Friedrich Wilhelm Nietzsche by wikipedia.org

Pendahuluan

Di dalam dunia filsafat, nama filsuf NIetzsche tentu tidak lagi menjadi sesuatu yang asing untuk diketahui. Ia terlihat krusial dan dikenal pula peracik gagasan-gagasan kontraversial  lantas telah mengukirkan pokok pemikiran dan ajaran yang sangat menggelitik dimana filsuf yang sempat gila akibat pneumonia  ini secara sengit mengoyak segala sesuatu yang dianggap suci dan luhur di dalam agama Kristen dan budaya barat, meskipun ia adalah anak pemuka jemaat yang mana pada sejak kecil banyak teman-temannya menjulukinya “si pastor kecil”.[1] Lebih lanjut, filsuf dengan nama lengkap Friedrich Wilhelm Nietzsche ini lahir pada 15 Oktober 1844 di Röcken, Saxony, Prusia[2]. Sebagai tokoh eksistensial, pemikirannya  memengaruhi perkembangan falsafah dan pengetahuan khususnya di era kontemporer. Pandangan-pandanganya yang berpengaruh tersebut dapat kita temukan dalam ajarannya seperti Übermensch, kematian Allah dan Nihilisme. Diketahui bahwa ayahnya adalah seorang pendeta Lutheran yang mendambakan juga agar Nietzche kelak mengikuti jejaknya menjadi seorang pendeta.

Baca Juga : Menelisik Pemikiran Kierkegaard : Agama Sebagai Kewajiban Perilaku

Nietzsche masuk Gymnasium di kota Naumburg pada 1854, namun dalam empat tahun kemudian ia diminta oleh ibunya untuk belajar di sebuah sekolah asrama Lutheran (Sekolah khusus laki-laki semacam seminari calon imam Katolik) yang sangat termasyur kala itu di sebuah kota yang bernama Pforta. Di sana dipertemukan dengan karya-karya para sastrawan dan pemikir besar semisalnya : Schiller, Holderlin dan Byron yang menjadikannya sangat kagum pada kejeniusan kebudayaan Yunani kuno. Ia akhirya ia juga meminati Plato dan Aeschylus setelah membaca karya-karya tersebut. Pada tahun 1865 ia belajar filolog di kota Leipzig dan tak sengaja di tukang loak, ia menemukan karya Schopenhauer yang berjudul , Der Welt als Wille und Vorstellung. Ia terkesan bahwa karya Schopenhauer tersebut sedang ditujukan kepadanya.[3] Di kota ini lah dan mungkin pengaruh Schopenhauer pula, ia akhirnya mulai bersikap skeptis dan meninggalkan agamanya. Adapun karyanya selain filsafat mencakup berbagai bidang antara lain seni, filologi, sejarah, musik, agama, tragedi, budaya, dan sains. Ia pun juga mendapatkan inspirasi yang sangat berarti dari tragedi Yunani dan tokoh-tokoh seperti Zoroaster, Arthur Schopenhauer, Ralph Waldo Emerson, Richard Wagner, dan Johann Wolfgang von Goethe.

Selain itu ia juga mempelajari karya Friedrich Albert Lange yang berjudul History of Materialism pada tahun 1866 . Dari sini minat Nietzsche pun semakin dipengaruhi oleh karya Lange melalui Deskripsinya tentang filsafat anti-materialisme Kant, kebangkitan Materialisme Eropa, meningkatnya kepedulian orang-orang Eropa terhadap sains, teori evolusi Charles Darwin, dan pemberontakan umum terhadap tradisi dan otoritas sangat menarik. Karya Lange dan juga pemikir-pemikir neo-Kantianisme lain yang menekankan hubungan antara filsafat Kant dengan ilmu-ilmu alam pada waktu itu akhirnya memengaruhi perspekfif naturalisme Nietzsche[4]. Akan tetapi,aktifitas ilmiahnya ini terhenti setelah ia wajib mengikuti dinas militer di divisi artileri Prusia di Naumburg Pada tahun 1867. Ia kemudian bertemu dengan komponis sekaligus pengagum Schopenhauer, Richard Wagner dan menjadi sehabatnya pada 1868 sehabis tugas militernya yang tidak ia selesaikan karena kecelakaan akibat terjatuh dari kuda. Walaupun demikian, Nietzsche kembali menjalani tugas di pasukan Prusia sebagai petugas medis selama Perang Perancis-Prusia (1870–1871).[5]

.

Konsep pemikiran Filsuf Friedrich Wilhem Nietzche

  Berkaitan dengan pemikirannya, Nietzsche kebanyakan menuangkan pikiran-pikirannya dalam bentuk aforisme-aforisme yang teruarai dalam kalimat-kalimat pendek. Ia menghindari cara penjelasan yang terikat pada uraian sistematis semisalnya yang ditulis Kant dan Hegel. Karena baginya kebenaran mustahil dikemas dalam satu sistem, akan tetapi meski terlihat antisistem ia pun tetap menggunakan premis-premis di dalam aforisme tersebut. Ia dikenal sebagai “pengajar kecurigaan”.[6] Beberapa ajarannya pentingnya dapat diuraikan dalam sub bab berikut ini.

Konsep Übermensch

walter Kaufmann sang Komentator Friedrich Wilhelm Nietzsche
Walter Kaufmann by Kanadian Magazine

Meskipun ada begitu banyak tulisan yang terdiri atas buku dan essaynya, namun salah satu karyanya tentang Übermensch menjadi ajaran yang dianggap penting. Dalam bahasa inggris kata ini dapat diterjemahkan menjadi superman akan tetapi lebih cocok diartikan overman oleh salah satu komentator termasyurnya Walter Kaufmann. Overman berarti “Manusia Atas” dan juga berarti manusia unggul atau adimanusia. Tentang manusia unggul ini dapat ditemukan dalam kisah Zarathustra seorang pembaharu agama zoroastrianime yang diceritakan oleh Nietzche bahwa manusia adalah sesuatu yang harus dilampui.  Ini merupakan proyeksi tentang manusia dari masa depan dari Nietzche tentang akan adanya manusia-manusia jenius yang akan menunjukan makna tentang kehidupan ini. Pandangan Ubermensch ini masih pararelitas dengan gagasannya tentang kebudayaan. Ia pun mengecam konsep Negara Nasional karena hanya akan menghasilkan kerumunan dari manusia-manusi massa yang ada sebagai kuntitas namun secara kualitatif masih sangat rendah. Hal ini masih korelasi dengan konsep yang mendekati istilah mobokrasi dalam perspektif atau sudut pandang politik. Bagi Nietzsche tujuan kebudayaan bukanlah ‘kemanusiaan’ melainkan kemanusiaan hanyalah jembatan akan tercapainya suatu tujuan yaitu “manusia atas”atau “manusia unggul”.

Manusia atas bukanlah orang liar atau bersikap barbarian dan tak tahu aturan. Dia tidak bersifat immoral, melainkan secara mandiri menciptakan nilai-nilainya sendiri. Manusia atas tidak sekedar memiliki daya-daya mental yang lebih tinggi dari pada manusia, melainkan juga memiliki ketahanan fisik, sangat berbudi bahasa, terampil, sanggup memeriksa diri,hormat terhadap diri sendiri dan toleran.[7] Manusia atas ini sangat dekat dengan penggambaran atau typos dari “Dionysos” yang dipujanya. Sedangkan manusia kawanan tidak lebih dari sekelompok pengecut,,budak,tunduk,setia kawan dan terlalu banyak. Tipikal manusia massa cenderung emosional ketimbang rasional sehingga sangat mudah untuk digiring dan dimobilisasi untuk kepentingan sekejap.

Tuhan sudah mati

Term atau istilah tentang kematian Tuhan sebenarnya merupakan hanya sebatas kiasan simbolik yang didengungkan oleh Nietzche untuk mengisahkan keadaan sekuralisasi yang amat dasyat di Eropa kala itu. Jadi arti kematian Tuhan bukanlah sebuah deskripsi harafiah bahwa Tuhan benar-benar mati, melainkan sebuah ungkapan simbolik bahwa pikiran manusia yang senantiasa akan membebaskan keterikatan akan adanya makhluk transenden yang melampui alam yang disapa Tuhan dalam tradisi agama abrahamistik ini. Doktrin Nietzsche tentang kematian Tuhan dapat ditemukan di dalam karya yang berjudul The Gay Science. Karya ini juga merupakan tanda dari memuncaknya corak ateisme dari Nietche yang diperkuat pula oleh karya-karyanya seperti Antichrist dan Die Frohliche Wissenschaft (Pengetahuan Ceria). Dalam aforia pengetahuan ceria ini, Nietzsche bercerita tentang orang gila yang membawa lentera menyala ke pasar pada siang bolong dan mewartakan tentang “Tuhan sudah mati” dan “Kitalah yang membunuhnya”.

Baca Juga : Mengenal Pemikiran Arthur Schopenhauer

Bagi Nietzsche situasi dimana orang kehilangan Allah adalah situasi orang berada pada vase kreativitas dan kemerdekaan. Di mana pada suasana ini terbukalah horizon yang amat luas bagi segala energy kreatif untuk berkembang secara holistic. Tidak ada lagi sosok yang membatasi dan melarang sebagaimana yang terikat dalam tradisi agama. Manusia tidak lagi dibatasi dan diarahkan ke dunia transenden dan mencari suasan nyaman sebagai naungan atau patron yakni Tuhan. Manusia sudah menemukan Allah yang sebenarnya dalam dirinya sendiri sebagai preferensi yang tidak kala mandiri dan bermartabat.

Nihilism

Nihilisme merupakan paradoks dari situasi kemerdekaan manusia tanpa Tuhan. Sebagaimana kematian Tuhan yang berujung pada situasi kekosongan semisalnya kehilangan arah, kesendirian dan kesepian akhirnya mengantar manusia sperti berada dalam lautan luas dan kosong. Manusia pada posisi ini ekuavalen dengan situasi alienatif. Ketiadaan kultus akan Allah seperti yang dikaji oleh agama Kristen mengakibakan manusia seperti berjalan tanpa makna dan tanpa arti. Nilai yang dipegang teguh sebagai landasan etis dan moral akan menjadi kosong. Nilai akhirnya menjadi sesuatu yang ankredibel. Salah satu reaksi terhadap hilangnya makna kehidupan adalah mencuatnya apa yang disebut Nietzsche sebagai nihilisme pasif, yang serentak ia anggap merepresentasikan filsafat pesimisme Schopenhauer. Ajaran Schopenhauer, yang juga disebut Nietzsche sebagai Buddhisme Barat, adalah mengadvokasi pengunduran diri atau melepaskan dari kehendak dan keinginan dengan tujuan untuk bebas dari penderitaan. (Jalan pelepasan) Nietzsche mengafirmasi kosnep asketis ini sebagai “keinginan menuju ketiadaan”. Menurutnya, keinginan menuju ketiadaan ini juga bagian ciri khas kaum nihilis, meskipun dalam hal ini orang-orang nihilis tampak tidak konsisten; “keinginan menuju ketiadaan” ini masih merupakan suatu bentuk keinginan belum sebuah manisfestasi. Sementara itu, nihilisme aktif adalah persetujuan mutlak akan nilai-nilai dan makna. hilangnya moralitas dipandang sebagai kemenangan dan pembebasan, oleh karena itu manusia perlu menanggapinya dengan sukacita. Segala macam persoalan dan problematis dalam hidup manusia diterima dan diakrapi.

Penutup

Pemikiran Nietzsche merupakan sebuah pemikiran yang  dikenal sebagai gagasan akhir yang sekaligus menutup corak pemikiran dari masa modern. Ia memacu corak pemikiran kontemporer setelah dilandaskan oleh Kierkegaard yang selanjutnya dikembangkan filsuf-filsuf eksistensial semisalnya Heidegger dan Habermas. Ia menguburkan hakaikat transenden sebagai warisan metafisika tradisional, kritisme kant dan idealisme hegel sebagai basis pemikiran manusia dengan mengarahkan suatu khasanah pemikran baru yakni “manusia”. Corak eksistensial ini menjadikan Nietzsche adalah salah satu filsuf yang prihatin akan eksistensi manusia dimana manusia harus bisa memajukan hakaikat hidupnya sendiri seperi apa yang ia cita-citakan akan keadaan manusia dari masa depan seperti yang termuat di dalam konsep ubermenschnya. Tidak ada hakaikat lain di luar sana yang dapat membawa manusia pada kepenuhan berarti selain dari dalam dirinya sendiri. Manusia harus mematikan kebergantungan mentalitas berpikir seperti ini sehingga ia boleh lebih leluasa menemukan kemerdekaan diri dalam mengaktulisasikan dirinya dari pengaruh transendental lainnya. Oleh karena itu manusia unggul atau “manusia atas” harus diberdayakan. Selain itu ia juga melihat bahwa hampir seluruh dari apa yang dihasilkan kebudayaan dan peradaban manusia hingga saat ini tidak lebih dari ideology (kesadaran palsu).


[1] F.Budi Hadirman, Pemikiran Modern : Dari Machiavelli sampai Nietzche, (Yogyakarta : Penerbit Kanisius, 2019) hal.251

[2] https://id.wikipedia.org/wiki/Nietzche

[3] F.Budi Hadirman, Pemikiran Modern, Op.Cit,hal 252

[4] https://id.wikipedia.org/wiki/Nietzche, Op,Cit

[5] ibid

[6] F.Budi Hadirman, Pemikiran Modern, Op.Cit, hal.255

[7] Ibid,  hal,267

By Dino R

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Eksplorasi konten lain dari Patadela.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca