marble moses sculpture
Photo by Maria Laura Catalogna on <a href="https://www.pexels.com/photo/marble-moses-sculpture-15983299/" rel="nofollow">Pexels.com</a>

Pertanyaan pada judul di atas merupakan sebuah pertanyaan retoris akan peran pengetahuan filsafat yang dikatakan sebagai cinta akan kebijaksaan apakah benar secara mutlak menjadikan seseorang bijaksana. Filsafat dikenal sebagai ilmu tua dan kuno. Filsafat juga diketahui sebagai ibu dari ilmu pengetahuan dimana seluruh bidang kajian ilmu pengetahuan selain filsafat merupakan turunan atau derivative dari ilmu filsafat. Ia adalah sebuah kajian rasional yang pertama sekali muncul untuk mempertanyakan segala sesuatu yang ada di muka bumi ini baik yang tampak secara indrawi maupun aspek yang tidak tampak yang berada diblik yang tampak tersebut.

Mengenai hal untuk  mencapai kebijaksanaan, kembali dipertanyakan apakah benar filsafat dapat menjadi sebagai sarana suksesi agar seseorang dapat mencapai kebijaksanaan ? bukankan kebijaksanaan itu hanya dirujuk pada sesuatu yang lain yang tidak dapat dijangkau oleh pemikiran kita. Dr. K. Bertens dalam bukunya yang berjudul  Sejarah FIlsaat Yunani mengemukakan bahwa Seorang yang mempunyai kebijaksanaan  sebagai milik deenitif sudah melampui kemampuan insani. Orang sedemikian itu tentu telah melampui batas-batas yang ditetapkan untuk nasibnya sebagai makhluk manusia yang syarat akan kerapuhan. Menyandang status kebijaksanaan berarti mencapai sesuatu yang adimanusiawi. Hal ini memiliki equevalensi dengan hybris rasa sombong yang selalu ditakuti dan dihindari oleh orang yunani. Di mana manusia harus menghormati batas-batas yang berlaku bagi status insaninya. Dan karena dia adalah seorang manusia dan bukan dewa ia harus puas dengan mengasihi kebijaksanaan atau cinta akan kebijaksanaan. Walaupun manusia mempunyai obsesi untuk menggapinya secara sempurna namun pengejaran dan tugas itu tidak akan pernah selesai.

     Baca Juga : Benarkah Filsafat Itu Sulit ?

Seperti yang terkandung dalam makna kata Filsafat (Cinta akan Kebijaksanaan), hal ini mau mengatakan bahwa manusia dalam kaitan dengan arti kebijaksanaan hanya mampu menggapainya secara ideal yang mungkin terjadi di dalam pemikiran dan pada saat refleksi sesaat untuk menghendaki diri dalam mencapai kebijaksanaan ini. Namun sebagai makhluk yang rapuh, harus diakui bahwa manusia akan gagal untuk meraihnya. Ia hanya bisa mencapainya lewat mengasihi dan mengaguminya saja.

Namun terlepas dari itu semua, dalam mempelajari filsafat manusia dimampukan untuk mengasah kemampuan budinya untuk memahami hal-hal yang sempurna dan baik. Mencintai kebijaksanaan berarti suatu kemampuan dari kapsitas budi untuk bisa memahami dan mempertimbangkan secara kritis idel-ideal tentang keadilan dan kebajikan yang hakiki dan mendalam. Manusia setidaknya dapat mengasah kebaikan moralitasnya dan disiplin hidup di dalam kesehariannya meskipun selalu berusaha untuk dilakukan melalui latihan disiplin moral secara kontinu. Cinta akan kebijaksanaan juga menarik seseorang mengerti dan memahami hakaikat terdalam dari keberadaan orang lain, mampu terlibat di dalam persoalan-persoalan bersama untuk bisa memberikan hal-hal yang baik bersama pemberian ide-ide yang baik serta solutif.

Di dalam filsafat, sesorang dibawa kedalam ruang diskursus bersama dengan kajian-kajian tentang alam, manusia dan hakaikat hidup.  Dalam konteks ini manusia diberdayakan secara akali untuk bisa memahami tentang hakaikat kosmos dan keberadaan yang mengitarinya. Daya kritis dan rasional diharapkan seseorang yang berfilsafat dapat memecahkan persoalan-persoalan terselubung yang tidak dapat diberdayakan oleh penggapain kajian teknis ilmiah lain. Bagaimana isu-isu teodice yang rumit dan persoalan teologi yang transenden dapat dinarasikan hal ini pasti hanya mampu dibedah dengan epistemis filsafatis.

      Baca Juga : Mengenal Filsaat Tionghoa

Sekian Perkenalan singkat dari saya yang diraikan amat ringan mengenai pertanyaan atau lebih tepatnya mengeni korelasi dari seseorang yang belajar filsafat dengan hal pencapaiannya terhadap kebijaksanaan hidup. Seperti yang sudah digambarkan di atas bahwa kebijaksanaan itu hanya milik sang dewata yang melampui kodrat dari manusia. Di dalam kehidupan praktis tentu amatlah niscaya apabila manusia mampu mencapai hal ini. Manusia hanya mampu mengetahu ideal tentang kebijaksanaan dan kesempurnaan meski ian tidak sempurna. Selain dengan ilsafat, kebijaksanaan telah termuat di dalam apa yang disebutkan dengan istilah natura philosopy yakni suatu pengetahuan yang diperoleh melauli kebajikan-kebajikan alamiah misalnya lewat ajaran-ajaran budaya setempat atau melalui moralitas religious tertentu.  Manusia mungkin tidak seratus persen untuk bijaksana tetapi dianjurkan untuk berusaha mendekatinya karena bukan tidak mungkin karena dalil keterbatasan akhirnya manusia menjadi pasrah dan tidak mau berusaha dan mengejar tentang apa yang baik dan bijaksana. Semoga.

 

By Ardy G

Pernah belajar di bidang Filsafat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Eksplorasi konten lain dari Patadela.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca