woman working in home office
Photo by Ivan Samkov on <a href="https://www.pexels.com/photo/woman-working-in-home-office-4240505/" rel="nofollow">Pexels.com</a>

 

Mengenai Berpikir filosofis tentu banyak mendapat pergumulan pertanyaan dalam benak pikiran kita berkaitan dengan defenisi dan maknanya. Bahkan berkenaan dengan berpikir saja, kita tak sedikit mengerutkan dahi lantaran mencari tahu dan bertanya apa itu berpikir dan mengapa berpikir dapat terjadi dalam pemikiran dan  hidup kita. Sebagai manusia dan makhluk hidup pada umumnya, kita tidak dapat menghindari dan lari dari kenyataan untuk eksis dari berpikir. Karena berpikir telah menjadi bagian yang integral dalam kehidupan manusia, sebagai kodrat yang melekat di dalam manusia itu sendiri. Berpikir merupakan suatu keadaan alamiah dari manusia dimana ia merupakan sesuatu yang kodrati dalam hidup yang melekat dengan kehidupan itu sendiri.

Menurut Sulthoniyah, berpikir adalah potensi kapabilitas seseorang dalam mengingat, mempertimbangkan sesuatu serta mengafirmasi keputusan  mengenai suatu masalah yang dihadapi.  Sedangkan dalam diction.id disebutkan bahwa berpikir adalah sebuah keadaan improvinitas dari aktus kerja otak untuk mencerna dan menguraikan sesuatu obyek tertentu yang berkaitan dengan aktifitas atau proses mental. Nah ini beberapa uraian mengenai defenisi dari apa itu berpikir. Tentu kita semua pasti dapat mengalami secara langsung dan nyata tentang apa itu berpikir karena berpikir adalah sesuatu yang tidak bisa kita lepas pisahkan dari proses hidup kita sehari-hari. Berpikir adalah sesuatu aktus alamiah yang terintegrasi dari persona manusia itu sendiri.

Setelah membahas tentang apa itu berpikir, sekarang kita akan menguraikan  tentang apa itu berpikir filosofis. Tentu frase ini tidak hanya berhenti pada berpikir saja akan tetapi berpikir yang bagaiman dan seperti apa. Berpikir filosofis adalah suatu prinsipil filsafatis yang berkaitan dengan idealistis akan arah pemikiran seseorang dibangun. Suatu gerakan berpikir yang memiliki seni atau estetis dan gaya atau mekanisme yang lebih rapi dan sistematis yang bermuara pada rasionalitas kognisi.

Berpikir filosofis adalah sebuah proses berpikir guna memahami secara radikal dan kompresif akan hakaikat dari kenyataan dalam rangka menemukan kebenaran alami sejati, yang berbeda dengan berpikir ilmiah, berpikir ilmiah adalah  berpikir yang menggunakan hasil observasi penelitian ilmiah sebagai acuan untuk menguji hipotesis, maka dalam berpikir filosofis sang pemikir tidak lagi tergantung pada hasil penelitian ilmiah.

Baca Juga : Benarkah Filsafat itu sulit ?

Nah itu adalah sebuah distinksi atau ciri pembeda antara berpikir biasa dan berpikir filosofis. Berpikir filosofis selalu mengandalkan kaidah filsafatis artinya mempumyai dasar atu rujukan pandangan yang kuat dan rensposibiliti. Dalam fisafat terdapat tiga cara berpikir  filosof yakni rasional yaang berdasarkan pada kaidah berpikir yang benar dan logis, komprehensif, yakni berpikir tentang sesuatu dari berbagai sudut pandang ( menyeluruh) dan Radikal artinya berpikir secara radix atau mendalam atau berpikir secara epistemis  yakni menggali sampai ke dasar asalnya.

Nah ini gan, sebuah analisis dan uraian singkat tentang apa itu berpikir filosofis. Berpikir filosofis dangat benefist apabila kita ingin mengenal dan mendalami tentang filsaf atu masuk dalam alam pemikiran filsafat. Kita akan jumpa dalam edisi atau topik lainnya.

Umumnya berpikir filosofis adalah sebuah gaya pemikiran ala filsafatis yang melihat dan menilai sesuatu dengan kritis dan menyeluruh. Berpikir filosofis bermaksud untuk menelaah sesuatu objek yang mau dibicarakan harus benar- benar disensor dari berbgai telaah atau sudut pandang agar apa yang menjadi obyek perbincangan tidak ambigu dan rancu. Melihat obyek sesuatu bukan hanya sebagai sesuatu itu sendiri tetapi mempertimbangkan aspek apa yang mengitari dan melatarinya. Gaya berpikir seperti inilah yang dinamakan dengan berpikir filosofis.

Ketahui bahwa berpikir filosofis adalah khazanah dari filsafatis dan dalan praksis tak sedikit yang memberikan sedikit keluhan karena dianggap idealis dan ankongkrit. Selalu berusaha untuk meluas terhadap dimensional yang lebih kompleks dari gaya pemikiran filosofis dianggap terpaku pada batasan-batasan defenisi yang akhirnya kembali menemukan kerumitan dalam memutuskan serta memberikan penilaian defenitif yang tegas.

By Ardy G

Pernah belajar di bidang Filsafat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Eksplorasi konten lain dari Patadela.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca