black binocular on round device
Photo by Skitterphoto on <a href="https://www.pexels.com/photo/black-binocular-on-round-device-63901/" rel="nofollow">Pexels.com</a>

Arthur Schopenhauer dikenal sebagai tokoh jerman yang paling populer bersama Nietzsche dalam sepak terjang pergumulan filsafat pada abad 19. Lahir di kota Danzig ( sebuah wilayah persemakmuran Polandia-Lithuania) pada tanggal 22 Februari 1788.  Belajar pada Universitas Goettingen dengan mengambil studi kedokteran namun berpindah pada fakultas filsafat karena menyukai studi ini, meskipun sebelumnya sempat menuruti keinginan ayahnya untuk mengambil studi bisnis di Inggris dan Prancis. Pada fakultas inilah yang kemudian mempertemukan dengannya akan gagasan filsuf Plato dan Kant yang sangat ia kagumi. Ketika studi di Berlin pada 1811-1813, ia disempatkan mendengarkan kuliah-kuliah Fichte yang membawanya pula menjadi seorang cosmopolitan dengan menolak sikap nasionalis sempit yang kebanyakan dialami intelektual jerman umumnya.

Ia menghasilkan adikaryanya yang diterbitkan pada tahun 1819 yang berjudul Die Welt als Wille und Vorstellung (Dunia Sebagai Kehendak dan Presentasi). Karyanya terbilang sepi dan kurang diminati di masa awal-awal sebelumnya mulai digeluti dan dibaca banyak orang setelah kegagalan revolusi 1848 oleh kaum sosialis dan liberalis nasional yang sempat dikecamnya. Peminatan sangat kontekstual dengan isu penderitaan, kesia-sian dan kejahatan yang ia tawarkan dari filsafatnya tersebut. Selanjutnya gagasan filsafatnya diketahui sangat dipengaruhi oleh Kant. Pengaruh  Kant baginya dapat dilihat dalam disertasi doktoralnya yang berjudul Uber die vierfache wurzel des Satzes vom zureichenden Grunde (Tentang akar ganda empat dari asas tentang alasan yang memadai). Dalam disertasinya yang sempat diterbitkan menjadi buku tersebut, Schopenhauer berpendapat bahwa dunia fenomenal yang kita alami ini adalah obyek bagi subyek, yang mana hal ini berarti dunia fenomenal adalah presentasi-presentasi (Vorstellungen) atau bagian dari gambaran-gambaran mental kita sendiri. Presentasi-presentasi ini tersusun secara teratur menjadi sebuah system pengetahuan tentang obyek, dan system itu disebut sebagai ilmu pengetahuan. Di sini implisit diakui adanya “das Ding an Sich”, dan agar pengetahuan tentang dunia fenomenal itu memadai , setidaknya harus terdapat asas umum yang mengatur susunan presentasi itu, dan asas itu disebut “prinsip alasan yang memadai”.[1] Menurutnya terdapat empat dalam kaitannya dengan prinsip alasan yang memadai, yang pertama adalah “prinsip alasan memadai mengenai menjadi”, yang kedua adalah “prinsip alasan yang memadai mengenai mengetahui”, yang ketiga adalah “prinsip alasan memadai mengenai ada” dan yang keempat adalah tentang “prinsip alasan yang memadai mengenai bertindak”.

Baca Juga : Menelisik Filsafat Hegel : Equivalensi antara Filsafat dan Teologi

Pandangannya tentang dunia fenomenal sebagai representasi atau gambaran mental kita kemudian dikembangkan lagi dalam adikaryanya “die welt als wille und Vorstellung”. Istilah vorstellung sebenarnya mau merujuk kepada idea bahwa “dunia adalah Ide ku sendiri” yang lebih dikenal dengan presentasi menurut Schopenhauer. Baginya segala kenyataan yang diindrawi oleh manusia merupakan bagian dari presentasi-presentasi ku tentang nya, atau obyek bagi subyek. Dan kenyataan itu merupakan fenomenal, persis apa yang telah disampaikan oleh kant bahwa yang diketahui itu adalah hanyalah gejala-gejala. Tesis nya tentang dunia presentasi ini akhirnya mendapat persesuaian dengan konsep maya dalam filsafat india yang mana berkat terpengaruhnya dengan Friedrich Mayer membawa Schopenhauer tertarik untuk mendalami upanisad. Ia akhirnya menerima bahwa segala sesuatu yang tampak bersifat maya atau merupakan bagian dari atribut-atribut dari dunia noumenal ala kant dan alam rohani ala Hegel, namun dia lebih konsisten dengan kant. Jadi presentasi ala Schopenhauer ini sebenarnya mau menjelaskan tentang konsepsi idea yang meliputi konteks perihal obyek yang disaksikan subyek. Idea inilah yang disebutnya sebgai prisnsip alasan yang memadai yang memungkinnya terjadi proses pencerapan antara kebradaan obyek yang disangsikan subyek pengindra.

arthur schopenhauer pada masa muda
Schopenhauer pada masa muda by wikipedia.org

Selain itu Schopenhauer juga sangat berpretensi negatifitas terhadap metafisik, oleh karena itu sikapnya ini dikennal dengan sebutan pesimisme metafisik yang mau melukiskan bahwa pengandaian kepada hal-hal yang sempurna dari manusia adalah hal yang sia-sia. Tentang hal ini dapat ia umpamakan dalam ketergantungan manusia untuk mengejar kebahagiaan yang baginya adalah sesuatu yang nihil karena jika manusia melakukannya dan apabila kebahagiaan itu tercapai maka akan sampai pula akan situasi kebosanan yang mendatangkan pula suatu pengejaran akan kebahagiaan yang baru. Schopenhauer kemudia memandang kehendak metafisik ini merupakan suatu “kehendak yang menganiaya” karena telos atau tujuan yang ingin digapai tidak akan pernah tercapai. Hal ini secara implisit mau menggambarkan bahwa dalam keadaan yang diam manusia dapat bisa mencapai tujuan yang lebih hakiki dari tindakan manusia yang berkehendak. Sebuah jalan keluar baginya sangat ekuivalen dengan filsafat india tentang jalan pelepasan. Di sinilah letak filsafat barat digembleng oleh alam filsafat timur khususnya india. Ada dua jalan yang ditemukannya yaitu jalan estetis dan jalan etis. Yang pertama dapat dicapai melaluikontemplasi untuk memendamkan hasyrat-hasyrat manusia dari keinginan atau ketakteraturan dan yang kedua adalah jalan etis dengan mengakrabi segala macam kenyataan baik itu dalam keadaan yang buruk sama sekali bagi kebanyakan orang.

Baca Juga : Mengenal Kritisisme Immanuel Kant

Tesis schopenhauer ini sebenarnya tidak keluar dari jalur idealism jerman yang telah dirintis Fichte, Schelling dan Hegel ia hanya bereaksi dan mengkritisi akan apa yang dikatakan hegel bahwa kenyataan bersifat rasional namun baginya dengan mengacu pada konteks kenyataan manusia yang selalu berkehendak sebenarnya sudah ditegaskan bahwa dorongan atau pretensi ini dalam keinginan untuk mencapai kebahagiaan atau situasi sempurna merupakan dorongan buta yang irasional. Oleh karena itu ia digolongkan sebagai pendukung irasional metafisik dan pesimisme metafisiknya merupakan bagian dari reaksi atas optimism metafisik hegel. Sebagai bagian dari penerapan fiilsafatnya ia sangat realistic dengan bahaya eksploitasi, perbudakan dan penindasan yang sangat lazim dan hidup dalam era industrialisasi pada abad-19. Maka filsafat Schopenhauer terbilang sangat aktualitas dan realistis pada isu-isu kemanusian dan hak asasi seperti yang sangat didengunkan pada masa ini.


[1] F.Budi Hadirman, Pemikiran Modern : Dari Machiavelli sampai Nietzche, (Yogyakarta : Penerbit Kanisius, 2019),hal.210

By Ardy G

Pernah belajar di bidang Filsafat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Eksplorasi konten lain dari Patadela.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca