'Midget typhoon' in the western Pacific Ocean
<a href="https://www.flickr.com/photos/24662369@N07/9501980757" rel="nofollow">'Midget typhoon' in the western Pacific Ocean</a> by <a href="https://www.flickr.com/photos/24662369@N07" rel="nofollow">NASA Goddard Photo and Video</a> is licensed under <a href="https://creativecommons.org/licenses/by/2.0/" rel="nofollow">CC-BY 2.0</a>

Pendahuluan

Dalam lietaratur filsafat dikenal pula sebuah term atau istilah monisme. Istilah ini akan kita jumpai di dalam buku-buku terbitan filsafat atau literatur politik lainnya. Istilah yang mirip dijumpai berdekatan dengan monisme adalah mono, monade dan monistik. Dalam bahasa inggris dapat kita lihat dengan istilah unity.

Secara etimologis term monisme berasal dari bahasa Yunani yakni μόνος atau monos yang dapat kita pahami dengan satu.[1] Pengertian esensial dari monisme adalah suatu pemahaman akan realitas dari keseluruan akan yang ada adalah satu atau tidak terbagi.

Dalam artian di atas terjadi suatu afirmasi akan adanya monade atau satu atau dalam pembahasan lain adalah bahwa segala sesuatu adalah satu yang mengalir dari satu sumber. Hal ini bertalian dengan pemahaman emanasi dari Plotinus yakni segala sesuatu mengalir dari sumber yang sama.

Pembahasan Tentang Monisme

Secara implisit bahwa paham monisme telah terdeskripsi dalam bagian pendahuluan di atas. Paham ini mengantar kita kepada suatu kesadaran bahwa realitas dari segala yang ada adalah satu kesatuan. Dalam pemikiran klasik pra-socrates dapat dijumpai sebuah refleksi bahwa terdapat sumber asali atau arkhe yang menjadi dasar atau penggerak yang menjadikan sesuatu sehingga sesuatu menjadi ada. Istilah arkhe merujuk kepada asali fundamen yang terbangun dalam suatu materi.

Kata monisme ini dimungkinkan dipopuler oleh Christian Wolf dalam menjelaskan tentang pikiran dan tubuh secara ontologis adalah satu kesatuan. Tidak ada dikotomi antara keduanya. Gagasan ini pernah di populerkan pada abad- 17 oleh Filsuf Yahudi Spanyol Baruch de Spinoza mengenai subtansi tunggal alam yang membahas tentang Tuhan dan Alam adalah satu kesatuan.[2]

Baruch Spinoza foto by Wikipedia

Selain itu rupanya pemahaman monisme ini pula yang menjadi rujukan dan jalan dalam memahami metafisika bahkan sangat korelasi dengan diskursus theologi. Artinya monisme adalah dasar- dasar anutan pikiran kepada metafisika. Monisme memahami adanya kesatuan yang merekatkan segala eksistensial yang ada sedangkan metafisika menyelidiki problematis di balik yang fisis atau hal- hal sesudah yang fisis. Maka terdapat kesinambungan di antara kedua term ini.

Baca Juga : Mazhab Pythagorean

Dalam pemahaman Pythagorean pun demikian, istilah monad juga merujuk kepada pengakuan akan adanya dasar ke-Tuhanan yang menjadi causa prima atau sebab pertama. Pada Mazhab  Pythagorean ini dikemukakan bahwa yang  menjadi pusat dari jagat raya adalah api (hestia) bukan bumi (geosentris).

Demikianpun pada pemahaman emanasi dari Plotinus. Plotinus mengajarkan bahwa segala realitas yang ada itu mengalir dari satu sebab. Materi atau atribut dari susunan di dalam jagad raya dan kosmos dipercik dari satu sumber. Pemahaman ini disebut dengan gagasan Neoplatonisme.

Kritik Terhadap Monisme

Mengenai antithesis dan penolakan dari monisme dapat kita jumpai dalam pemikiran dualisme atau dalam thesis yang mengakui akan adanya pluralisme yang patut diperhitungkan tentang eksistensi yang independet dan mandiri dalam artian ia tidak boleh dimasukan ke dalam kerangka berpikir metafisis.

Monisme dilihat terlalu ideal dan terlampui sehingga hanyalah angan-angan dalam batasan pikiran realistis manusiawi. Monisme terkesan abstain dalam berkosentrasi terhadap realitas yang indrawi dan lebih dekat untuk dijangkau.

Relevansi Pengetahuan akan Monisme terhadap Aktualitas Dunia Modern

Pertanyaan mengenai relevansi dari afirmasi terhadap kesatuan monistik hemat saya adalaah fungsinya di dalam membangun kembali kesadaran metafisis dalam situasi modernisme. Penyangkalan akan nilai-nilai theological sangat urgensif dalam memahami kembali ide-ide klasik metafisis, termasuk pembahasan monisme.

Esensi pemahaman monistik mengaktifkan kembali kesadaran sebab final mengenai kesatuan totus dari partisial sekat-sekat yang terfragmentaris atau terpotong-potong.

aktualisasi sekularisasi telah disadari sebagai krisis kemanusian terhadap egositas manusia dalam menahklukan alam semesta yang terkesan pragmatis dan eksploitatif. Inilah yang disebut juga krisis imanensial. Krisis imanensial sebagai suatu akibat kekurangan aktifitas manusia di dalam aktifitas dan kesibukan transendental.

Monisme melalui pemahaman monistik dipastikan mengarahkan kesadaran dan pemikiran manusia menjadi lebih absolut dan massif. Terlebih dalam didukung dengan aktualitas post-modern dewasa ini.

Baca Juga : Filsafat, Selayang Pandang

Penutup

Filsafat diketahui terus berkembang dari waktu ke waktu. Wacana filsafat bukanlah penegasan konsep-konsep pemikiran yang stagnan dan kontinuitas. Segala gagasan dalam bentangan filofisnya bersifat dialektis. Begitupun pemahaman monistik dan metafisis akan selalu dikonfrotasikan dengan gagasan antithesisnya.

Gagasan monisme memberikan pemahaman tentang keseluruhan yang mengantar pikiran kita mengaktifkan sebuah kesadaran universum. Dengan dalil semuanya adalah satu atau Harmonia. Sedangkan dualisme adalah bagian dari partisialis terhadap universe itu sendiri yang berusaha untuk membangun fakultas tersendiri.

Referensi :
[1]https://feelsafat.com/2020/11/monisme-pengertian-sejarah-aliran-dan-filsafat.html, diakeses pada 28 Agustus 2023,13.30 WITA

[2]https://id.m.wikipedia.org/wiki/Baruch_de_Spinoza, diakses pada tanggal 28 Agustus 2023, 21.26 WITA

By Ardy G

Pernah belajar di bidang Filsafat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Eksplorasi konten lain dari Patadela.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca