white cow on brown sand
Photo by Engin Akyurt on <a href="https://www.pexels.com/photo/white-cow-on-brown-sand-9293364/" rel="nofollow">Pexels.com</a>

Filsafat postmodern merupakan sebuah era perkembangan pemikiran yang mengedepankan pencakokan gagasan-gagasan kontra akan pemikiran modern. Ia merupakan titik balik dari pada pemikiran modern itu sendiri. Sebuah kategori pemikiran yang menunjukan konteks di mana masayarakat telah mencapai batas dari suatu kejenuhan akan proyek modernitas. Emansipasi gagasan-gagasan yang pernah muncul pada zaman abad pertengahan yang kemudian dibuang kepada ruang privat dalam era modern terbilang kembali mempunyai minatnya di dalam masa Postmodern ini. Sebuah masa yang sangat baik dimana orang kembali dipertautkan dengan hal-hal adikodrati yang juga mengintegrasikan manusia dengan eksistensial universum. Manusia kembali menyadari bahwa jaminan dan kesuksesan hidup yang diperankan oleh teknologi akhirnya membawanya kepada ujung alieanasi dan individualitas yang bersifat semu dan artivisial yang sama sekali menekan tuntutan kompetisi dan sekularisasi.

Istilah postmodern ini seringkali dikaitkan dengan era kontemporer yang memberikan ciri khas dan perwatakan akan ilmu-ilmu  kekinian. Postmodern juga dikenal dengan konteks kebangkitan terhadap term-term yang adikodrati. Kesadaran bahwa yang modern mempunyai batasan akan kepada realita fisikal dan profan maka orang mulai mencari sumber-sumber jaminan lain di luar dirinya teristimewa dengan hal-hal yang transendental. Yang transenden dianggap mampu membawa persona atau diri manusia kepada keutuhan yang lebih komprehensif karena memberikan ruang-runag sadar manusia kepada kenyataan yang lebih tinggi dengan keberadaan yang lain. Selain itu manusia diajak untuk mereduksi konteks kecenderungan eksplorasi dan relasi fungsional terhadap keuntungan-keuntungan materi dengan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknik modern. Kesadaran bahwa modernitas tidak saja dibangun di atas singgasana prestasi inovatif teknologi, social dan ilmu pengetahuan, melainkan juga ditandai pelbagai fenomen destruktif [1] misalkan proses radikalisasi kriktik dan akal oleh peristiwa kemanusiaan yang menimpa manusia awal abad kedua puluh, dua perang dunia, holocaust, Hirosima inilah yang mengeserkan manusia dalam menuju Postmodernisme.

Lyotard, Filsafat Postmodern
Jean F. Lyotard by wikipedia.org

Terlepas dari ambiguitas dalam mendefenisikan apa itu Postmodern yang pernah dikategorialkan oleh para ahli dan pemikir namun ada beberapa pemikir yang mengidentifikasikan seputar Postmodern misalkan Bagi Lyotard dan Galdner melihat postmoderne sebagai masa pemutusan total dari modrnisme, bagi Gidens  Postmodernisme adalah bentuk modernism yang sudah sadar diri dan menjadi bijak sedangkan bagi Habermas Postmodernisme adalah suatu tahap dari modernisme yang belum selesai dan bagi Derrida, Foulcault dan Baudrillard Postmodernisme adalah bentuk radikalisasi  dari kemodernan yang akhirnya bunuh diri karena sulit menyeragakan teori-teori.[2] Inilah beberapa rumusan kecil dan singkat seputar Filsafat Postmodern. Kita dapat menemukan konsep defenisi yang sangat variatif dan lazim berbeda dari para ahli yang mengindikasikan bahwa postmodern bukanlah paham tunggal yang justru menghargai teori-teori yang bertebaran yang diketahui sulit untuk dicari titik temu yang similaritas.

Baca juga : Mengetahui Corak Filsafat Abad Pertengahan

Bagi postmodernisme, manusia benar-benar membutukan pembebasan – bukan oleh kebenaran tetapi dari keseluruhan ide kebenaran . kebebasan yang sebenarnya berarti diberikan kebebasan untuk berbeda (Non Uniform) – diterima secara toleran meskipun kita berbeda. Postmodernisme menegaskan bahwa satu-satunya kemungkinan kebebasan yang riil bagi manusia yang dikonstruksikan secara budaya adalah kebebasan karena meninggalkan kesalahan modernitas yang disokong oleh Pencerahan (aukflarung) yang mana manusia dapat mendewakan akal dan pikirannya untuk dapat mengetahui dan inovatif.[3] Kita dapat membayangkan bagaimana ide-ide religious dan yang kontemporer dapat menyatu dalam masyarakat Postmodern akan tidak dapat menemukan jaminan jika tidak diandalkan sebuah toleransi dan kebebasan.

Cirikhas postmodern sebenarnya mau mengkritik  tatanan hidup masayarakat modern yang sangat mendewakan peran teknologi. Misalkan Lyotard menyoroti bahwa masyarakat disusun bukan saja  melulu berdasarkan teknologi , namun juga seputar permainan bahasa dan diskursus.[4] Selain lebih lanjut ia menekankan adanya revisi radikal terhadap sejumlah asumsi- asumsi metateoritik kunci termasuk makna ranah social dan pilar-pilar ideologis seperti kepercayaan terhadap kemajuan social, emansipasi, efektifitas organisasi formal dan kemungkinan untuk mendapatkan pengetahuan social yang objektif dan bisa dipercayai. Ranah social yang sangat diagungkan dalam modrnitas adalah ranah social yang mendeakan teknologi. Selain hal yang perlu diketahui dalah konsep narasi besar yang ditolak oleh postmodrnisme baik pada tingkat epistemology (rasio,universalitas,episteme,logos dan spirit), pada tingkat ideology (imperalisme, kapitalisme, komunisme dan fasisme) serta pada tingkat ideology kultural (patriaki, etnosentrisme,rasisme,orientalisme) yang dianggap bertanggung jawab dalam konteks pemisahan besar dalam narasi dunia dan dalam bentuk oposisi biner.[5] Konsep-konsep inilah yang juga masuk dalam persoalan filsafat postmodern.

Selain tu ciri khas dari postmodrnisme adalah bersifat dekonstruktif artinya mempertanyakan kemapanan bangunan ilmu pengetahuan dalam masa modern seperti sosiologi, psikologi, antropologi dan sejarah serta ilmu lainnya.[6] Ia juga berwatak relativisme artinya tidak ada dasar dasar ideology yang bertipikal sama dan sebangun antara yang satu dengan yang lainnya hal ini bisa dilihat pada posisional ilmu pengetahuan dan budaya yang cenderung ragam dan variatif.

Sekian perkenalan singkat tentang filsafat postmodern. Telah diketahui bahwa sejumalah wacana yang dibahas di dalam postmodern dalah bagian dari kontra-ideal akan wacana modernitas yang meskipun banyak diparesiasi akan capaian-capaian dan terobosan baru yang memukau namun postmodern juga tidak sedikit meninggalkan kelemahan-kelemahan yang harus dperhatiakan misalkan pusat perhatian pada narasi kecil dan ahistoris yang juga melahirkan kepicikan misalkan di dalam paham komunitarian serta masih banyak persoalan lain dari postmodern yang harus diperbaiki. Namun suatu apresiai lain adalah postmodern telah mampu menyatukan dan menghargai pelabagia ide-ide kemajuan yang lebih lengkap dan menyeluruh misalkan isu religious dan moderasi.


[1]  Otto Gusti Madung, Sejarah Filsafat Kontemporer dan Postmodern (Ms), (Maumere : STFK Ledalero,2016) hal.8

[2]  Sumber youtube ; Seminar Postmodern Facrudin Faiz

[3] Zaprulkhan, Filsafat Ilmu : Sebuah Analisis Kontemporer (Depok : Rajawali Pers, 2021)hal.310

[4]  Ibid, 317

[5]  Ibid. 311

[6]  Johan Setiawan, Pemikiran Postmodernisme dan Pandangannya Terhadap Ilmu pengetahuan, (Jr) (Yogyakarta : Universitas Negeri Yogyakarta, 2018), hal. 33

By Ardy G

Pernah belajar di bidang Filsafat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Eksplorasi konten lain dari Patadela.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca