Karl Marx' Grave, Highgate Cemetery (East)
<a href="https://www.geograph.org.uk/photo/4534" rel="nofollow">Karl Marx' Grave, Highgate Cemetery (East)</a> by <a href="https://geograph.org.uk/profile/130" rel="nofollow">mym</a> is licensed under <a href="https://creativecommons.org/licenses/by-sa/2.0/" rel="nofollow">CC-BY-SA 2.0</a>

Diketahui bahwa pergumulan intelektual para filsuf abad kesembilanbelas sebenarnya merupakan suatu pergumulan intelektual yang muncul sebagai bagian dari upaya untuk memberikan argumen kritis terhadap idealisme jerman terlebih khususnya filsafat Hegel. Reaksi kritis ini sedianya sudah muncul di antara para murid Hegel yang dikenal dengan sebutan “Kaum Hegelian Sayap Kiri” atau yang disebut dengan Linkshegelianismus yang mana aliran filsafat mereka lebih bersifat panteistis dan secara radikal masuk dalam pandangan naturalisme, materialisme dan ateisme yang berbeda dengan corak teisme pada aliran kanan. Adapun reaksi mereka bermacam-macam, terlepas dari korelasinya dengan kenyataan social yang diamati para kritikus Hegel umumnya tidak sependapat dengan usaha Hegel dalam mereduksi kenyataan pada Roh atau Rasio yang terbilag abstrak. [1] Corak argument kritis mereka pun bervarisai yang sekaligus menentukan kekhasan filsafat mereka masing-masing.

Baca Juga : Sekilas tentang Hegelian Sayap Kiri dan Kanan

Adapun para filsuf abad kesembilan belas yang dapat dibilang sebagai kaum individual hebat tersebut adalah sebagai berikut ini ;[2]

  1. Arthur Schopenhauer (1788-1860)
Arthure Schopenhauer sebagai salah satu filsuf abad Kesembilanbelas
Arthur Schopenhauer by wikipedia

Ia menolak Hegel dan berfokus pada bagamana kita harus hidup. Esensi manuasia adalah kehendak (bukan Diri ), yang didorong  oleh keinginan.  Dan kehendak itu tidak bebas karena kita tidak tahu motifnya. Dengan demikian kita semua terjebak dalam kehidupan, dan hanya seni yang dapat menawarkan kebebasan. Atas pesimisme dan penolkannya terhadap diri meniuntunya untuk tertarik pada ajaran Buddha dengan bagamana memakanai tentang jalan pelepasan.

  • Soren Kierkegaard (1813-1855)
Soren Kierkegaard by wikipedia

Ia pun menolak Hegel dan prinsip metafisika.  Bahwa kita membutuhkan kebenaran yang dengannya kita dapat hidup. Diri adalah fluktuasi dari konflik etika, dalam keadaan gelisah ketika dihadapkan dengan pada pilihan. Membuat pilihan adalah segalanya, terutama lompatan iman ke dalam Kristianitas. Ide-ide ini yang mengawali Eksistensialisme.

  • Aguste Comte (1798-1857)
Aguste Comte by Wikipedia

Comte dikenal sebagai Bapak Positivisme yang memberikan peran sentral bagi kedudukan sains modern dalam pemikiran filosofis. Doktrin positivism empirisnnya menegaskan  bahwa kebenaran hanya ditemukan dalam fakta yang terukur dan dapat diamati (seperti statistik). Dia beruapaya untuk memperluas pandangan ke dalam ilmu sosial semisalnya sosilogi, dan secara bertahap mengurangi status metafisika.

  • Karl Marx (1818-1883)
Karl Marx by wikipedia

Marx merupakan seorang pengagum Hegel dan menyetujui bahwa kekuatan historis dan social dialektis membentuk kehidupan kita. Dia melihat ini dalam kehidupan ekonomi, bukan dalam konsep. Tujuan baru filsafat adalah mengubah dunia bukan hanya sebatas mengonsepsikan (interpretasi) dunia. Selanjutnya Dialektika berkembang melalui ketegangan antar kelas social, dan pekerja yang tertindas berhadapan dengan kapitalis dominan.

  • Friedrich Nietzche (1844-1900)
Friedrich Nietche by Wikipedia.org

Ia adalah seorang pengagum Schopenhauer. Tidak menyukai bentuk-bentuk transenden Plato dan malah lebih suka pada relativisme kaum sofis. Semua hal didominasi oleh keinginan kita untuk berkuasa, yang justru sebagian besar hal itu tidak disadari  dan tidak ada keinginan sendiri atau preferensi kehendak bebas. Dia adalah seorang ateis, dan melihat orang sebagai makhluk fisik yang berevolusi. Nialai-nilainya elitis, dan dia mengagumi ambisi, ketimbang kehidupan yang nyaman.

  • John Stuart Mill (1806-1873)
John Stuart Mill by wikipedia.org

Ia mempelajari pendekatan empiris terhadap metode aritmatika dan ilmiah, dan membela fenomenalisme ( yang kita ketahui hanyalah penampilan). Dia terkenal sebagai pengembang utilitariansime dan pembela individualism liberal dalam ranah politik. Utilitarianisme diketahu sebagai sebuah paham yang mengatakan bahwa semua tindakan moral bertujuan untuk mencapai untilitas atau suatu kegunaan terbaik yang diraih atau yang diinginkan orang. Paham Utilitas selain diperkenal oleh John Stuart Mill juga dikembangkan oleh Jeremy Bentham.

  • Charles Sanders Peirce (1839-1914)
Charles Sanders Peirce

Ia melihat bahwa filsafat sebenarnya sesuatu yang sangat berkaitan erat dengan sains, yang tidak pernah tidak pernah berpijak pada kebenaran akhir tetapi sebaliknya mengikuti teori- teori yang tampaknya berhasil. Dalam kehidupan kita juga hidup dengan apa yang berhasil, bukan oelh “kebenaran”, maka dari itu filsafat pragmatis baruanya adalah bentuk dari  empirisme yang pastinya sangat praktis.

Selain itu terlepas dari beberapa filsuf di atas sebenarnya dapat diklasifikasikan atas tiga bagian argumen atau reaksi kritis terhadap Hegel. Reaksi pertama datang dari Arthur Schopenhauer yang mana meskipun reaksi ini masih berada di dalam ranah idealisme namun toh terlihat indikatif kembali kepada filsafat Kant tentang “ das Ding an sich”, yang kemudian masuk dalam idealisme dengan cara lain. Kemudian reaksi kedua terlihat dalam upaya Marx (juga Feurbach) yang hendak mentransformasikan idealisme menjadi materialisme. Dan reaksi kritis ketiga datang dari seorang filsuf Denmark, Kierkegaard yang berusaha untuk menumbangkan sistem abstrak Hegel.[3] Kierkegaard mengkosentrasikan pada peran pengetahuan yang bermanfaat bagi eksistensi manusia, hal-hal yang tak dapat bermanfaat langsung sebaiknya ditinggalkan.

Dalam catatan-catatan filsuf abad kesembilan belas pada akhirnya kita akan menemukan bahwa jalan kepada ateisme semakin terbuka lebar yang menekankan aspek aktulitas dari akal dan pengetahuan. Kesadaran metafisis mulai ditinggalkan dan dari sinilah eksistensialisme atau penekanan pada relitas manusia mulai lebih itens diperhatikan bukan lagi persoalan telogis melainkan tataran ontologis yang dapat dicerap oleh pengamatan indrawi sama halnya seperti konteks Yang Absolut milik Hegel yang menjadi titik picu bercabangnya antara teisme dan ateisme (Hegelian Sayap Kiri dan Kanan). Dan keberadaan filsuf abad kesembilan belas akhirnya meruntuhkan dasar-dasar dari pengungkapan iman dan teologis khusunya di dalam tubuh Gereja Katolik seperti yang dikembangkan oleh Comte, Feurbach, Marx dan Nietche yang mengumandangkan bahwa Allah sudah mati.


[1] F.Budi Hadirman, Pemikiran Modern : Dari Machiavelli sampai Nietzche, (Yogyakarta : Penerbit Kanisius, 2019),hal. 207

[2] Peter Gibson, Segala sesuatu yang perlu anda ketahui tentang Filsafat, (Jakarta : Penerbit Gramedia, 2023), hal.156

[3] F.Budi Hadirman, Pemikiran Modern Loc.Cit

By Ardy G

Pernah belajar di bidang Filsafat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Eksplorasi konten lain dari Patadela.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca