Ada sebuah ungkapan yang berbunyi demikian “Yang paling berbahaya untuk menakhlukan orang adalah bukan dengan senjata, akan tetapi dengan ideologi”, Ideology dapat berbahaya karena kuantitas penerimanya yang berjumlah banyak yang dapat terjadi dalam masa yang singkat. Karena hal yang sesungguhnya paling mutakhir untuk cepat membuat orang lain menjadi takhluk adalah bukan dengan kekerasan atau violence seperti intimidasi senjata melainkan dengan ideologilah  yang paling meyakinkan untuk mempengaruhi mindset dalam membuka pemikiran orang. Relevansi aktualnya dapat kita lihat dalam aktulitas kasak-kusuk dan keributan dunia sekarang. Berkenaan dengan ideologi, perihal yang sama pun relevan dengan filsuf kelahiran 28 Juli 1804 ini yang mana  saat ia giat menyusun alasan-alasan menjadi pendasaran logis, kritis, rasional bahkan krusial bagi perkembangan agama kekristenan (Protestan) semasanya. Sebuah langkah yang sangat ironi bagi orang-orang sezamannya karena seorang yang juga dengan latar belakang pendidikan teologi akhirnya menjadi pionir berbahaya bagi teologi. Sebuah akselerasi yang ambigu karena ia berangkat dari seorang yang berpredikat sebagai kesatria intelektual teologi kini bermetamorfosis menjadi Ludwig Feurbach yang merong-rong teologi. Dan inilah sebuah senjata yang diracik oleh filsuf yang rela tidak dijaji saat mengajar Erlangen ini  yang telah berhasil menakhlukan konsepsi dan cara pandang bahkan ideology bagi kehidupan dunia sesudahnya. Ideology Marxisme semisalnya sangat dipengaruhi pula oleh pendasaran Feurbach ini.

Baca Juga : Metafisika dan Ruang Lingkupnya.

Sebelum kita masuk ke pembahasan inti sehubungan dengan pendasarannya yang dianggap merong-rong teologi, ada baiknya kita melihat sedikit tentang latar belakang yang mejadi cikal bakal nya menjadi skeptis dengan teologi. Sebab ketika kita berbiacara pendasaran berarti kita hendak menyoali hal-hal yang mejadi kekuatan logis sebagai sesuatu alasan akan sebuah tesis atau pernyataan yang diangkat.Berdasarkan sumber yang diambil dari buku Pemikiran Modern karya F. Budi Hadirman diinformasikan bahwa alasan mengapa ia menjadi seorang pemikir yang sangat menonjolkan rasionalitas adalah dikarenakan riwayat filsafatnya yang ia dapat dari Hegel di Berlin sebelum studi teologi khususnya teologi Protestan. Meskipun corak filsafat Hegel pun tidak memberatkan pada pendasaran-pendasaran yang rasionalitas dengan selalu konsisten pada keterkaitan dengan konteks teologi namun para muridnya termasuk Feurbach terpecah ke dalam dua kubu menjadi Hegelian Sayap kiri dan Hegelian sayap kanan. Feurbach tergolong dalam kelompok kiri yang mendukung paham ateisme. Ia akhirnya lebih berkonsentrasi penuh pada isu filsafat dan sekaligus mengkritisi pandangan gurunya serta berupaya merangkum kembali teorinya secara tersendiri yang sangat ekstrim terhadap pemikiran transenden seperti aliran kanan yang mendukung teisme.

Beberapa Pendasaran Ludwig Feurbach yang Dianggap Merong-rong Eksistensial Teologi
Karya Feurbach yang mengkritik tentang Agama by Wikipedia.org

Setelah kita diantar akan latar belakang konteks pergumulan filosfisnya maka sekarang kita kan melihat gagasan-gagasan filsafatnya yang dilihat pula menjadi ancaman terhadap teologi. Adapun beberapa Pendasaran Ludwig Feurbach yang dianggap Merong-rong Eksistensial Teologi  dapat diuraikan sebagai berikut :

Baca Juga : Mengenal  Idealisme Jerman  : Perjumpaan akan Metafisika Gaya Baru

  1. Alam sebagai dasar bagi kesadaran (Idealisme menjadi materialisme).

Konsepsi ini sebenarnya kita bisa melihat bahwa Feurbach mau mengemukakan kembali tentang asas arche yang pernah diperkenalkan oleh filsuf-filsuf sebelumnya. Arche menunjukan tentang landasan penyebab yang menentukan sebab lain. Seperti Thales seorang tokoh pemikir masa yunani kuno yang mengemukan air sebagai asas pertama yang menjadi asal mula segala sesuatu[1], Feurbach pun demikian ingin menjelaskan bahwa alam yang disadari oleh pikiran adalah dasar bagi kesadaran termasuk pikiran kita yang menyadari alam tersebut. Bahasanya secara sederhana adalah sebagai berikut bahwa alam dan segala penampakan atau atribut yang kita amati indra mata kita adalah sesuatu yang menduduki tempat pertama bagi pemikiran kita untuk mengatakan bahwa ia ada.[2] Karena bagi Feurbach tidak mungkin kalau kesadaran bisa terjadi kalau sesuatu yang kita sadar dalam hal alam itu tidak ada. Jadi persoalan ini sebenarnya mau menguji kausalitas antara manusia yang berkesadaran dengan relitas yang disadari termasuk alam, namun Feurbach yang adalah seorang yang sangat realis dan penyuka materialism ingin menyinkronkan akan realitas obyek kesadaran dengan alam yang bisa disatuankan dengan kenyataan indrawi.  Dan konsepsi Hegel tentang “Idea”, “Roh”, dan “logos” yang sejalan dengan teologi dikritisi sebagai sesuatu yang tidak cocok dengan kenyataan indrawi. Baginya materialisme lah yang lebih pasti.

  • Bahasan Teologi merupakan bahasan Antropologi itu sendiri.

Dalam maksud ini adalah Feurbach ingin menyampaikan bahwa konsepsi teologi yang orang bicarakan tentang Allah sebenarnya orang menyelidiki dan menyelami akan hakaikat dirinya sendiri. Allah bagi Feurbach adalah tidak lain dari ungkapan manusia super yang dikultuskan oleh manusia itu sendiri. Manusia menyadarkan akan apa yang melampuinya sampai pada yang tak terbatas yang mana dalam term teologi disebut sebagai Allah yang sebenarnya tidak menjauh dari konsepsi alam material melalui lingkaran kemanuisan sebagai hakaikat  memiliki ratio,kehendak dan perasaan.

  • Allah Sebagai Proyeksi dan Agama sebagai Alienasi.

Konsepsi mengenai Allah sebgai proyeksi sebenarnya masih berkaitan atau korelasi dengan gagasan “anthrropologi yang menjadi teologi” dari feurbach, Allah baginya adalah manusia super yang diproyeksikan oleh manusia sendiri.  Proyeksi itu terjadi karena hakaikat keterbatasan manusia untuk menjangkau kesempurnaan dengan harapan bahwa hal-hal yang tak terbatas dan maha sempurna yang tidak bisa dijangkau oleh manusia itu berada dalam suatu kenyataan tersendiri yang bagi manusia menganggapnya sebagai Allah. Jadi Allah merupakan sebuah pelarian pikiran manusia akan suatu harapan terhadap sesuatu yang sempurna dari keadaan dan realitasnya yang serba terbatas.

Sebuah jalan untuk mematikan asumsi bahwa ada kenyataan yang sempurna di luar diri manusia adalah manusia harus mampu bisa untuk menemukan hakakikatnya secara penuh dan inilah serentak sebagai sebuah jalan juga untuk mengatasi apa yang dimaksudkan Feurbach bahwa agama dilihat sebagai sesuatu kekuatan alienasi. Karena dengan bersandar pada suatu kenyataan yang sempurna di luar diri manusia dengan tidak berkosentrasi pada kepenuhan akan hakaikatnya merupakan sebuah langkah pengasingan atau alienasi. Alienasi atau keterasingan yang tidak saja membawa manusia pada suatu ruang hampa akan tetapi juga berdampak pada mentalitas untuk berpasrah dan menyerah dalam diri manusia. Maka dari itu bagi Feurbach agama merupakan sesuatu kekuatan alienasi dan kebenaran teologi sesungguhnya hal yang sia-sia karena banyak merumuskan konsep-konsep yang akan melemparkan manusia ke alam alienasi.

Baca Juga : Menelisik Filsafat Hegel : Equivalensi antara Filsafat dan Teologi

Pendasaran-pendasaran filosofis yang diungkapakan oleh Feurbach ini sebenarnya merupakan sebuah langkah dari nya agar manusia seharusnya lebih berkosentrasi pada hal-hal yang realistis dalam hal ini menghidupkan suatu kenyataan indrawi yang lebih dekat dengan kesadaran manusia (Prima facie). Banguna filsafat yang terkesan mendukung materialism ini pada dasarnya ingin meruntuhkan dan mengkritisi konsepsi idealism Hegel yang sudah sangat dikenal dalam masa idealism jerman yang juga diminati oleh Schelling dan Fichte. Sebuah pendasaran yang tajam ini alih-alih berimplikasi pula pada eksistensial teologi dan kehidupan Agama Kristen yang juga sangat didukung oleh Hegel. Bukti karyanya yang menolak teologi dan Agama Kristen dapat kita lihat dalam karyanya yang sangat termasyur  yang berjudul Das Wessen  des Christentums (Hakaikat Agama Kristen) dan Das Wessn der Religion (Hakaikat Agama).[3] Apakah Beberapa pendasaran  Ludwig Feurbach yang dianggap merong-rong Teologi ini merupakan sebuah langkah filosofisnya yang hendak menghentikan pergerakan teologi dan konsep teisme ataukah hanya merupakan sebuah kekuatan skeptisisme dan kritisisme akan eksistensial Kekristenan ? jawaban nya dapat kita simpulkan sendiri sebagai catatan kritisnya. Semoga ulasan ini memberikan faedah serta menggugah pembaca sekalian. Tulisan ini tentunya bukanlah sebuah langkah suksesi hendak menjadikan orang untuk menjadi ateisme akan tetapi mengkaji ulang akan apa yang pernah dibuat oleh penulis buku Zur Kritik der Hegelschen Philosophie ini dari perspektif filsafat.


[1] DR. Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 1, (Yogyakarta : Penerbit Kanisius, 2016),hal.16

[2] F.Budi Hadirman, Pemikiran Modern : Dari Machiavelli sampai Nietzche, (Yogyakarta : Penerbit Kanisius, 2019)

[3] Ibid, hal 220

By Ardy G

Pernah belajar di bidang Filsafat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Eksplorasi konten lain dari Patadela.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca