multicolored skull decor
Photo by Chait Goli on <a href="https://www.pexels.com/photo/multicolored-skull-decor-1918290/" rel="nofollow">Pexels.com</a>

Pernahkah dalam keseharian anda diperdengarkan dengan sebutan tentang estetika. Kata ini tentu masih  korelatif dengan istilah estetis. Bagi yang pernah menempuh  pendidkan formal maupun yang aktif dalam organisasi tetentu pastinya tidak asing dengan istilah ini terlebih lagi untuk yang berkiprah dalam bidang seni atau semisalnya. Nah untuk tidak memperpanjang waktu mari kita langsung saja ke pembahasananya guna menguraikan tentang defenisi apa itu estetika. Karena estetika juga merupakan suatu term yang sangat bermanfaat untuk memperkaya khasanah pengetahuan kita sehubungan dengan nilai-nilai di dalam prinsip hidup manusia yang mengedepankan aspek rasa dan kekaguman akan suatu karya dan karsa dari seseorang atau kelompok yang memproduksikannya. Khazanah ini diuraikan melalui konsepsi filosofis.

Estetika sendiri adalah cabang filsafat yang mempersoalkan seni (art) dan keindahan (beauty). Jadi aspek-aspek yang dinilai indah oleh indra masuk dalam kategori estetika begitupun apa pun yang dipandang bagus dan bernilai dalam penalaran masuk juga dalam konsep seni ini.  Untuk istilah estetis sendiri sebenarnya berasal dari bahasa Yunani, yakni aesthesis yang berarti pencerapan indrawi, pemahaman intelektual (intelectual understanding), atau bisa juga diartikan sebagai pengamatan spiritual. Lalu istilah art atau seni berasal dari kata latiin yakni ars yang berarti seni, keterampilan, ilmu atau kecakapan. Bahkan sejak zaman Yunani purba, estetika filsafati sering disebut dengan berbagai nama, seperti filsafat seni, (philosophy of art), filsafat keindahan (philosophy of beauty), filsafat cita rasa (philosophy of taste) dan filsafat kritisisme (philosophy of criticism).  Namun istilah istilah tersebut telah digeserkan oleh istilah estetika sajak abad XVIII. [1]

Dan perlu juga diketahui bahwa orang yang pertama kali meperkenalkan Estetika adalah Alexander Gottleb Baumgarten seorang filsuf jerman. Istilah ini tertuang dalam karyanya yang berjudul Meditationes philosophicae de nonullis ad poema pertinentibus (1735). Terjemahan bahasa inggrisnya adalah Reflection  on Poetry (1954). Dia pun lanjut mengembangkan filsafat estetika yang didefinisikannya sebagai ilmu pengetahuan tentang keindahan melaui karya berikutnya yang berjudul aesthetica acromatica (1750- 1758).[2]

Baca juga : Apa itu Aksiologi ?

Selain itu estetika juga berpaut dengan persoalan nilai, yang berpaut dengan apa yang dilihat berarti dan berdayaguna serta tidaknya bagi seseorang. Jika seseorang  memberikan putusan bahwa  sesuatu tidak indah baginya berati sesuatu tersebut tidak estetis baginya.  Keindahan juga bukan hanya soal rasa namun harus berdasarkan kualitas dan intensitas tentang suatu subyek. Terdapat harmonisasi misalkan panorama pelangi sehabis hujan yang sangat elegan atau adanya keselarasan di dalam pembentukan subyek yang menampakan keindahan.

Untuk estetika sendiri dibagi menjadi dua bagian  yakni estetika deskriptif dan estetika normatif. Estetika deskriptif menguraikan dan melukiskan fenomena-fenomena pengeaman keindahan.esteika normatif mempersoalkan dan menyelidiki hakaikat dasar, dan ukuran pengelaman keindahan. Selain itu ada juga yang membagi ke dalam filsafat seni dan filsafat keindahan dimana filsafat seni mempersoalkan status ontologis dari karya-karya seni dan mempertanyakan pengetahuan apakah yang dihasilkan oleh seni serta apakah yang dapat diberikan oleh seni untuk menghubungkan manusia dan realitas.[3] Hal ini menegaskan kembali tentang defenisi estetis yang sebagai proses pemahaman intelektual dalam kategori seni. Kita dapat mengamatinya di dalam keberadaan di dalam kosmos untuk menyangsikan unsur-unsur seni yang sudah termaktub dengan obyek-obyek natural.

Pemahaman intelektual dalam kategori seni juga ditegaskan oleh Immanuel Kant yang menganggap bahwa kesadaran estetis sebagai sesuatu unsur yang penting dalam pengelaman manusia pada umumnya. Senada denagan Hume Kant berpendapat bahwa keindahan itu merupakan penilaian estetis yang semata-mata subyektif. Kita dapat menemukan penegasan ini di dalam karya yang berjudul critique of judgment, ia mengatakan bahwa pertimbangan estetis  (aesthetic judgment) memberikan focus yang amat dibutuhkan untuk menjembatani segi-segi teori dan praktik dari sifat dasar manusia.[4] Terdapat semacam proses mental dalam pikiran manusia yang memutuskan bahwa sesuatu obyek tertentu dikatakan estetis atau tidak. Proses pemahaman intelektual diperankan dalam proses ini. Maka dari itu selain dari susunan atau kualitas dari obyek estetis namun dibutuhkan juga subyek yang mengamatinya dalam fungsi memberikan keputusan atau pertimbangan (judgment) tentang obyek estetis tersebut.


[1]  Zaprulkhan, Filsafat Ilmu, Sebuah Analisis Kontemporer, (Depok, Rajawali Pers,2021), hal.99

[2]  Ibid, hal. 100

[3] ibid

[4] Jan hendrik Raper, Pengantar Filsafat, (Yogyakarta : Kaanisius, 1966) hal. 69

By Ardy G

Pernah belajar di bidang Filsafat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Eksplorasi konten lain dari Patadela.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca