red building with clock tower
Photo by Pixabay on <a href="https://www.pexels.com/photo/red-building-with-clock-tower-207692/" rel="nofollow">Pexels.com</a>

Filsafat Skolastik sebenarnya merupakan sebuah pengejawentahan dari pada filsafat abad pertengahan itu sendiri. Jadi jika kita berbicara tentang skolastik, kita tidak bisa melepaspisahkan keterkaitan dengan term abad pertengahan.  Dimana konteks abad pertengahan yang mulai meninggalkan ciri pemikiran yunani kuno dengan sebuah arah pemikiran baru dengan basis rumpun bangsa yang baru pasca romawi yakni bangsa  Eropa Barat, dari sinilah istilah skolastik dan filsafat Skolastik muncul. Selanjutnya sebutan skolastik sendiri mau mengungkapkan tentang berkembangnya eksistensi sekolah-sekolah sebagai basis sentral dan berkembangnya ilmu pengetahuan,  dan ilmu itu sendiri terikat pada tuntutan pengajaran di sekolah-sekolah tersebut. Secara etimologis, skolastik berasala dari bahasa latin yakni “Scholacticus”  yang berarti murid. Dan yang menjadi cikal bakal lahirnya sekolah-sekolah tersebut adalah keberadaan biara-biara misalkan di Galia Selatan[1] sebuah tempat pengunsian ketika adanya pengunsian dan eksodus bangsa-bangsa yang juga menampung hasil karya para tokoh kuno (filsuf Athena) dan pemikir dan apologet kristiani. Skolastik dari Galia selatan ini akhirnya menjiwai pula skolastik di irlandia, Nederland dan Jerman dan selanjutnya diadopsi ke dalam sekolah-sekolah kapittel[2] sebuah sebutan untuk konteks sekolah-sekolah yang dikaitkan dengan Gereja.

vienna university building, Filsafat Skolastik
Universitas (vienna university building)sebagai bagian peninggalan dari abad Skolastik ,Photo by Nuray on Pexels.com

Baca Juga : Filsafat Patristik

Adapun rencana mata pelajaran- yang sekarang dalam sekolah modern disebut dengan kurikulum -meliputi studi duniawi yang terdiri atas 7 kesenian bebas (artes liberales) yang dibagi lagi menjadi dua kategori yakni  trivium, 3 matapelajaran bahasa, yang meliputi tata bahasa, retorika dan dialektika ( semacam petunjuk untuk tehknik berdiskusi), sebagaimana ilmu tersebut dibilang sebagai pendidikan umum, quadrivium, 4 mata pelajaran matematika, yang meliputi ilmu hitung, ilmu ukur, ilmu perbintangan dan music, dan juga studi tinggi adalah teologia sebagai syarat menjadi sarjana.[3] Pada perjalanan selanjutnya dialektika kemudian diganti dengan logika Aristoteles dan tidak lama kemudian pelajaran artes liberals bermetamorfosis menjadi studi filsafat yang spesifiknya adalah filsafat aristoteles yang pada akhirnya pada perkembangan abad ke-12 filsafat menduduki tempat yang dominan di sekolah-sekolah. Pada masa Karel Agung ( 74-814), pemikiran filsafat dan teologi mulai tumbuh.

 Lebih lanjut tentang sifat skolastik adalah  bahwa pengetahuan yang digali dari buku-buku diberi tekanan yang berat yang mana jagat raya dipelajari berdasarkan rekomondasi dari pendapat para filsuf yunani artinya proses penelitian lebih lanjut dibatasi mengingat statute teologi yang ditempatkan sebagai otoritas yang paling tinggi sehingga kebenaran dalam filsafat tidak ambigu dan mengganggu kebenaran di dalam teologi. Di sinilah filsafat dipandang sebagai pelayan terhadap teologi dan bukan merupakan sebuah ilmu yang dilihat sebagai sesuatu yang autonom dan berwibawa. Oleh karena itu filsafat skolatik jelas merupakan sebuah filsafat yang mengabdi pada teologi yang juga merupakan khas milik Gereja.

 Zaman Skolastik sendiri dibagi lagi menjadi tiga vase yaki zaman awal skolastik, zaman kejayaan skolastik dan zaman akhir skolastik. Tokoh tokoh filsafat Skolatik yang termasyur adalah Thomas Aquinas yang mengemukan lima jalan tentang eksistensi Allah dengan menggunakan kerangka pemikiran Aristoteles. Selain Aquinas adapun tokoh lain yang juga menjadi popular adalah Aulerius Agustinus atau yang dikenal dengan Agustinus dengan karyanya ang terkenal semisalnya De civitate Dei yang mengkategorikan tentang tipologi antara civitas terena  tentang masyarakat atau warga bumi (civilization) dan civitas dei, tentang kapasitas manusia atau persekutuan yang menaruh haraoan akan adanya eskaologis dengan mengimani atau mengingat diri pada otoritas ilahi dalam hal ini melalu lembaga gereja.

Selain tokoh di atas masih ada tokoh lain seperti Okham, Lamberdus dan Anselmus serta masih ada beberapa tokoh lainnya yang akan kita bahas secara terperinci dalam bagian lain. Kiranya ulasan filsafat skolastik ini bermanfaat bagi pembaca sekalian. Jika kita kaitkan dengan situasi aktual dewasa sekarang yang mana perkembangan informasi dan teknolgi yang begitu pesat, tak bisa dikurangi jika kita menamakan era membludaknya lalu lintas informasi ini dengan istilah skolastik baru.


[1] https://matakita.co/2021/12/08/pemikiran-kaum-skolastik/, biara ini digagas oleh Abelaerdus, Anselmus dan Petrus Lamberdus.

[2] Situasi ini dimana hamper di seluruh eropa selalu diperlihatkan bahwa di mana ada gereja di situ ada sekolah.

[3] DR. Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 1, (Yogyakarta : Penerbit Kanisius, 2016),hal. 87

By Ardy G

Pernah belajar di bidang Filsafat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Eksplorasi konten lain dari Patadela.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca