eiffel tower in paris
Photo by Kelly on <a href="https://www.pexels.com/photo/eiffel-tower-in-paris-19528506/" rel="nofollow">Pexels.com</a>

Bagi yang berminat untuk berliterasi dengan pemikiran Prancis serta filsuf-filsuf nya yang besar ada baiknya juga harus mengetahui bagaimana posisi filsafat dalam hidup intelektual orang Prancis, teristimewa dalam system pendidikan di sana, sembari juga melihat bagaimana lembaga pendidkan di sana  yang mana harus diketahui bahwa ternyata filsafat sangat memainkan peranan penting terutama dalam model tradisional. Maka dari itu adalah sesuatu yang sangat perlu juga  untuk mengerti situasi filsafat Prancis Modern.

Dibanding dengan Negara-negara Barat lainnya, salah satu hal yang mencolok dalam system pendidikan Prancis ialah bahwa peranan filsafat ternyata tidak terbatas pada koridor perguruan tinggi saja, akan tetapi juga diterapkan pada taraf sekolah menengah. Sebuah keadaan yang mana telah menjadi tradisi di Prancis sejak Victor Cousin (1792-1867), seorang professor filsafat di Universitas Sorbone, mendapat mandate menjadi menteri pendidikan. Namun keadaan tradisi itu sedang mengalami perubahan sebagai akibat dari pembaharuan sistem pendidikan Prancis di mana mata pelajaran seperti filsafat, sastra dan sejarah semakin terdesak oleh matematika dan ilmu alam, sedangkan di pihak lain di Negara-negara jerman dan Belanda-juga sebagai akibat pembaruan sitem pendidikan- berbalik mulai dibuka kemungkinan untuk mencantunkan filsafat dalam kurikulum sekolah menengah, meskipun belum dapat dibandingkan dengan tradisi yang begitu kuat di Prancis.  Sebagaiman dapat dimengerti, karena peranannya di sekolah menengah begitu banyak diminati, maka filsafat mendapat peluang dan banyak peminat pula di universitas, karena ada perarelitasnya di universitas diharapkan akan menghasilkan banyak guru yang sanggup mengajar filsafat di tingkat sekolah menengah. Hal ini dapat kita temukan dalam riwayat filsuf-filsuf prancis yang pada umumnya mengawali karirnya sebagai guru filsafat di sekolah menengah baik itu di daerah maupun di sekolah elit di Paris, sambil menunggu proses pengangkatan menjadi dosen universitas.

Dalam system pendidikan Prancis, filsafat diajarkan di beberapa seksi dari lycee, tipe sekolah menengah yang mempersiapkan siswa untuk masuk perguruan tinggi, khususnya seksi A yang mempunyai spesialisasi di bidang sastra dan filsafat. Pengajaran filsafat itu bisa mengambil porsi sampai delapan jam pelajaran seminggu. Sejak pembaharuan system pendidikan yang berlangsung di Prancis dalam dasawarsa 70-an, kedudukan filsafat di sekolah menegah tidak aman lagi. Mula-mula Kementerian Pendidkan cenderung mengurangi jam pelajaran filsafat secara drastis. Rencana itu menimbulkan diskusi dan perdebatan yang cukup hebat. Ada nama kelompok Greph ( groupe de recherché sur l’enseignment de philosophie) sebuah kelompok yang bergerak dalam penelitian tentang pengajaran filsafat  pimpinan Jacques Derrida sangat berperan penting dalam diskusi akan hal ini.

Derrida dalam Filsafat dalam sistem pendidikan prancis
Jacques Derrida by wikipedia.org

Berlawanan dengan kecenderungan untuk mengurangi jam pelajaran filsafat, Greph mendesak untuk memperluas pengajaran filsafat di sekolah menengah dan tidak dalam kelas terakhir saja, sebagaimana yang berlangsung dalam system tradisional. Membatasi pengajaran filsafat pada murid-murid yang berumur 17 atau 18 tahun , menurut mereka, didasarkan pada prasangka-prasangka idealistis. Mereka mengadakan eksperimen di mana filsafat sudah bisa diberikan kepada murid-murid berumur 11-13 tahun. Mereka pun juga menuduh pemerintah Prancis bahwa sikap negative terhadap filsafat itu berasal dari ketakutan, karena filsafat dianggap subversive dengan membina anak-anak menjadi orang yang kritis dan mungkin akan berhaluan kiri.

Baca juga : Periodi Sejarah Pencerahan di Eropa (Aufklarűng)

Salah satu buku yang diterbitkan oleh Greph berjudul qiu a peur de la philosophie ? ( Siapakah yang takut akan filsafat?) judul yang tentu diambil dari sebuah karya drama terkenal dalam kesustraan dunia modern. Hasil aksi mereka dan protes-protes dari pihak lain adalah banwa menteri pendidikan meninjau kembali rancangan pembaruan dan tetap mempertahankan filsafat dalam kurikulum lycee, biarpun hanya untuk tahun terakhir. Namun, dalam perkembangan selanjutnya, masa depan filsafat dalam system pendidikan di Prancis, baik pada taraf pendidkan menengah maupun pendidikan tinggi , ternyata tetap rapuh dan tidak menentu.

Protes- protes terhadap keadaan itu memuncak dalam appel (imbauan) yang dikeluarkan oleh dua puluh filsuf kenamaan. Isi imbauan itu berupa undangan untuk mengadakan rapat besar yang akan membicarakan permasalahan filsafat dalam dunia pendidikan di Prancis dewasa ini. Rapat di mana Greph memegang peranan dominan yang berlangsung selama dua hari pada Juni 1979 dan mengumpulkan tidak kurang dari 1200 peserta  yang mendengarkan dua filsuf kawakan, Paul Ricoeur dan Vladmir Jan- kelevitch, sebagai penceramah utama di samping membicarakan rupa-rupa laporan dan merumuskan asal-usul serta tuntutan. Namun sama halnya dengan Negara lain, di Perancis pun pembaruan system pendidikan belum mencapai suatu taraf stabil dan dengan itu juga peranan  filsafat untuk masa mendatang belum menemukan titik terang.

Mengenai tentang stuktur dan cara menyelenggarakan studi di perguruan tinggi, misalkan di universitas Prancis diketahui meliputi tiga siklus. Siklus pertama terdiri dari dua tahun dan diakhiri dengan diploma, yang dikenal dengan singkatan Deug,( diploma d’stude universitares generals) siklus kedua terdiri dari dua tahun pula, yaitu lincence (tahun pertama) dan maitrise (tahun kedua), yang diakhiri dengan menyerahkan skripsi. Siklus ketiga terdiri dari sejumlah seminar dan terutama tesis doctor. Gelar doctor ini perlu dibedakan dari gelar “doctor negara” yang diperoleh berdasarkan tesis yang disebut these de  doctorat d’etat es lettres ( tesis doctor Negara dalam sastra), yang sebenarnya terdiri dari dua tesis, yaitu grande these dan petite these. Karena persyaratannya begitu berat, maka doctor Negara jarang diberikan dibandingkan dengan doctorat siklus ketiga.

Ijazah yang diperoleh setelah menyelesaikan siklus pertama dan kedua belum cukup untuk menjadi guru tetap. Untuk itu perlu dikuti dulu ujian (concours, berarti ujian seleksi atau ujian dengan system gugur) yang setiap tahun diselnggarakanoleh komisi yang sebagian besar keanggotaannya ditentukan oleh menteri pendidikan. Untuk siklus kedua ujian ini dapat memberikan aggregation de philosophie (izin mengajar filsafat di sekolah menengah). Jatah setiap orang yang diterima tiap tahun tentunya ditentukan oleh menteri pendidikan. Karena ujian ini memakai sitem gugur, menteri dapat meneyesuaikan jatah itu dengan kebutuhan dunia pendidikan, sehingga jumlah yang lulus selalu sedikit sekali. Untuk  aggregation de philosophie  pada 1987 misalnya, hanya diterima 30 orang dari 2000 peserta, ini berarti hanya 1,5 %.  Akibatnya, seluruh pengajaran sastra dan filsafat di Prancis ditujukan pada ujian Negara itu. Oleh panitia yang menyelenggarakn ujian  setiap tahun ditentukan suatu tema khusus (misalnya tahun 1977 : teori dan praksis) dan filsuf- filsuf klasik yang harus dikomentari (untuk tahun 1978 : Aristoteles, Leibniz, san Schopenhaur).

Pengangkatan dosen di universitas terjadi juga menurut procedural sentralisitis. Untuk menjadi dosen, nama seseorang nama seseorang harus dicantumkan  dulu daftar calon yang disusun oleh sebuah komisi yang sebagian ditentukan oleh menteri pendidikan dan sebagian lagi dipilh oelh dosen-dosen universitas  bidang mata kuliah yang bersangkutan. Umumnya mereka yang meraih doctor negara akan diterima pada daftar tersebut, tetapi doctor Negara bukanlah syarat mutlak dan sebaliknya merekan yang memiliki gelar doctor Negara tidak otomastis dipilih ( salah satu kekecualian yang terkenal : Louis Althusser yang memiliki gelar doktorat Negara tetapi pernah diangkat sebagai dosen atau professor di universitas ; tentu karena dinilai terlalu kiri. Namun, ia mendapat kedudukan bagus sebagai dosen pada ecole normale superiure).

Seperti hal begitu dengan banyak sector lain di Prancis, pendidikan perguruan tinggi pun terutama terkosentrasi di Paris. Karena itu, hamper semua filsuf besar Prancis mengajar di Paris atau sesuadah beberapa waktu  akan pindah ke Paris. Sesudah perubahan- perubahan yang antara lain diakibatkan oleh Pemberontkan  Mahasiswa pada 1968, universitas-universitas di Paris direorganisasikan menjadi tiga belas universitas : Universitas  Paris I sampai XII. Universitas I dan IV misalnya bermukim dalam gedung-gedung Sorbonne yang tua dan termasyur. Di bidang filsafat kedua universitas yang terakhir ini melanjutkan tradisi Sorbonne lama : di sana terutama diperhatikan sejarah filsafat dan komentar atas filsuf-filsuf  klasik yang besar. Untuk filsafat penting juga Universitas Paris X yang bertempat di Nanterre. Kampus universitas yang paling progresif adalah Universitas Paris VIII di Vincennes yang diberikan status eksperimental sesudah kericuhan sekitar “pemberontakan mahasiswa” pada 1968 (J.F Lyotard menjadi professor filsafat di sini).  Universitas yang terkenal berhaluan kiri bersifat sementara dan – sesuai dengan rencana semuala – sekarang sudah meninggalkan tempatnya yang sementara di tengah huta Vincennes dan dipindahkan ke Saint Denis di Sebelah Utara Paris.

Institute yang berkaitan dengan filsafat adalah ecole normale superrieure. Sekolah ini berasal dari periode sesudah Revolusi Prancis yang setiap tahun menerima sejumlah mahasiswa secara terbatas berdasarkan suatu ujian seleksi (concours) yang amat berat. Beberapa lycee terkemuka mempunyai kelas khusus- namanya adalah khagne- untuk mempersiapkan para murid mengikuti ujian seleksi yang memungkinkan mereka masuk La grandes ecoles ( Sekolah-sekolah besar seperti Ecole Normale Superieure). Mereka yang diteima dibiayai oleh Negara dan mendapat pengajaran di bawah pimpinan suatu staf tersendiri. Sekolah ini sendiri tidak mengeluarkan ijazah , tetapi hanya mempersiapkan para mahasiswa untuk menempuh ujian di universitas atau ujian Negara untuk memperoleh aggregation de philosophie  dan lain sebagainya. Banyak sekali filsuf dan ilmuwan Prancis pernah berjalan di ecole normale superrieure sehingga dianggap sebagai suatu kehormatan besar sekali menjadi murid di sekolah ternama ini.

Sebuah intitut akademis lain di Paris yang tentu tidak boleh dilupakan adalah college de france, yang konon didirikan oleh para raja Prancis pada 1530 untuk mengurangi pengaruh Universitas Sorbonne. Di sini diberikan kuliah –kuliah oleh ahli-ahli yang dinilai paling unggul di bidang ilmiah yang bersangkutan. Institut ini tidak mengeluarkan ijazah dan tidak mempersiapkan ujian di tempat lain. Hanya diberikan kuliah tentang spesialisasi professor yang bersangkutan dan kuliah-kuliah ini terbuka untuk umum. Jika seorang professor meninggal atau mencapai umur pension penggantinya dipilih oleh pihak universitas sendiri. Intitut terkemuka ini mengenal dua profesorat untuk filsafat. H. Bergson, M. Marleau-Ponty dan M. Faulcault termasuk filsuf Prancis yang pernah memegang jabatan bergensi ini.

Demikianlah perkenalan tentang bagaimana kedudukan filsafat dalam sitem pendidikan Prancis. Semoga informasi ini bermanfaat bagi sekalian yang membacanya.[1]


[1]  Materi ini diambil dari buku karya K. Bertens berjudul Filsafat Barat Kontemporer jilid II Prancis hal 1-7 Penerbit Kompas Gramedia.

By Ardy G

Pernah belajar di bidang Filsafat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Eksplorasi konten lain dari Patadela.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca