Depressed musician vintage drawing
<a href="https://www.rawpixel.com/image/573060/depressed-musician-vintage-drawing" rel="nofollow">Depressed musician vintage drawing</a> by <a href="" rel="nofollow">The British Library</a> is licensed under <a href="https://creativecommons.org/publicdomain/zero/1.0/" rel="nofollow">CC-CC0 1.0</a>

By : Mardn G. ( Sebuah Refleksi Filosofis).

Bahasan mengenai Filsafat sebagai Kekuatan atau piranti yang bermanfaat bagi perkembangan proses mentalitas diri bearti kita mau meninjau sejauh mana peran filsafat sebagai media untuk kemajuan dan proses pematangan diri (Selfbuild). Seperti yang teranut  dalam defenisinya, termuat jelas bahwa filsafat merupakan sebuah usaha untuk mencapai kebijaksanaan pada budi atau intelektual. Filsafat merupakan usaha untuk mencapai kebijaksanaan meski term kebijaksanaan adalah sesuatu yang niscaya untuk dicapai oleh manusia yang berinsan yang penuh dengan kerapuhan yang tak bisa dielakan. Akan tetapi terlepas dari perihal ini kita tetap berusaha meneropong kekuatan filsafat sebagai  predikat “Cinta akan kebijaksanaan“ yang berusaha selalu kritis dan analitis ketika dikonfrotasikan dengan perihal terutama berkaitan dengan persoalan atau perbendaharaan hidup (makna hidup).

Berkenaan dengan perihal tema di atas saya ingin mengutip kata-kata dari Socrates seorang filsuf klasik ternama berkebangsaan Yunani. Terdapat adagium yang cukup terkenal darinya yang berbunyi demikian “Hidup yang tidak direfleksikan adalah hidup yang tidak pantas untuk dihidupi”. Semboyan ini sudah sangat jelas mengafirmasi bahwa dalam pergumulan atau menjalani sebuah hidup yang baik dan bermakna harus dilakukan proses dan refleksi yang rutin dan kontinuitas atau terus menerus agar kita sebagai manusia yang berkesadaran dapat menemukan titik-titik di mana saya melakukan kekeliruan dan kealpaan diri. Proses ini masih pararelitas dengan term yang diangkat dalam tulisan ini yang mengupas tentang filsafat sebagai kekuatan untuk mengontrol diri.

Filsafat sebagai kekuatan untuk mengontrol diri (Manusia).
Manusia dan Problematikanya by wikipedia.org

Baca Juga : 6 Prinsip Pencarian Filosofis

Di dalam realitas kehidupan harian sebagai manusia dalam arti persona atau individual kita tak pernah terlepas luput dari pengelaman kealpaan dalam artian pengelaman kehilangan diri atau pengendalian diri yang selalu tertarik dengan  pelbagai tawaran duniawi atau hedonis. Selain itu manusia sering terjebak di dalam situasi krisis misalnya digerogoti oleh persolan kekhawatiran yang berlebihan yang menyebabkan bahaya amarah merasuki dirinya. Selain persoalan yang dating dari dirinya ia juga pasti akan berhadapan dengan persoalan serupa yang didatangkan dari luar dirinya yang bisa saja akan menambah kecamuk atau keguncangan dalam dirinya lantaran terpaan ini.

Atas perihal situasional ini, mari kita menggali sejauh mana filsafat dapat hadir untuk memberikan sumbangsihnya bagi kekuatan untuk mengontrol diri. Terlepas filsafat adalah usaha logic dan perihal refleksional yang kritis dalam bidang kajian keilmuan atau bertitik- bertakan pada usaha nalar atau berpikir logis, namun scara implisit di dalam filsafat telah termuat imperative-imperatif ini agar manusia dimampukan untuk memberdayakan dirinya pada persoalan-persoalan patologis- fatalistic yang krusial ini. Sebagai suatu contoh agar membuktikan bahwa filsafat juga menggaungkan persoalan ini saya coba mnyertakan uraian analisis dari Freud yang lebih bercondong ke arah psikologis khususnya psikopatologis. Ia melihat bahwa fenomena manusia yang selalu menipu diri tentang dirinya sendiri karena ada mekanisme tak sadar diri dalam dirinya yang berupa tekanan psikis. Dengan menciptakan gambaran palsu ,ilusi, delusi dan melakukan mekanisme pertahanan diri, subyek merasa seolah-olah memperdamaikan konfliknya, tetapi sesungghunya semua ini hanyalah penipuan diri dan penindasan diri oleh dirinya sendiri.[1] Situasi yang digambarkan oleh freud di atas adalah situasi kenyataan sosial umum yang terjadi dalam bentuk represi dan sebagainya. Melalui penggalian ini manusia setidaknya dapat diharapkan untuk mampu membedah perihal psikispatologis di dalam interaksionalitas timbal-balik di dalama kehidupan manusia. Dengan kesadaran psikologis seperti ini yang berpijak pada konsep-konsep filosofis, manusia diharapkan untuk lebih mampu untuk dapat bisa mengorganisir gejolak dan kecenderungankecenduran emosional liar yang mungkin ditekan secara psikis. Mampu memahami orang-orang lain dengan keberlainan seperti yang ditawarkan pula oleh Filsafat Alteritas oleh Emmanuel Levinas. Kita diharapkan untuk mengerdepankan tuntutan ini dalam menunjukan pribadi yang cerdas dan terdidik secara mapan dan matang.

Filsafat dikenal sebagai usaha akal dalam memahami dan mencerap segala sesuatu secara komprehensif dan menyeluruh. Berusaha mengenali dan mempelajari akan apa yang disebut dengan keseluruhan. hal ini seseorang yang berfilsafat dipastkan telah diperkaya akan pelbagai imformasi dan referensi. kebijaksanaan seseorang yang berfilsafat dituntut lebih radiks dalam memberikan proposisi atau pernyataan akan bahasan mengenai sesuatu untuk menghindari dari apa yang disebut dengan falasi. Seorang filsuf dipastikan untuk mampu memecahkan persoalan baik bagi dirinya dan orang lain berkat kekayaan wawasan yang diperoleh dengan mempertimbangkan akan pelbagai tinjauan atau perspekif. Oleh karena itu filsafat telah dimampukan bagi seseorang yang mendalaminya dalam menghidupkan semangat sipirit pencerahan untuk menindaklanjuti atau memberikan respons akan pelbagai fenomena dengan spirit akal sehat. Proses kemajuan akan manusia sangat diharapakan dalam kontels ini untuk memajukan nilai-nilai dan perkembangan humanistik itu sendiri berkat refleksi dan penyelidikan akal terhadap proses humanitas.

Baca Juga : Benarkah Filsafat itu Sulit ?

Namun, sadar bahawa kenyataan untuk menjawabi semuanya ini adalah sesuatu yang masih bersifat ideal dan konsepsional sehingga tentu masih sangat diperjuangkan lebih lanjut di dalam realitas utuk menjadikan diri sebagai pribadi yang berdisiplin secara fisik maupun psikis maka kita membutuhkan sebuah proses dan pendekatan yang tidak hanya berlaku sekali saja melainkan harus diusahakan semaksimal mungkin agar kenyataan ini “ Filsafat Sebagai Kekuatan untuk mengontrol diri” alhasil membawa dampak yang positif dan baik bagi perkembangan diri dan kebaikan bersama. Mengontrol diri dari pengaruh dan tawaran yang menyesatkan, mengontrol diri dari kekeliruan dan mengontrol diri dari keterjebakan emosional. untuk lebih dalam akan pemahaman ini kita dapat mencari sumber lain yang lebih detail dan keomprehensif misalkan di dalam literatur seputar filsafat manusia. Semoga.


[1] F. Budi Hadirman, Kritik Ideologi, Menyingkap Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan Bersama Jurgen Habermas, (Yogyakarta : Penerbit Kanisius,2009), hal. 57

By Ardy G

Pernah belajar di bidang Filsafat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Eksplorasi konten lain dari Patadela.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca