David hume merupakan salah satu tokoh empirisme inggris yang menggagaskan secara radikal bahwa pengetahuan dapat dicapai melalui pengelaman atau data-data indrawi. Ia muncul bersama dengan Locke dan Berkeley.  Ia lahir pada 7 Mei 1711 di Edinburgh, Skotlandia,Inggris dari keluarga aristoktat di daerah Skotlandia utara. Meminati studi Klasik saat perkuliahannya di Universitas Edinburgh serta selanjutnya secara otodidak mempelajari filsafat dan kesustraan,[1] meski sebelumnya sempat  dianjurkan untuk mengambil studi hukum oleh ibunya.

walaupun sempat meninggalakn bangku studinya sebagai proses formal namun ia memilih giat melakukan studi secara mandiri akan persoalan-persoalan filosofis dan pengetahuan umum. Penyelamannya terhadap persoalan filsafat membuatnya optimis bahwa kelak ia akan menemukan sebuah cara berpikir baru ( sebuah pemikiran yang universal dan komprehensif). Karya-karyanya dapat kita temukan dalam buku-bukunya seperti A treatise of Human Nature (734-1737- terbit dalam tiga volume),  Of Morals (1739) Essays, Moral and Political (1741), Philosophical Essay concerning Human Understanding(1748), The History of Great Britain 4 Jilid (1754-1762) dan Four Disserttions (1757).[2] Ia juga merupakan seorang pemikir yang meminati akan isu-isu agama yang mana persoalan ini merupaka isu-isu yang lagi genjar dibicarakan dalam konteks pencerahan.[3] Karya-karya dan minat akademisnya lebih merupakan kompulasi dari sebuah pergumulan dan proses penyelidikan serta pencaritahuan yang dilakukan secara mandiri olehnya.

Berkaitan dengan pertempuran filosofisnya, Hume sangat diwarnai akan respons kritiknya terhadap dogma-dogma gereja katolik yang lagi mewarnai sekotoral kehidupan saat itu. Ide-ide metafisis sangat ditolak olehnya dan ia ingin membersihkan persoalan metafisis dari metode filsafatnya, dan hal inilah yang memperlihatkan aspek radikalistis empirsme Hume. Ia menyerang anggapan-anggapan di dalam tradisi katolik dan denominasi lain yang memperlihatkkan dunia merupakan kausalitas dari sebab-sebab tertinggi (deisme) dan meyakini bahwa Allah membiarkan alam semesta berjalan dalam hukum mekanistisnya sendiri dan tanpa harus bergantung pada campur tangannya.

Baca Juga : Mengenal Rasionalisme dan Empirisme : Ide-ide bawaan Vs Pengetahuan Indrawi

Bersumber pada catatan Wikipedia.org, basis pemikiran empirisme dari Hume adalah sebuah proposisi bahwa tiap pengelamanya memliki persepsi. Ia mengafirmasi bahwa serangkaian kesan merupakan pembentuk dari pemikiran dan pengelaman.[4] Kejadian dalam realitas akhirnya menyatu dengan ide dalam pemikiran yang pada akhirnya membentuk pengetahuan manusia. Dan orang perlu mengandalkan dan mengumpulkan tanda-tanda di dalam kejadian realitas sebagai dasar epistemology atau pengetahuan dan bukan hanya bergantung pada rasionalisem yang bersifat takhayul yang probabilitas terhadap ambiguitas dan ketidak pastian. Inilah sebuah telaah baru dan horizon baru dari pemikiran David Hume.

Syarat untuk mencapai pengetahuan adalah tidak lain dan tidak bukan dengan melakukan pengamatan yang sebanyak-banyaknya. Orang sebelum melakukan penegasan akan konsep-konsep yang umum dan transenden maka ia harus memulai dari bukti-bukti pengelaman yang cukup dan memadai. Oleh karena itu ia mendukung gagasan metode induktif sebagai penentuan akan pengetahuan. Selain itu ia mengafirmasi bahwa sumber pengetahuan hanya ada satu yakni berupa kesan dan indra. Kemudian tentang persepsi, Hume membedakan antara kesan-kesan dan ide-ide. Di antara keduanya Hume hanya memberikan dua perbedaan : Yang pertama menyangkut kekuatan, yaitu kehidupan dengan mana mereka hadir dalam pikiran kita. Yang kedua, menyangkut keteraturan dan urutan temporal dengan mana mereka hadir. [5]


[1] https://wikipwedia.org/wiki/david hume/ diakses pada 15 Januari 2024 Pukul 19.00 WITA

[2] F.Budi Hadirman, Pemikiran Modern : Dari Machiavelli sampai Nietzche, (Yogyakarta : Penerbit Kanisius, 2019),hal. 85

[3] ibid

[4]  Wikipedia.org/wiki/David Hume/,Op.Cit

[5] Frans Ceunfin, Sejarah Pemikiran Modern (Mn) (Maumere, STFK Ledalero, 2003) hal. 155

By Ardy G

Pernah belajar di bidang Filsafat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Eksplorasi konten lain dari Patadela.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca