telah mulai muncul dan terforma dengan rapi dan terstuktur ke arah yang lebih ilmiah dan populer. Latar belakang historis ini terjadi sekitar awal abad 5 SM.

Nah inilah suatu pengenalan singkat mengenai kajuan pengetahuan tentang filsafat. Kita telah mendalaminya mengenai apa itu filsafat ?Semoga karya ini dapat bermanfaat bagi pembaca dalam pemahaman seputar dunia filsafat dan juga politik tentunya. Jumpa lagi di edisi selanjutnya para pembaca yang budiman. Semoga tulisan sederhana dapat bermanfaat bagi anda semua.

By Ardy G

Pernah belajar di bidang Filsafat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Eksplorasi konten lain dari Patadela.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca