cute little girl in playground
Photo by Allan Mas on <a href="https://www.pexels.com/photo/cute-little-girl-in-playground-5623048/" rel="nofollow">Pexels.com</a>

Kali ini akan diuraikan suatu tema yang berjudul Hidup baik menurut Aristoteles. Tentu Hidup baik bagi siapapun adalah sesuatu yang sangat dikehendaki dan didambakan. Siapa pun orangnya selama bila masih ada bersama waktu untuk bernafas pasti ingin mendapatakn hal-hal yang baik. Hal-hal yang baik itu misalkan kebahagian diri, kesuksesan hidup, mendapatkan rejeki yang berlimpah dan lain sebagainya. Namun kita harus mengakui bahwa sepatutnya hal itu adalah sesuatu yang ideal atau terlalu jauh untuk mutlak didapatkan dalam praksis hidup manusia. Karena peristiwa kegagagalan hidup dan kepahitan sebagaimana dalam kehidupan manusia yang syarat akan rapuh tak bisa dielakan (Kenyataan Vulnerable). Akan tetapi terlepas dari semua itu, sebagai insan manusia yang berbudi dan memiliki daya pikiran, manusia perlu untuk mengetahui dan layak untuk memetakan mengenai hidup baik dan apa itu hidup baik sebagai bentuk direct (arah) hidupnya.

Mari kita melihat lebih jauh apa itu hidup baik. Dalam masa zaman Yunani Klasik,Seorang Filsuf yang telah disematkan namanya pada judul di atas yakni Aristoteles memberikan rumusan pendapat bahwa konsep hidup baik adalah suatu teknik untuk dapat bisa mengasah diri dan melatih diri agar bisa disiplin secara moral. Konsep ini adalah suatu konsep yang dikaitkan dengan konteks politik Athena zamannya yang termuat dalam karyanya yang berkategori Ethika (Nicomachean Ethics) yang sekarang lebih dikenal dengan Etika Politik. Aritoteles mengemukakan bahwa hidup baik harus diukur dengan hal-hal moral yang baik, maka ia menganjurkan agar seseorang sebelum terlibat dan dilibatkan di dalam kehidupan politik ia harus terlebih dahulu dididik dalam pembentukan dan olah perwatakan dalam hal-hal moralitas. Tujuan didikan ini adalah untuk melatih (Proses Endapan) pembiasaan atau habituasi akan moralitas yang baik.

Mengenai hal di atas jika ditarik dalam konteks kehidupan kita sekarang, tatanan hidup kita tak luput dari fungsi didik dan pembinaan moral sudah ada pada institusi prima misalkan dalam tataran budaya, pemerintah dan lembaga agama. Asosiasi social ini sangat berperan dalam meminimalisir potensi khaos manusia akan dekadensi atau kemerosotan nila-nilai moral, misalkan dalam kehidupan adat-istiadat telah ada ukuran atau porsi normative yang terbilang memadai yang dapat kita jumpai dalam pelbagai bentuk warisan budaya local baik yang bersiat lisan maupun non lisan. Begitupun juga dengan peran lembaga pemerintah melalui proses pendidikan di sekolah yang terkonsolidasi bersamaan dengan ajakan nilai-nilai cinta akan sesama dan Tuhan di dalam asosiasi agama.

Adapun ukuran akan kebaikan hemat saya sangat kompleks, karena hal-hal yang bersifat normatif bisa saja bersifat universal dan bersifat relatif. Sehingga kita bisa saja menjadi ambigu dalam proses identifikasi untuk menentukan mana yang dikatakan amoral dan mana yang dikatakan sebagai bermoral. Kembali kepada konsep Aristoteles, seseorang dikatakan baik apabila ia telah melakukan hal-hal yang adil yang tidak menimbulkan kerugian bagi orang lain. Yosef keladu[1] dalam buku Partisipasi politik menulis bahwa dalam term Nicomachean Ethics terdapat dua tema mengenai moralitas ini yakni  kebaikan dan kebajikan yang diuraikan oleh Aristoteles. Dan ironisnya adalah bahwa aristoteles secara paradoks menegasikan akan aktifitas politik sebagai sesuatu yang tidak mendukung tercapainya kehidupan yang baik. Lebih lanjut kebaikan menurut aristoteles adalah tentang hal-hal apa yang mendatangkan kebahagiaan. Ia merumuskan hal ini dengan istilah eudaimonia. Maksud Aristoteles adalah konsep kebahagian ini didapatkan apabila seseorang telah menjalani apa yang adil yang tidak berdampak rugi bagi orang lain.

Kebahagian ini bisa hadir melalui prestasi yang akan melahirkan prestise seseorang. Selain kebahagian ada juga term  Kebajikan, dimana term ini  berkaitan dengan eksistensial tata adat dan tingkah laku manusia yang harus dilakukan dalam persekutuan atau koinonia. Dalam karya Aristoteles lanjut Yosef keladu bahwa terdapat dua model kebajikan yakni kebajikan intelektual dan kebajikan moral.

Kebajikan menjadi suatu kapasitas dari kebahagiaan mengingat bahwa hal ini menjadi instrument proses disiplin seseorang dalam kehidupan riilnya terutama seperti yang diinginkan oleh Aristoteles dalam Kesadaran Politisnya bersama dengan yang lain di dalam kelompok polis (Kota). Kebajikan intelektual adalah suatu yang berkesinambungan dan selaras antara pemikiran budi dan kehendak. Hal ini dapat kita aplikasikan ke dalam sebuah proses moralitas peran tindakan apakah benar-benar ada murni sebagai tujuan di dalam dirinya sendiri ataukah terdapat indikasi intrik politis (rasional strategis).

Kebajikan intelektual mencerminkan sebuah proses yang murni dan polos dari tujuan ide dan gagasan tersebut. Begitupun juga dengan perihal kebajikan moral, bahwa berlaku moral tidak sekedar agar dilihat baik melainkan harus hadir sebagai sesuatu yang alamiah atau tidak direkayasa. Inilah batas-batas kebajikan yang digagaskan seturut Aristoteles seperti yang termuat di dalam Ethica Nicomachean.

Dari uraian-raian di atas, telah diberikan pemetaan konseptual pada otak kita bahwa pada hakaikatnya konsep hidup baik itu tidak terlepas berbeda dengan konteks tuntutan etika dunia modern dewasa sekarang. Di mana kita hidup pasti selalu punya standar dan tuntutan normatif yang  berlaku. Sekiranya sumbangan gagasan ini konsep hidup baik menurut Aristoteles memberikan kita sebuah impuls refleksti yang bisa mendukung akan spirit untuk melakukan kebaikan.

Kepustakaan : Keladu Koten. Yosef. Partisipasi Politik. Maumere : Penerbit Ledalero, 2010.


[1]  Yose Keladu koten merupakan salah seorang dosen Filsafat khususnya Filsafat Politik pada STFK Ledalero (IFTK Sekarang).

By Ardy G

Pernah belajar di bidang Filsafat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Eksplorasi konten lain dari Patadela.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca