Tema “Arti Penting Berpikir dari rene descartes” diangkat sebagai tulisan pada kali ini berangkat dari peran sumbangsih posisional pemikirannya terhadap eksistensial atau keberdaan pengetahuan dalam sepanjang sejarah perkembangan dinamika keilmuan. Kajian tentang pemikiran dari Rene Descartes merupakan sebuah kajian yang mengelaborasikan tentang  apa itu berpikir dan bagaimana pemikiran menjadi sesuatu yang sangat urgen bahkan sentral di dalam manusia yang bereksistensial. Bahkan dalam konteks kekinian kita pun masih akan terus mempertanyakan tentang apa itu berpikir dan berpikir itu seperti apakah dan bagaimanakah ia dapat bisa berlangsung di dalam kesadaran manusia tanpa harus mengenal Descartes terlebih dahulu.

Riwayat Hidup

Sebelum kita masuk pada pembahasan inti mengenai filsafat Descartes, ada baiknya terlebih dahulu kita menulusuri sedikit tentang riwayat hidupnya. Rene Descartes dikenal sebagai salah satu filsuf  yang sangat brilian dalam bidang Filsafat.Selain filsafat  Ia juga berkecimpung dalam bidang pengetahuan lain seperti matematika, Fisika, epistemology,  Optika dan juga teori music dan bunyi. Karena perannya cukup tajam di dalam pemikiran filsafat terutama kajian dan kemampuan filosofisnya yang tinggi  yang terkenal dalam dogma Co gito ergo sum (Tema-tema res cogitans dan res ekstensa) yang juga menginspirasi pemikir-pemikir selanjutnya, ia akhirnya dijuluki sebagai bapak filsafat modern (istilah yang juga disematkan pada Francis Bacon. Ia mampu membangun secara detail suatu kerangka filosofis baru yang lebih lengkap terlebih khusus bagaimana mensitesiskan tentag pertentangan antara filsaat Scholastik dan keilmuan baru galilein-copernican.[1] Dilansir dari wikipedia.org, Rene Descartes Lahir di La Haye ,Touraine- Perancis pada 31 Maret 1596 dari sebuah keluarga borjuis. Menjalani pendidikan pada Universitas Utrecht dan Uniersitas Leiden. Ia juga pernah masuk sebagai anggota militer Bavaria pada tahun 1619. Tokoh-tokoh yang memengaruhinya adalah Plato, Aristoteles, Anselmus, Thomas Aquinas, William Ockham. Ia meninggal pada 11 ebruari 1650 akibat radang paru-paru.

Berpikir dari Rene Descartes sumber https://wahananews.co/serbaserbi/mengenal-ren---descartes--bapak-ilmu-filsafat-modern/2
Rene Descartes , by wahananews.co

         Baca Juga : Membaca Allah di dalam Filsafat : Usaha Menalar Tuhan lewat Ratio

Mengenai Berpikir dari Descartes (Cogitare)

Cogito (Res Cogitans) atau mengenai berpikir dari rene descartes dapat dimengerti sebagai realitas yang mengaktifkan pemikiran  pada diri ku. Hal ini dapat kita lihat juga aplikatifnya di dalam konsep kesangksian metodis dari Descates. Seperti yang sudah dikatakan bahwa kesangsian metodis ini merupakan sebuah perpaduan antara filsafat scholastic dan keilmuan baru galilein-copernikan. Aku berpikir maka aku ada (Cogitans) merupakan suatu gaya penalaran yang sangat dialektis mengenai keberadaan dari Aku ada untuk berpikir. Maksud Descartes adalah hal yang determinan bagi seseorang menjadi eksis adalah mengenai berpikir yang menentukan tentang aspek kesadaran dan mekanistis akan seluruh operasional dalam penyadaran piranti pemikirannya. Tanpa piranti yang berpikir menjadi seseorang seperti terdepak di dalam ruang ketiadaan atau nihil. Maka dari itu pemikiranlah yang sangat penting. Sedangkan tubuh adalah aspek derivative yang berfungsi pada bidang motoric-biologis. Konsep res cogintas dari Descartes sendiri merupakan suatu konsepsi oposisional akan res exensa. Jika res cogitans menguraikan tentang aspek kesadaran maka res ekstensa berkutat dengan perihal mengenai obyek keluasan (fisikal-biologis) yang juga mempertemukan dua dunia yakni jiwa dan badan. Res cogitans mengacu kepada jiwa yang memain proses mental sedangkan resekstenta memainkan peran badan (res ekstensa).

Dalam kesangsian metodis (Discours de la method) Descartes meragukan sebagian besar pengetahuan tradisional yang berangkat dari pengelaman indrawi. Ia mengafirmasi secara tegas bahwa dimana menurutnya pengetahuan dari ranah ini seringkali bisa menipu. Kita bisa menolak pembuktian yang pernah diterima sebagai benar karena aspek keraguan kita bahwa seseorang bisa saja salah dan menyesatkan. Maka dari itu kita harus meragukan sesuatu.  Yang pasti dan benar menurut Descartes adalah mengenai berpikir karena menurutnya bahwa berpikir adalah suatu subtansi yang tidak mungkin dipastikan salah dan keliru. Benar kita dapat menerima sesuatu yang berlaku benar mislanya dalam rumusan 1+1=2,  tetapi seseorang tidak dapat melarang aku untuk berpikir bahwa “kemungkinan terjadi kekuatan mistis lain dapat membawa aku kepada halusinasi bahwa sekelompok bidadari dari langit akan datang menemui aku”.

       Baca Juga : Nikolaus Copernikus

Aku yang berpikir di dalam diri ku adalah suatu keadaan yang pasti sebagai suatu kebenaran yang pasti  dan niscaya tidak dapat diragukan. “Aku berpikir maka aku ada” pada Descartes menunjukan bahwa sebuah prinsip pertama dari filsafat baru dibangun yang digapai Descartes pasca proses kesangsian metodisnya, bahwa sesudah meragukan segala sesuatu, perlu secara niscaya bahwa aku yang sementara meragukan ini adalah juga sesuatu. Bahwa sambil menilik kebenaran mengenai ; Aku berpikir, maka aku ada (Perancis : Je pense, donc je suis) deimkian kokok dan mapan yang kian pasti dan meyakinkan sehingga semua anggapan kaum skeptis yang sangat kasarpun tak akan mempan menggoyakannya, maka aku yakin tanpa takut salah aku menerimanya sebagai prinsip pertama filsafat yang aku cari. Mesti ada asumsi bahwa apakah kepastian ini tak disesatkan kekuatan mistis, meski ada kekuatan yang menipu aku, tetap tak dapat diragukan bahwa aku ada. Maka aku berpikir , maka aku ada mutlak benar setiap kali aku mengungkapkan atau memahaminya dalam akal budi atau pemikiranku.[2]

Konsepsi ini mau mendeskripsikan bahwa Descartes menggagaskan sebuah defenisi dan inspirasi secar baru dan mofified sesudah mempelajari catatan-catatan lain misalnya matematika dan filsafat termasuk filsafat tradisional dari mazhab skolastik dan prinspi keilmuan baru yang dirintis oleh Galillei dan Kopernikan. Setelah memahami aspek yang sudah pasti menyangkut kebenaran-kebenaran di dalam ilmu pengetahun misalnya uraian matematis, Descartes mengkonsepsikan kira-kira apa yang lebih pasti setelah perihal yang telah pasti tersebut. Ia mencapai gagasan ini setelah melewati tahapan akan gugatan kritisnya terhadap filsafat, arimatika,logika,geometri dan aljabar.kritik tersebut dilandasi lantaran selalu terdapat pembaharuan mengenai kebenaran yang termuat di dalam kajian-kajian tersebut, misalkan di dalam kritiknya terhadap filsafat ia mengatakan “akan sangat sulit kita membayangkan betapa aneh dan tak dapat dipercayai bahwa hal yang tak dikatakan oleh-oleh ahli-ahli dan pakar brilian dari abad-abad berlalu, masih saja tak terdapat suatu hal pun yang tak mungkin diperdebatkan lagi, jadi ini mengindikasikan bahwa ada hal-hal yang masih tidak pasti”.[3] Kritik Descartes juga ditemukan di dalam tema-tema pengetahuan lain yang juga menegaskan bahwa berpikir dari rene Descartes mencapai puncak keagungan di dalam rumusan filsafat barunya tersebut.

           Baca Juga : Rasionalisme dan Empirisme : Ide-ide bawaan vs Pengenalan Indrawi

Berpikir dari rene discartes juga berciri bahwa yang digagaskannya bukanlah sebagai teknik atau defenisi terapan mengenai apa itu berpikir melainkan sebuah keadaan berpikir sebagai suatu subtansi yang mencerminkan suatu ens atau ada. Berpikir sebagai suatu ada menunjukan bahwa berpikir itu merupakan hal yang terintegral dengan idea semesta. Oleh karena itu tidaklah dinafikan bahwa Descartes dimasukan ke dalam pemikiran yang dikategorikan beraliran rasionalisme.

Sekian uraian mengenai apa itu berpikir yang disajikan seturut pemikran descartes. Ada banyak karya descartes dalam tinjauan lain seperti matematika yang dikenal debgan sumbuh cartesian. Kiranya coretan ini dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi pembaca sekalian. Jika terdapat hal-hal yang ingin didiskusikan silahkan beri komentar pada kolom komentar.


[1]  Frans Ceunfin, Sejarah Pemikiran Modern (Maumere, STFK ledalero, 2003) hal. 70

[2] ibid halam 76

[3] ibid halam 72

By Ardy G

Pernah belajar di bidang Filsafat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Eksplorasi konten lain dari Patadela.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca