Patristik

Filsafat patristik sebenarnya ingin merujuk kepada entitas pemikiran yang digagaskan oleh Bapa-Bapa gereja. Maka dari itu sudah sangat pasti bahwa periode filsafat ini berkembang bersamaan dengan masa keemasan kekristenan. Cikal bakal munculnya para pemikir kekristenan ini adalah bergabungnya mereka (inisiasi) yang disebut golongan ahli pikir di dalam jemaat kekristenan terlepas dari mereka yang disebut sebagai golongan masyarakat biasa dan orang-orang sederhana. Mengenai kata Patristik sendiri seyogyanya berasal dari kata latin pater = bapa sebagaimana dimaksudkan untuk mengindetifikasi terhadap sekelompok cendekiawan yang dipredikatkan sebagai bapa gereja. Corak pemikiran yang dikembangkan oleh sebagian Bapa Gereja adalah mengawinkan butir-butir pemikiran filsafat dengan aspek wahyu yang didasarkan pada kitab suci (helenisme). Selanjutnya bahkan perkembangan pemikiran Yunani tersebut dipandang sebagai persiapan bagi injil.

Baca Juga : Filsuf-filsuf  Yahudi Yang Berpengaruh dalam Sepak Terjang Pemikiran filsafat.

St. Agustinus dari Hipo sang apologet pada era patristik. Gambar by wikipedia.org

Hal umum yang menjadi kekhasan di dalam Filsafat patristik adalah bagamana segala macam pengembanan akal ditujukan untuk mempertahakan iman kekristenan yang dikerjakan oleh mereka yang disebut dengan apologet atau penjaga iman. Pembelaan ini meliputi pula serangan dan kritikan dari eksistensial filsafat Yunani itu sendiiri meskipun dengan menggunakan kerangka pemikiran yang diadopsi dari filsafat Yunani itu sendiri. Tokoh apologetis yang patur diperhatikan adalah semisalnya Aristides dari Athena yang mana sumbangannya adalah menulis surat pembelaan yang ditujukan kepada kaisar Hadrianus, Yustinus Martir dari Sikhem di daerah Palestina yang menulis surat pembelaan kepada kaisar Antonius Pius dan juga menulis dialog dengan orang Yahudi yang bernama Tryphon serta Tatianus dari asur seorang murid Yustinus , yang menulis Diatessaron yang dapat disebut semacam sebuah harmonisasi injil dengan filsafat. Jadi umumnya zaman Patristik diisi oleh tokoh-tokoh yang berperan mempertanggungjawabkan eksistensial kekristenan yang baru muncul terhadap otoritas yang berkuasa saat itu dalam hal ini Kekasaran Romawi terlepas juga mengembangkan keksitenan sebagai bentuk kultus iman yang rasional dan tidak dapat infalibel untuk dieksiskan.

Perlu diketahau bahwa dalam perkembangan Filsafat patristik sebenarnya dapat dikategorikan menjadi dua bagian yakni patristik timur dan patristik barat. Tiktik perbedaan adalah cara pendekatannya dimana patristik timur lebih menekankan peran iman atau intuisi yang didasarkan pada kebenaran wahyu sedangkan patristik barat sangat menekankan aspek rasionalitas bahwa iman atau credo harus bersandar pada kelogisan akal. Salah satu tokoh patristik barat yang terkenal adalah Tertuallianus. ia sendiri sangat absolut dengan wahyu yang membuatnya menolak filsafat, baginya kebenaran hanya dapat dikenal di dalam nama Kristus. selain Tertuallianus masih ada tokoh lain seperti Aurelisu Agustinus dan Dionesius dari Areopagos.

Referensi : Sari Sejarah Filsafat Barat 1 karya Dr. Harun Hadiwijono

By Ardy G

Pernah belajar di bidang Filsafat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Eksplorasi konten lain dari Patadela.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca