Filsuf Sokrates dianggap sebagai salah satu pemikir yang begitu populer dipersoalkan dalam sejarah filsafat. Dimana terdapat diskursus kategorial apa dipandang sebagai seorang filsuf atau bukan sebagai filsuf. Sehingga terkesan dialektis untuk predikat filsufnya.

Dalam sejarah filsafat tidak mempunyai kisah historis terperinci yang menunjukan tentang Fillsuf Sokrates mengenai karya dan pandangannya yang menggambarkan secara otentik tentang dirinya dan kisah historis tentangnya. Kita hanya bisa melihatnya melalui sumber-sumber yang korelasi dan relevan tentangnya seperti yang digambarkan oleh Aristophanes, Xenophon, Plato dan Aristoteles. Sehingga kita bisa menyimpulkan bahwa tentang Sokrates dan biografinya bukanlah suatu fakta otentik melainkan lebih dari sebuah akal ideal dari pada tokoh- tokoh di atas yang menulis dan menceritakan tentangnya. Dari semua tokoh yang diterima lebih khas menentukan riwayat tokoh Sokrates ialah Plato karena sumber Plato lebih dekat   dipercayai sebagai yang dianut oleh Sokrates historis.

Dicatat bahwa ia lahir kurang lebih pada tahun 470. Menurut sumber lisan, konon ayahnya adalah seorang pemahat dan ibunya adalah seorang bidan.  Ia tertarik dengam ajaran Anaxagoras tentang nus.  Ia pernah menjadi tentara Athena sebagai hopilities.  Menikah dengan Xantippe dan dikarunia tiga orang anak. 

Ia akhirnya divonis bersalah  “Karena dianggap tidak percaya pada dewa-dewi yang diakui oleh polis dan memperkenalkan praktek- praktek religius yang baru  serta mempunyai pengaruh yang kurang baik atas kaum muda” sehingga  berujung pada kasus perkara peradilan terhadap dirinya. Hal ini dapat dilihat pada karangan Plato yang berjudul Apologia (” Pembelaan Sokrates”). Sokrates dinyatakan bersalah dengan mayoritas 60 suara (280:220). Menurut tradisi hukum Athena, terdakwa diijinkan mengusulkan hukuman lain sehingga apabila ia diusulkan agar bisa mencari suaka ke kota lain pasti ia dapat melakukan. Tetapi ia memilih untuk tidak meninggalkan kota asalnya. Saat itu usianya 70 tahun. Mungkin ia memilih menjadi seorang martir untuk apa yang diajarkan adalah tidak bersalah. Memilih mati untuk kebenaran ajarannya. Ia dihukum mati dengan cara meminum cawan yang berisi racun. 

Selama hidup ia terkenal sangat ugahari. Di athena ia memang mempunyai murid-mirid akan tetapi tidak seperti kaum sofis yang memberlakukan uran tagihan untuk setiap pengajaran. Baginya pengajaran demi meraih keuntungan merupakan sesuatu yang jauh dari idealnya sebagai seorang aktivis intelektual.

Baca Juga : Mengena “Kaum Sofis”

Ajaran Filsuf Sokrates

Dalam ajarannya Filsuf Sokrates, dikenal memiliki model ajaran yang dinamakan dialektika atau dialegestai yang berarti ” bercaka-cakap” atau berdialog, metode yang bersifat praktis dan dijalankan dalam percakapam-percakapan sehari-hari. Terdapat tiga macam dialog yaitu dialog lakhes, dialog Kharmides dan dialog Lysis dan lain sebagainya. Ia merujuk pada jawaban pertama sebagai rujukan. Memulai dengan menanggapi jawaban pertama sebagai suatu hipotesis dan dengan pertanyaan-pertanyaan lebih lanjut ia menarik segala konsekuensi yang dapat disimpulkan dari jawaban tersebut. Jika hipotesis pertama tidak dapat dipertahankan, karena membawa akibat-akibat mustahil maka hipotesis itu diganti dengan hipotesis lain. Adapun nama lain tentang metode filsafatnya adalah maieutikè tekhnè ( seni kebidanan) sama halnya dengan seorang ibunya yang adalah seorang bidan di mana  cara kerja filsafat Sokrates pun demikian.

Aristoteles memberikan gambaran tentang Induksi dari Sokrates bahwa Sokrates yang mengacu tentang proses pemikiran dengan menenuai pemikiran atau pernyataan dari hal-hal yang berciri khusus kemudian sampai pada suatu kesimpulan final yang bersifat umum. Selain Induksi ada lagi penemuan yang dinamakan defenisi umum. Atau konsep final tentang sesuatu yang dijembatani oleh titik tolak sesuatu hal yang bersifat khusus.

Tentang Etika

Menurut Sokrates tujuan tertinggibmanusia adalah membuat jiwanya sebaik mungkin (psykhe) dimana jiwa sebagai intisari dari kepribadian manusia yang menentukan tingkah lakunyaa menjadi baik (akhlak). Hal pengingkaran dan penonjolan pada aspek-aspek lahiriah. Tujuan manusia harus pula mengejar kebaikan (eudaimonia). Mempunyai daimon yang baik (jiwa yang baik). Arete  (kebajikan atau keutamaan) adalah cara manusia untuk mencapai  eudaimonia. Arete menentukan segala tindakan dan tujuan sesuatu  baik di dalam pengabdian dan tugas serta profesi.  Dan bagi Sokrates keutamaan itu adalah pengetahuan. Ia menarik tiga kesimpulan bahwa manusia tidak berbuat kesalahan dengan sengaja, Keutamaan itu satu adanya, dan Keutamaan dapat diajarkan kepada orang lain lewat penyampaian pengetahuan kepada sesama. Mempunyai arete bagi sokrates berarti memiliki kesempurnaan manusia sebagai manusia. Dia tidak tertarik akan sistem pemerintahan demokratis yang dimiliki Athena berhubung pemegang- pemegang kuasa dipilih oleh majelis rakyat atau ditentukan dengan undian. Dia juga tidak mengagumi negarawan-negarawan seperti Themistokles dan Perikles yang memajukan keunggulan Athena dalam bidang ekonomi dan militer. Menurutnya Pengenalan tentang yang baik adalah keahlian dalam menjamin kesejahteraan warga masyarakat.

Tentang Politik

Meski baginya tidak terlau merasa terpanggil dan campur tangan untuk urusan hal-hal politik tetapi ia selalu setia dalam kewajiban-kewajibannya sebagai warga negara. Ia meneruskan prinsip-prinsip etikanya dalam bidang politik dan baginya tugas negara adalah memajukan kebahagiaan warga negaranya dan membuat jiwa mereka menjadi sebaik mungkin. Maka seorang penguasa harus mempunyai pengertian mengenai “yang baik”.

Adapun pengikut- pengikut Sokrates ialah Mazhab Megara, Mazhab Elis dan Eretria, Mazhab Sinis dan Mazhab Hedonis

By Ardy G

Pernah belajar di bidang Filsafat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Eksplorasi konten lain dari Patadela.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca