Keseluruhan pemikiran Idealisme Jerman akhirnya menemukan gagasan puncaknya dalam filsafat Hegel, yang sebelumnya dirilisnya gagasan dua tokoh pemikir terdahulu yakni Idealisme Fichte dan Schelling.  Filsafat hegel disebut sebagai pemikirian yang paling berpengaruh pada abad-19. Gagasan Marxisme yang belakangan menjadi fenomenal tak mungkin bisa dibayangi jika hegel tidak memperkenalkan filsafatnya. Selain itu, cakupan pemikiran modern sangat dipengaruhi pula oleh basis filsafat ini yang kemudian  akhirnya menjalar pula sampai kepada ranah sosial, sejarah dan hukum. [1] Oleh karena itu kita akan berkenalan dengan salah satau konsepsi tentang Filsafat Sejarah nya yang terbilang sangat masyhur .

Hegel sendiri lahir di kota Stuttgart,Wűrttemberg pada tanggal 27 Agustus 1770, dari sebuah keluarga pegawai negeri sipil.  Dalam usianya 18 tahun, dia menjadi mahasiswa teologi di Tuebingen. Di sana, dia bergabung dengan Schelling  dan seorang penyair Hoelderlin, yang mana    bahwa keduanya masih menaruh simpati pada Revolusi Prancis. Ia menaruh perhatian pada filsafat dan teologi sejak muda, namun para professor kurang bersimpati pada gagasan-gagasan orisinalnya. Setamatnya dari Tűebingen ia mendedikasikan menjadi seorang tutor pada keluarga bangsawan di Bern, Swiss, lalu kemudian bertolak ke Frankfurt.[2] Karya teologisnya selalu bermakna filosofis artinya similaritas dengan filsafat sehingga kita tidak dapat membedakan antara term teologi dan filsafat karena ia menilai filsafat adalah teologi itu sendiri yang berkenaan dengan usaha penyelidikan terhadap Yang Absolut (Allah).

Baca Juga : Mengenal  Idealisme Jerman  : Perjumpaan Terhadap Metafisika Gaya Baru

Konsepsi pemikiran Hegel terlihat bersifat dialektis bersama gagasan transendentalisme Immanuel Kant teristimewa pembedaan antara “fenomena” (proses gejala fisikal yang dapat diperhatikan ole indra manusia) dan “noumena” ( sebuah keadaan yang diam yang tidak dapat dikenal oleh indra tentang sikap hakiki dari sesuatu obyek). Sehingga gagasan tentang Allah (dari dunia noumena) bagi Kant tidak mungkin dikenal oleh manusia karena realitasnya tidak bisa memenuhi syarat yang karena nampak proslogion (syarat-syarat tak lengkap).  Di sisi lain bagi Hegel tentang Yang Absolut atau Roh (der Geist) itu harus dipandang pada dirinya sendiri  dan menurutnya untuk sampai pada dirinya sendiri Roh itu harus menyatakan dirinya (mengalienasikan diri) dalam Alam terlebih dahulu.[3] Dalam artian ini yang absolut tentu menjadi mungkin untuk dikenal oleh pikiran manusia. Selanjutnya  Yang absolut tersebut selalu dalam proses menjadi, semua kenyataan yang Absolut tersebut selalu dalam proses teleologis. Yang absolut selain harus menyatakan dirinya dalam alam dalam proses mengenalkan dirinya sendiri, ia juga dikenal dalam kesadaran manusia karena alam menjadi sesuatu yang memungkinkan kesadaran manusia.[4] Lebih lanjut Pemikiran metafisis ini hendak mematahkan pandangan kaum empiris seperti yang dikemukakan  John Locke, Barkeley dan David Hume. Konsepnya tentang yang absolut menembusi batasan-batasan individual dan parsial seperti yang digaungkan oleh kaum empirisis yang melihat bahwa meatfisika adalah sesuatu yang nihil karena tidak dapat menjelaskan basis fundamental filsafat atau epistemology (Pegenalan terhadap realitas). Konsepsi tentang Yang Mutlak atau Yang Absolut  sebagai bentuk yang paling sempurna enjadi ide yang kemudian dkenal dengan ide absolut dapat kita temukan dalam bukunya yang berjudul phenology of mind yang diterbitkan pada tahun 1807.

Baca juga :  Mengenal Imperatif Kategoris Immanuel Kant

Ide absolut yang kita kenal tersebut bukanlah sebagai suatu keadaan statis melainkan selalu dalam proses menjadi sesuatu . Yang absolut atau roh pada dirinya sendiri memanifestasikan dirinya dalam alam selalu bersifat dinamis dalam proses mencapai kensempurnaan. Jalan menuju kesempurnaan harus melewati kenyataan yang bersifat dialektis atau dalam sistem filsafata hegel dikenal dengan dialektika. Dialektika ini dapat dipahami sebagai “The Theory of the Union of opposites”, sesuatu yang berciri paradoksal karena ingin mempersatukan hal-hal yang bertentangan. Konteks praksisnya dapat kita temukan dalam pengelaman keseharian. Ketika diutarakan sebuah pernyataan maka akan ada kemungkinan pertentangan dari sudut pandang lain, kemudian karena tak puas dengan pertentangan tersebut akan ada usaha mendamaikannya dengan sebuah pendapat yang lebih lengkap untuk mencapai sebuah konsesus atau jalan tengah. Adapun rumusan ketiga tahap tersebut dapat diuraikan sebagai berikut, yang pertama adalah sebuah tesis, yang kemudian memunculkan tahap kedua yang disebut dengan antithesis yang mana kemudian keduanya diperdamaikan dengan sebuah sintesis. Dalam sintesis, (pendapat ketiga) tidak hanya terjadi peniadaan, pembatalan dari kedua oposisi karena munculnya sintesis membuat keduanya tidak berlaku, melainikan juga kedua aspek yang berposisi disimpan dan diangkat ke taraf yang lebih tinggi, sebab kebenaran keduanya masih dipertahankan dalam sintesis itu. [5] Sintesis dapat dikenal pula sebagai sebuah usaha dekonstruksi akan dua oposisi binner yang saling bersih tegang ini mengingat kerangka solutif diharapkan tercapai  melalui opsi ini guna mendaptkan sebuah syarat konklusi dan jalan keluar untuk mencapai kesepakatan besama yang rasional. Untuk mencapai sintesis orang harus melewati tahap kontradiksi terlebih dahulu karena kontradiksi merupakan sebuah motor dialektika (jalan menuju kebenaran) oleh karena kontradiksi harus mampu membuat konsep yang bertahan untuk mencapai proses evaluasi. Sintesis adalah sebuah konsep baru yang lebih ideal untuk mendamaikan jalan kontradiksi (advokatis diabolis)[6]

Baca Juga : Mengenal Rasionalisme dan Empirisme : Ide-ide bawaan Vs Pengetahuan Indrawi

Selain dialektika adapun karya lain yang terbilang paling termasyur adalah tentang phenomenologie des Geistes (Fenomenologi Roh). Karya ini mau menjelaskan bagaimana kesadaran manusia itu berkembang  dalam proses dari tahap yang paling rendah ke tahap yang terbilang kompleks dan lengkap, bertolak dari data-data yang minim, sederhana dan serba terbatas menuju proses yang lebih kaya dan sempurna serta rumit, dari yang terbatas menuju kepada yang absolut. Adapun proses ini juga dicapai dalam tiga tahap. Tahap pertama dilukiskan bagaimna obyek-obyek  pengindraan berdiri di luar subyek sehingga menghasilkan kesadaran (Bewusstein). Pada tahap kedua, Hegel melukiskan bagaimana terjadinya kesadaran diri  (selbstbewusstein) dan kesadaran sosial. Pada tahap ketiga, dilukiskan bagaimana kedua bentuk kesadaran itu mencapai sintesis dalam Rasio (Vernunft).[7]  Kesadaran pertama merujuk kepada bentuk pengindraan manusia terhadap obyek-obyek yang lebih khusus yang disebut dengan kepastian indrawi, sebagaiman keadaan dimana ketika saya memperhatiakn sebuah pesawat sedang take of.  Kesadaran kedua merujuk kepada suatu kapasitas bahwa manusia menyadari tentang aspek yang paling terdalam tentang dirinya mulai pemahaman akan hasyrat dirinya sampai pada kesadaran tentang siapakah dirinya dan bagaimana ia harus berada dengan kenyataan sosial disekelilinginya. Bagaimana proses mengenali diri bukan hanya dalam dirinya sendiri melainkan juga dalam diri orang lain. Dan kesadaran ketiga merupakan sebuah sintesis antar dua kesadaran sebelumnya yakni Rasio (vernunft) yang merupakan sebuah sintesis antara kesadaran dan kesadaran diri yang mana pada tahap ini terjadi sebuah pemahaman penuh tentang ide keseluruhan atau yang disebut dengan kesadaran universalitas. Kesadaran ini merupakan tak lain adalah pengejahwentahan Roh sendiri yang sedang sadar diri. Roh absolut memberdayakan pikiran manusia dalam hubungan dengan Ada Universal di dalam universum sebagai suatu kesatuaan monisme yang anparsialis. Kesadaran ini sangat korelasi dengan kesadaran religious untuk mengintegrasikan manusia dengan ada Yang Absolut.

Adapun Karya-karya lain hegel selain yang teruangkan sedianya masih banyak lagi yakni misalkan uraian tentang filsafat sejarah, pemikirannya tentang Negara, Filsafat alam, Filsafat Roh dan konsepsi tentang Hegelian sayap kiri dan kanan.  Keseluruhan corak filsafat hegel bersifat teologis dan metafisis yang kental melukiskan khazanah pemikiran seorang pemikir yang berlatarbelakang belajar teologi. Gagasan- gagasannya mengilhami pemikir-pemikir sesudahnya seperti F.H Bradley, Sartre, Hans Kung, Bruno Bauer, Max Stirner dan Karl Marx. Konsep Negara Integralistiknya juga memengaruhi Soepomo seorang founding fathers kita ketika bergumul dengan bentuk ideology Negara Indonesia pada masa awal persiapan kemerdekaan dulu.  Fenomena Hegelianisme pun besar sekali muncul pengaruhnya sewaktu dan sesudah Hegel. Filsafat hegel akhirnya diajarkan di berbagai universitas di Jerman dan Eropa yang sangat berpengaruh dalam bidang teologi. Sesudah ia meninggal pecahlah interpretasi filsafat di antara pengikutnya dan terjadilah perbedaan posisi antara Hegelian sayanp kanan yang menerima tafsiran pertama yakni menegasakan teisme dan Hegelian sayap kiri akhirnya bertentangan dan bersifat panteisme yang akhirnya lebih radikal masuk pada paham naturalism, materialism dan akhirnya ateisme. Gagasan ateisme sesudahnya yang paling radikal dikemukakan oleh Feuerbach dan Karl Marx.


[1] Afid burhanuddin, Dialektika Hegel;  Filsafat Seni Lanjut, 2021

[2] F.Budi Hadirman, Pemikiran Modeern : Dari Machiavelli sampai Nietzche, (Yogyakarta : Penerbit Kanisius, 2019),hal. 167

[3] Ibid, 172

[4] ibid

[5] Ibid, 176

[6] https ://Wikipedia. org/hegel diakses pada 9 januari 2024

[7] F.Budi Hadirman, Op. Cit, Pemikiran Modeern

By Ardy G

Pernah belajar di bidang Filsafat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Eksplorasi konten lain dari Patadela.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca