tent near tree
Photo by Kasuma on <a href="https://www.pexels.com/photo/tent-near-tree-426894/" rel="nofollow">Pexels.com</a>

Mengenai riwayat kelahiran dari Pythagoras tidak diketahui secara pasti kapan tahun kelahirannya,  namun terdapat banyak sumber yang menyebutkan bahwa Pythagoras lahir di pulau Samos, Ionia. Selain itu terdapat pula informasi yang bearasal dari suatu tradisi Yunani bahwa Pythagoras sering mengembara salah satunya ke Mesir namun sayangnya tidak ada sumber yang detail menjelaskan maksud dari perjalannya itu. Pada tahun 530 SM ia pindah ke kota Kroton di Italia Selatan. Atas dasar ketidaksetujuannya dengan pemerintahan tyrannos Polykrates akhirnya ia mendirikan suatu taraekat religius Yunani yang disebut dengan Taraikat Pythagorean.  Di dalam taraikatnya ia dikenal sangat berwibawa dan disegani. Penghormatan kepada dewa Apolo merupakan model kehidupan kultus religius mereka. Tarekat tersebut terbuka untuk umum baik pria maupun wanita dengan berbagai pertauran dan disiplin rohani yang sangat ketat dan teratur. Model taraikat ini hampir mirip dengan tradisi monastik pada abad pertengahan. 

Baca Juga : Mazhab Elea

Diketahui bahwa ciri khas filsafat Miletos adalah filsafat yang didasarkan atas keingintahuan yang ilmiah, akan tetapi bagi kaum Pythagorean mereka mempraktekan filsafat sebagai suatu jalan ” way of life”. Menemukan suatu pertobatan dan penyesalan di dalam filsafat sehingga memperoleh purifikasi atau pemurnian jiwa agar selamat dari perpindahan atau perjalan siklus jiwa yang terus menerus ( reinkarnasi ke tingkat yang lebih rendah). Cara berfilsafat seperti ini mempengaruhi  cara pandang filsafat Yunani selanjutnya yaitu Plato dan Aristoteles. Kaum Pythagorean terbesar hidup di Italia  Selatan. Namun sekitar pada tahun 450 SM mereka diusir dari Kroton  dan dari juga pada area Italia sekitarnya dan mulai menetap di kota Thebai dan Pleios, Yunani. Dua  aliran yang muncul yang dikembangkan oleh pengikut Pythagoras adalah akusmatikoi  dan mathèmatikoi.  Akusmatekekoi diartikan sebagai seuatu proses ikrar kesetiaan atas apa yang telah diajarkan dan menjadi standar moral dan kesepahaman bersama  sedangkan Mathèmatikoi adalah pergutatan pada pengetahuan ilmu pasti.

Ajaran Pythagoras


Ajaran tentang jiwa

Pythagoras mengakui dan mengajarkan tentang perpindahan jiwa. Hal ini didukung kuat oleh peristiwa dan vision mistiknya ketika mendengar suara sahabatnya yang telah meninggal melalui seekor anjing yang mendengking ketika dipukuli.  Jadi ia menyimpulkan bahwa jiwa tidak dapat mati dan mengakui adanya proses siklus yang memungkinkan terjadinya perpindahan jiwa atau reinkarnasi. Untuk menghindari dari prosese reinkarnasi ke tingkat yang lebih rendah misalnya dilahirkan kembali ke dalam bentuk hewan ataupun serangga maka perlu adanya suatu proses purifikasi atau penyucian jiwa lewat pantang dan mati raga.

Ajaran tentang bilangan-bilangan.

Gambar tentang tetraktys. Sumber : facebook.com

Kaum Pythagorean menganggap tetraktys adalah suatu bilangan yang dianggap keramat. Tetraktis adalah susunan bilangan dari sepuluh bilangan mulai dari 1: 2, 2: 3 dan 3: 4.  Susunan ini diadopsi atas perbandingan dengan keharmonisan susunan interval dari tangga nada yang bisa kita lihat pada susunan oktaf- oktaf nada. Pythagoras akhirnya mengandaikan bahwa kenyataan fisis bisa terwakilkan dengan pedoman matematis sehingga secara radikal ia menguatarakan bahwa segala  sesuatu adalah bilangan.  Bahwa bilangan bisa merepresentasikan segala aesuatu sesuatu. Fungsi bilangan dapat bisa dijadikan sebagai pilihan untuk menjelaskan sesuatu hal. Bilangan- bilangan berfungsi untuk menunjukan tentang entitas mengenai suatu hal. Barang-barang materi  bisa terlukiskan melalui bilangan- bilangan.

Pythagorean berkesimpulan bahwa seluruh dunia adalah realitas kasuistik yang membentuk harmoni dengan diferensiasi  corak oposisi biner misalnya ganjil- genap, terbatas dan tak terbatas dan seterusnya.

Ajaran tentang kosmologi.

Dapat kita ketahui bahwa terdapat perbedaan antara term atau istilah mengenai sebab-sebab alam atau gejala-gejala tentang semsesta. Dalam buku Filsafat Yunani karya K. Bertens dijelaskan distingsi mengenai mitos kosmogonis dan mitos kosmologis. Mitos kosmogonis merujuk pada faktum epistemis yakni mencari keterangan tentang asal- usul alam semesta sedangkan mitos Kosmologis yakni suatu studi untuk mencari sifat kejadin- kejadian dalam alam semesta beserta keterangan tentang asal-usulnya.

Pada Mazhab  Pythagorean mengemukakan bahwa yang  menjadi pusat dari jagat raya adalah api (hestia) bukan bumi (geosentris) sebagaimana yang diakui masa itu. Susunan jagat raya dipandang dan dimulai dengan bumi sebagai titik tolak dan mengakui adanya api sebagai titik sentral. Dari titik (lokus) bumi kemudian memandaang keluar, bumi, bulan, matahari dan selanjutnya planet- planet (Merkurius, Venus, Mars, Yupiter, Saturnus) kemudian dilanjutkan dengan urutan langit dan bintang-bintang tetap. Yang menjadi api sentral adalah Matahari dan Bulan yang kemudian disimpulkan oleh pemikir- pemikir Yunani di kemudian hari yang pada akhirnya menganut pendirian  helio- sentris dan cikal bakal munculnya geo-sentris. Heliosentris seperti yang kita ketahui  kembali dimunculkan oleh Kopernikus (1473-1543) dan ia pun akui bahwa ia sendiripun menganut mazhab Pythagorean.

Catatan : 1. Arti kata tyrannos dalam bahasa indonesia adalah “penguasa tunggal” atau  Raja.

(Lihat glosarium online ).

Referensi : 1.Sejarah Filsafat Yunani; Prof. Dr. K. Bertens.  2. Sejarah Pemikiran Barat Kuno ; Dr. Paul Budi Kleden.

By Ardy G

Pernah belajar di bidang Filsafat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Eksplorasi konten lain dari Patadela.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca