Dionesius dari Areopagos juga menorehkan namanya sebagai salah satu pembela iman kristiani yang cukup termasyur bersamaan dengan apoleget lain semisal Aurelius Agustinus dan Tertuallianus. Kisahnya menjadi seorang apologet juga dipengaruhi berkat kothbah agung rasul Paulus di Areopagus –Tetapi beberapa orang laki-laki menggabungkan diri dengan dia dan menjadi percaya, di antaranya juga Dionisius, anggota majelis Areopagus, c  dan seorang perempuan bernama Damaris, dan juga orang-orang lain bersama-sama dengan merek-.[1]– Banyak diduga bahwa nama Dionesius bersifat menyamar saja oleh karena itu segala karyanya disebut sebagai Pseudo Dionysios Areopagita. Diketahui bahwa karyanya yang popular pada abad ke-6 ini termuat di dalam 4 buku dan 10 surat yang didalamnya bersinggungan dengan nama Dionesius dari Areopagos ini.

Dionesius Dari Areopagos
Dionesius Areopagita by Wikipedia.org

Karya dari Dionesius ini terbilang mirip dengan konsep Neoplatonisme yang kemudian dinarasikan kembali menjadi sebuah teologi kristiani. Bahwa konsepsi emanasi Plotinus tiadak dapat dibantahkan yang dijadikan sebagai suatu rujukan teologisnya. Sama halnya dengan perihal sumber pertama (aktus purus) di dalam prinsip emanasi sebagai prinsip yang transenden, Dionesius juga membahasakan bahwa Allah adalah asal segala yang ada yang mana keadaannya transenden dan mutlak, sehingga kita tidak mungkin dapat memikirkan tentangNya dengan cara yang benar dan dapat memberikanNya dengan sebutan yang pasti dan tepat.[2] Hal ini mengafirmasi eksitensi manusia yang telah semakin jauh dari hakaikat keilahian untuk memahami wujud keilahian. Namun Dionesius dari Areopagus akhirnya juga menawarkan tentang tiga cara sebagai jalan untuk kembali kepadanya sebagaimana pula untuk mengatasi problematis eksistensial manusia yang mana dasar pemikiran ini memiliki ekuivalensi dengan prinsip remanasi. Adapun tiga jalan sebagai percobaan tersebut adalah sebagai berikut:[3]

  1. Orang dapat secara positif menyebutkan segala hal yang baik yang terdapat di dalam jagat raya ini untuk Allah. Segala hal yang terbilang baik mengindikasikan Allah.
  2. Orang dapat menyangkal, bahwa segala yang baik yang ada pada Allah  berada dengan cara yang sama seperti adanya pada segala sesuatu  yang berada di dalam jagat raya ini. Allah juga memanifestasikan akan esensinya di dalam atirbut jagat raya.
  3. Orang dapat meneguhkan, bahwa segala kesempurnaan ada pula Allah , dengan cara yang tidak terhingga, melebihi segala kesempurnaan makhluk, sehingga Allah dengan cara yang tidak dapat dimengerti melebihi segala makhluk. Jalan untuk terarah kembali kepada Allah melalui jalan pikiran ini akan membawa hidup menjadi penuh arti.

Baca Juga : Tentang  Neoplatonisme

Tentang tawaran akan jalan kembali ini adalah sebuah keadaan yang dikembalikan kepada aspek kesadaran manusia untuk menentukan arah pikiran dan tindakannya sebagai makhluk yang berpredikat bebas. Segala macam pilihanya adalah bentuk pertanggungjawaban akan keadaan nuraninya yang selalu dilimpahkan kesadaran akal, apakah manusia selalu memilih untuk kembali ke dalam penyatuan dengan yang ilahi dalam hal ini Allah ataukah memilih untuk selalu berada di dalam keterbatasan dan kekeliruannya adalah sebuah pilihannya. Apakah manusia dapat melepaskan dirinya dari ikatan duniawi adalah kebebasan manusia untuk menentukanya. Dionesius sendiri pun menekankan tentang aspek kehendak bebas manusia. Ia pun menolak gagasan tentang perpindahan jiwa, dan penyamaan antara tubuh dan dosa. Tubuh pada dirinya bukanlah dosa menurutnya dan kejahatan ada bilamana tiada kebaikan.

Dari gagasan-gagasan di atas disiratkan bahwa Dionesius membangun pemahaman teologi lewat kerangka filosofis karena ia menyinggung tentang kosmos yang korelatif dengan gagasan Allah yang diimani di dalam kitab suci. Gagasan kosmos bukanlah aspek pengetahuan filosofis yang harus terpisah sebagai ranah akal semata melainkan dihantar sebagai sesuatu yang memiliki keterkaitan dengan aspek keberadaan yang tertinggi atau transenden yang berada di balik sebagai pengatur yang sangat sempurna yang dinamakan sebagai Allah. Disini pulalah letak ekuivalensi antara filsafat yunani dan teologi kristiani yang menjembatani antara pendekatan pemikiran akali dengan iman atas dasar wahyu ilahi. Dan jika kita ,merujuk pada kontek paulus di Areopagus, Dionesius pun demikian. Jika paulus memperkenal Allah yang tidak dikenal dalam hal ini konsep Allah yang baru sama sekali sesuai konteks orang- orang Athena pada pertemuan Areopagus sebuah pengadilan tinggi athena, maka Dionesius juga berusaha memperkenalkan konsep Allh yang bersifat berbeda yang artinya datang dari sudut pandang berbeda dengan secara akali ke dalam kesatuan iman kristiani-Saat aku berjalan berkeliling dan melihat dengan cermat objek pemujaanmu, aku bahkan menemukan sebuah altar dengan tulisan ini: KEPADA TUHAN YANG TIDAK DIKENAL. Jadi, kamu tidak tahu apa yang kamu sembah – dan inilah yang akan aku nyatakan kepadamu .”


[1]  Kisah ini kita bisa melihat ceritah Kisah Para Rasul 17:34

[2] DR. Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 1, (Yogyakarta : Penerbit Kanisius, 2016),hal. 83

[3] ibid

By Ardy G

Pernah belajar di bidang Filsafat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Eksplorasi konten lain dari Patadela.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca