Kali ini akan dibahas sebuah tema yang bergutat antara filsafat dan Ilmu pengetahuan. Bahwa tak pelak kita telah memasuki dekade kedua puluh dua tahun masehi. Sebuah era yang diwarnai oleh macam-macam tanda dan peristiwa. Semuanya bersifat dinamis sebagai bentuk pearlihan dari massa dan zaman yang patut semua orang harus menerimanya. Kita dihadapkan oleh berbagai peristiwa yang betul-betul menohok seperti kasus Covid -19 dan Perang Ukraina- Rusia. Sebuah keadaan dimana manusia dipertanyakan akan suatu makna dan nila dari apa itu kehidupan dan proses human sosial di dalam planet ini yang mengejar akan visi universalitas sebagai standar moral bersama dalam mereduksi atas bahaya dari keterjebakan manusia di dalam spirit egositas pragmatis nan individualistik.

    Hannah Arendt seorang filsuf Yahudi kelahiran German dalam karyanya yang berjudul The Origin Of Totalitarian memperkenalkan istilah worldlessness yang mau menempatkan suatu kondisi manusia tendesius akan kekilafan dan absurditas dalam mengejar sebuah utopis ketidakpastian dan berakhir dalam sebuah nihilistik misalnya konteks Nazi dan holocaust German. Kemelaratan dan derita tidak bisa dinavikan dalam keagungan sorang Hitler membawa rezim nazi ke puncak prestasi dunia sebagai kekuatan yang dianggap bahaya dari blok sentral. Pengejaran viktory justru membawanya pada sebuah petaka kekalahan dalam rivalitas baersama dunia timur dan barat dalam hal ini Rusia dan Sekutu AS. 

    Potongan potret kekejaman di atas mempertanyakan kembali hakaikat eksistensi kita sebagai manusia mengapa hidup selalu dilepaskan bersama dengan tindakan patologis seperti kejahatan, kemerosotan nilai kemanusiaan dan bahaya eksploitsi.  Konteks Hanah Arendt, gejolak ketidakpastian dunia dalam isu global seperti Covid-19 dan Peperangan serta terorisme, manusia dipertanyakan akan arti ketepatan kesadaran manusia sebagai manusia untuk terhindar dari bahaya politisasi terhadap yang lain.

Kembali kepada tema di atas kita dipertanyakan mengenai relevansi antara filsafat dan ilmu pengetahuan. Tentu Filsafat adalah ilmu pengetahuan itu sendiri dan Ilmu pengetahuan adalah bagian dari filsafat secara historis. Nah, Coba kita lihat ke dalam pembahasan selanjutnya.

    Filsafat adalah suatu kajian ilmu yang sudah berjalan sangat lama dari era yunani klasik embrìo filsafat dirahimi dan melintasi beberapa era dan dekade. Bersifat kritis rasional adalah corak dari filsafat. Dengan akar kata philosophia atau cinta akan kebijaksanaan filsafat diharapkan untuk mampu menetralkan setiap bentuk ekstremisme yang mungkin akan terjadi dan lahir serta membersihkan setiap kesesatan berpikir yang keluar dari jalan pikiran yang logis dan rasional misalnya bahaya primordialisme etnis maupun primordialisme religius yang bisa membahayakan eksistensial kemanusiaan universal. Menjauhkan manusia dari bahaya pertikaian atas rivalitas semu dan obsesi kekuasaan ekpansionistis yang menghancurkan peradaban. Filsafat mendekatkan diri pada yang ada dan melihat semua berada pada partialis kategorial yang punya kasuistik dengan sang ada kesatuan totus atau monisme yang tak bisa dapat terbagikan. Condongan ini menjadi senjata kuat bagi pemikiran sebagai dasar yang tidak bisa digugat agar menjadi otonom terhadap bahaya kepicikan dan spiritual semu.

   Pada masa modern dan terkhususnya era post sekular dan kontemporer ini kita ketahui telah terjadi perubahan dan lompatan perbedaan gaya dan corak hidup dari masa sebelumnya. Semua itu berkat penemuan dan sumbangan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi yang luar biasa sejak era revolusi industri yang telah memoderenkan hampir di segala bidang kehidupan. Akan tetapi dampak positif dalam mempermudahkan manusia ternyata punya implikasi negatif misalnya kemerosotan moral, individualistik, persaingan dan kebencian, seks bebas, sekularisme dan masih banyak dampak negatif lainnya. Era milenial dan disrupsi informasi serta revolusi industri 4.0 telah membawa dan merubah bentuk komunikasi interaksi antar personal menajdi pembentukan jaringan netizen atau komunitas digital. Inilah suatu bentuk pergeseran yang luar biasa. Nah bagaimana kita bisa mengandalkan peran filsafat atas fenomena crusial ini. 

Filsuf postmodernisme dan postsekularisme berkebangsaan Jerman Jurgen Habermas menilai masyarakat postsekular yang merupakan evolusi dari masyarakat sekular kendati telah menghidupi kembali kekuatan- kekutan religiositas di dalam penghayatan iman baik lewat praktik langsung maupun secara simbolis tetap memberi distinksi yang kuat antara yang privat dan yang publik. Agama harus tetap membatasi diri dalam mencegah terjadinya dominasi peran terhadap eksistensi masyarakat di ruang publik. Dengan konvergensi ini agama memberikan peran evaluatif terhadap kemungkinan dari bahaya penyimpangan atas dampak dekadensi moral. Agama yang telah menemukan kembali kekuatan setelah dibelenggu pada dekade sekularisme setidaknya diharapkan menjadi mercusuar diatas segala perasan aleanasi dan keterambangan. Di sinilah secara tidak langsung perkembangan filsafat postsekular turut andil dalam menciptkan stabilitas daripada segala bentuk kekhawatiran terhadap fakta perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan. 

Kita berharap atas segala konflik aktual yang terjadi yakni perihal Rusia dan Ukraina selalu menyertakan tindakan fair dalam bersengketa dimana priyek modernitas dan kecanggihan militerisasi tidak menutupi dan mengacaukan kelunakan sebagai suatu sifat dan cirikhas manusia. Begitupula bahaya resiko seperti isu virus korona yang telah merenggut banyak korban diharapkan tidak terjadi lagi. 

Kejernihan pikiranlah yang mampu membawa manusia dalam kancah kejayaan dalam mengolah diri. Jika terjadi kesepahamam maka tidak akan ada kesalahpahaman.

By Ardy G

Pernah belajar di bidang Filsafat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Eksplorasi konten lain dari Patadela.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca