brown wooden blocks on white surface
Photo by Brett Jordan on <a href="https://www.pexels.com/photo/brown-wooden-blocks-on-white-surface-6037812/" rel="nofollow">Pexels.com</a>

Pendahuluan

 Tema pembicaraan yang disuguhkan pada kali ini akan berkutat pada pertanyaan mengenai apa itu kebenaran. Kebenaran tentu menjadi sebuah obyek pencarian dari kalangan yang mencintainya melalui proses refleksi dan analitikal yang tentunya melewati proses pertimbangan mendalam. Pada pertanyaan “Apa itu kebenaran” berati kita berusaha menelisik dan bahkan mendekonstruksikan kembali akan klaim-klaim kebenaran yang dipandang telah absah dan final. dan akan hal ini sepatutnya diakui bahwa pada galibnya kita terus terngiangi akan hal ini dalam keseharian yang melingkupi kita. Sepatutnya pula diakui bahwa kebenaran yang kian diterima tak lupu akan syarat keliru dalam hal ini penuh ambiguitas dan absurditas. Terlebih apa yang menjadi kebenaran tersebut ditunggangi oleh muatan-muatan rekayasa dan politisasi, sehingga perlu diselidiki. Kebenaran dalam term inilah yang ditelaah dan dikaji kembali untuk menata dan merekonstruksi agar sesuai dengan kaidah-kaidah kebenaran yang semestinya (dekonstruksi). Dalam hal ini kebenaran yang benar-benar bersandar pada nila-nilai asali atau epistemis harus melaui proses dialektika dengan cara menguji kebenaran di dalam proses dialog dan perdebatan sambil menunggu sumber lain (silogisme) yang kredibel untuk memperoleh kebenaran yang sahih. 

Mengenai pertanyaan tentang apa itu kebenaran sedianya jauh telah diperdebatkan oleh para filsuf, teolog dan para ahli logika terdahulu. Mereka merumuskan dan mengkaji mengenai apa itu kebenaran berdasarkan sudut pandang dan penalaran yang diangkat oleh mereka. Sehingga mengenai kebenaran sangat bergantung pada rumusan dan aliran para filsuf yang berkutat dengan ruang lingkupnya yang berujung pada macam-macam dan rupa- rupa model dan klaim akan kebenaran. Hal ini juga berakibat pada munculnya gagasan relativisme kebenaran seperti yang dikemukakan oleh Protagoras seorang tokoh sofisme era Yunani Klasik.

Bagi seseorang pegiat religious dan taat dalam beriman tentu akan menyelaraskan term ini dengan kebenaran yang merujuk pada ajaran moralitas atau kebijaksanaan agama yang misalnya dikumandangkan oleh tokoh teladan Umat Kristiani yakni Yesus Kristus  seperti yang tertera dalam injil Yohanes 14:6 dimana Yesus mengatakan bahwa “Akulah jalan dan Kebenaran dan Hidup.” Inilah model moralitas kebenaran yang diperintahkan untuk ditaati oleh umat kristiani sebagai ungkapan kebijaksanan dalam menjalani hidup. Akan tetapi kali ini kita akan mendalami syarat kebenaran dalam artian berhubungan dengan logika dan epistemology berdasarkan kesadaran akal atau pencerahan budi yang didasarkan pada kaidah dan asas rasionalitas bukan tradisi atau takhayul.

Selain itu dalam kehidupan praktis keseharian ketika orang dikonfrotasikan dengan perihal misalkan perihal gugatan hukum di pengadilan, konstelasi politik elektoral dalam menentukan pemimpin yang jujur dan perihal eksperimen ilmiah agar dinilai berdasarkan keakuratan penemunya maka aspek kebenaran akan sangat diandalakan dalam kaitan dengan perihal seperti yang telah disebutkan sebelumnya tadi.

Baca Juga : Kritisisme Immanuel Kant

Apa itu Kebenaran

Kembali pada pencarian mengenai apa itu kebenaran  dapat kita telusuri dalam rumusan-rumusan yang telah digagaskan oleh pelbagai pemikir terdahulu.  Dalam sumber Wikipedia.org dituliskan bahwa kebenaran adalah persesuaian antara pengetahuan, penalaran dan objek[1] sedangkan menurut walter Seymour Allward mengatakan bahwa kebenaran adalah lawan dari kekeliruan yang merupakan obyek dan pengetahuan yang tidak tersesuai. Sedangkan Peter Gibson dalam bukunya yang berjudul Filsafat : Segala sesuatu yang perlu anda ketahui tentang filsafat mengatakan bahwa kebenaran dipahami sebagai hubungan antara pikiran dan fakta-fakta.[2]

Kebenaran dalam hal ini -seperti yang digagaskan oleh pemikir dan sumber di atas – mengartikan bahwa apa itu kebenaran adalah sesuatu yang mempertemukan antara apa yang dipikirkan di dalam akal budi manusia dengan obyek indrawi yang berada dalam realitas. Artinya jika saya mengatakan bahwa ada sebuah batu yang terguling di jalan raya berati terjadi benar bahwa ada batu yang terguling di jalan raya. Persesuaian antara kejadian dan fakta adanya batu di jalan dengan bekas batu berasal sebelum terguling memberikan redaksi kebenaran tentang batu yang berguling. Dan obyek batu dengan pemikiran tentang batu yang terguling memberikan sebuah konsep apa itu kebenaran. Kebenaran mensitesiskan Alam Semesta Fakta dengan Pikiran pemikiran. Filsuf- filsuf yang telah mengorbankan segalanya untuk mengejar kebenaran ialah misalkan Socrates dan Spinoza.[3]

Pada hal lain kita akan menemukan juga tokoh yang agak skeptis terhadap kebenaran yakni Protagoras. Karena di dalam klaim kebenaran yang telah digagaskan ternyata masih ada sekelumit ketidakpastian yang ditemukan. Sesuatu yang dinyatakan benar alih-alih akhirnya dapat dibuktkan salah. Dan inilah yang dinyatakan sebagai falibilitas kebenaran. Bahkan Nietsche sendiri pernah mengumandangkan bahwa kebenaran adalah fiksi yang orang lupa bahwa itu adalah fiksi. Kembali ke Protagoras dan menegenai relatiisme kebenaran dikatakan bahwa (Berdasarkan Laporan Seneca) ” Adalah mungkin untuk berargumen mendukung kedua pihak yang berdebat dengan kekuatan yang sama tentang persoalan apapun dan jika pihak yang berlawanan dari setiap argument memang memiliki kekuatan yang sama maka pengetahuan tentang jawaban yang benar akan selalu di luar jangkauan dan kebenaran dapat diabaikan, yang tersisa hanyalah argument-argumen yang bersaing, masing-masing mewakili sudut pandang seseorang yang diungkapkan dalam slogan “manusia adalah ukuran dari semua hal”.[4] Doktrin ini mau menunjukan bahwa  kehidupan sosial seperti dalam struktur tatanan dan filsafat pertarungan untuk supremasi antara doktrin-doktrin yang bersaingan dengan kekuatan persuasi emosional yang mendominasi  pertarungan ketimbang obyektivitas dan penalaran.

John Locke, Apa itu Kebenaran
Filsuf John Locke by Wikipedia.org

Akan tetapi pandangan mengenai optimis terhadap kebenaran akhirnya dikuatkan kembali di dalam Abad pencerahan seperti yang digagaskan oleh John Locke dan Spinoza. Mereka menggagaskan bahwa akal kembali dimainkan untuk mengarahkan kebaikan dan kesuksesan hidup. Spinoza mengatakn bahwa manusia selalu akan setuju satu sama lain sejauh mereka hidup sesuai dengan tuntutan akal budi dan Locke juga mengemukakan bahwa tidak ada yang begitu indah untuk mata sebagaimana kebenaran untuk pikiran.[5] Jadi akal budi kembali diandalkan untuk meraih keberhasilan dan juga serentak sebagai instrument saling pengerian dalam proses social dan komunikasi (rasional komunikasi). Hal ini dapat kita lihat juga di dalam gagasan teori kritis seperti yang diusahakan oleh aliran atau Mazhab Frankfurt oleh Adorno hingga Habermas. Habermas juga meminati masalah rasionalisasi  sebagai masalah kemanusiaan pada umumnya sebagaimana visi pencerahan atau aufklarung yang membuahkan rasional tujuan atau rasionalitas instrumental (Zweckrationalitat) yang merupakan sumber dari berbagai bentuk saintifisme, positifisme,teknokratisme dan barbarisme gaya baru. [6] Hal ini menandakan bahwa akal budi diandalkan dalam hal mengarahkan apa yang dinamakan dengan kebenaran yang meminimalisirkan kemungkinan orang dapat terhindar dari apa yang dinamakan kesesatan atau kerancuan epistemis.

Dalam teori koherensi kita akan menemukan kembali pembahasa mengenai kebenaran bahwa kebenaran adalah proses perseuaian  ke dalam skema konseptual, seperti menempatkan potongan-potongan  gambar ke dalam puzzle.[7] Jadi kebenaran dalam hal ini merupakan persoalan kesesuaian yang rapi yang mungkin masuk akal dalam skema konseptual yang besar, terperinci dan sukses. Begitupun di dalam teori korespondesi dinyatakan  bahwa ada korespondensi antara unsur-unsur  pemikiran atau kalimat yang benar dari fakta yang diafirmasikan.

Teori-teori Kebenaran

beberapa rumusan tentang teori kebenaran seperti yang dikutip dari catatan Dr.Zaprulkhan dalam bukunya yang berjudul Filsafat Ilmu : Sebuah Analisis Kontemporer adalah sebagai berikut :

  1. Teori Kebenaran Korespondesi. Teori kebenaran korespondensi merupakan teori kebenaran yang menyatakan bahwa suatu pernyataan itu benar kalau isi pengetahuan yang terkandung dalam pernyataan berkorespondesnsi dengan obyek yang dirujuk oleh pernyataan tersebut. jika saya mengatakan bahwa jikalau Hari ini hujan, maka dari perspektif teori korespondensi, pernyataan tersebut benar, namun apabila saya mengatakan bahwa Pulau Flores terdapat di Daerah Palestina , maka paradigma teori korespondensi mengatakan bahwa pernyataan saya itu salah. Diketahui salah seorang filsuf yang menganut teori ini adalah Betrand Russell yang mana baginya apa yang kita katakan memiliki nilai kebenaran, jika yang kita katakan itu sesuai dengan kenyataan.
  2. Teori Kebenaran Koherensi. Koherensi sendiri berasal dari bahasa latin, cohaerere yang berarti melekat, tetap menyatu atau bersatu. secara terminologis teori ini menyatakan bahwa kebenaran harus berdasarkan harmoni internal proposisi-proposisi dalam suatu sistem tertentu. kita dapat melihat sesuatu sebagai kebenaran berpaut pada apa yang sudah dianggap benar.
  3. Teori Kebenaran Pragmatis. Pandangan ini melihat bahwa kebenaran mengenai sebuah gagasan harus dilihat dari sudut pandang akan kegunaan atau aspek praktisnya. hal ini sesuai dengan istilah pragmatic dalam bahasa inggris yang berarti berkenaan dengan hasil praktik. John Dewey merupakan salah satu filsuf yang menguraikan tentang teori ini. Dewey memandang bahwa makna yang terkandung pada sebuah proposisi yang terletak di dalam konsekuensi-konsekuensinya terhadap tingkkah laku seseorang. Suatu proposisi mengandung suatu makna, jika proposisi itu membuat perubahan. Atau jika proposisi itu menyediakan suatu perangkat cara untuk melakukan sesuatu.
  4. Teori Kebenaran Performatif. Teori ini menyatakan bahwa suatu pernyataan atau ujaran disebut benar apabila apa yang dinyatakan itu sungguh terjadi ketika pernyataan atau ujaran itu dilakukan (ferformed). Teori ini diketahui dikembangkan oleh seoang filsuf analitik bahasa bernama John Langshaw Austin. Adapun kedua ucapan yang berkaitan dengan kebenaran performatif ini adalah a.) Ucapan Konstatif yang melukiskan tentang keadaan faktual, yang menyatakan suatu atau terdapat sesuatu yang konstatir dalamucapan tersebut, b.) Ucapan Performatif, sautu ucapan yang tidak dapatb ditentukan benar dan salah berdasarkan peristiwa atau fakta yang telah lampau, melainkan suatu ucapan yang memiliki konsekuensi perbuatan bagi penuturnya. seseorang akan memeberitahukan sesuatu yang sungguh-sungguh sedang ia lakukan apabila ia membuntikan ucapan performatif.
  5. Teori Kebenaran Konsesus. Teori ini pertama kali dikemukakan oleh Thomas Kuhn (dalam buku The structure of Scientific Revolution) yang kemudian dikembangkan oleh Jurgen Habermas untuk mengurai Etika Diskursusnya. Teori ini mengemukakan bahwa sebuah teori ilmiah dikatakan benar kalau dapat disetujui oleh komunitas ilmuwan bidang yang bersangkutan sebagai sesuatu yang benar. Sedangkan Habermas berkata demikian sehubungan dengan teori ini, syarat untuk kebenaran untuk pernyataan-pernyataan adalah kemungkinan adanya persetujuan dari para partisipan rasional dalam suatu diskursus. Jadi Kebenaran berarti suatu janji akan tercapainya suatu konsesus rasional. hemat saya teori ini sangat cocok untuk dihidupkan dalam kehidupan politik yang berbasiskan demokrasi dengan menjunjung tinggi asas deliberasi demokrasi, yang memungkinkan bahwa konsesus atau quasi kesepakatan melalui diskursus warga untuk menentukan tentang kebenaran politis.[8]

Penutup

Sekian Uraian sederhana tentang apa itu kebenaran yang telah saya jawabi dengan rumusan yang dikaji oleh beberapa filsuf dan aliran. Intinya kebenaran adalah suatu pergumulan akal. Apa yang berdasarkan perintah akal sehat dan sesuai dengan sensor akal sehat adalah determinan yang baik dalam merilis kebenaran. Ia harus sesuai dengan penalaran logis dan masuk akal yang mencegah seseorang disetir oleh kecenderungan emosional sehingga kebenaran direduksi hanya karena kekuatan modal dan kesempatan akses dan mobilisasi. Kebenaran secara ideal adalah bahwa benar sangat ideal namun orang diharapkan untuk bisa mendekati dan mecintainya seperti para filsuf yang mencintai kebijaksanaan demikian juga manusia diharapakan mampu mencintai kebenaran.


[1]  Wikipedia.org/kebenaran diakses pada 18 Sepetember 2023

[2] Peter Gibson, Segala Sesuatu yang Perlu anda Ketahui tentang Filsafat (Jakarta : Penerbit Gramedia, 2023) hal. 27

[3]  Ibid hal.28

[4]  ibid Hal. 29.

[5]  Ibid hal.30

[6]   F. Budi Hadirman, Kritik Ideologi : Menyingkap Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan Bersama Jurgen Habermas, (Yogyakarta : Penerbit Kanisius, 2009), hal. 85

[7]  Peter Gibson, Op.cit, hal.32.

[8]Zaprulkhan, Filsafat Ilmu : Sebuah Analisis Kontemporer (Depok : Penerbit Rajawali Pers,2015) hal.107-127.

By Ardy G

Pernah belajar di bidang Filsafat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Eksplorasi konten lain dari Patadela.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca