soldier-military-uniform-american.jpg
Photo by Pixabay on <a href="https://www.pexels.com/photo/soldier-giving-red-fruit-on-2-children-during-daytime-36785/" rel="nofollow">Pexels.com</a>

Uraian tentang imperatif kategoris dalam sejarah pergumulam filosofis bagi yang sudah mengakrabi dengan kajian-kajian filosofis akan tidak asing dengan term yang satu ini. Term ini digagas oleh tokoh abad pencerahan asal prusia, Jerman yaitu Immanuel Kant. Ia merupakan seorang pemikir brilian yang mengupas perihal Kritisime sebagai solusi jalan tengah antara Rasionalisme dan Empirisme yang tengah mengalami perselisihan saat itu. Imperatif kategoris sendiri merupakan bagian isi dari kajian karyanya dalam Krikik akal budi praktis. Selain karya Akal Budi Praktis, Kant sendiri juga menerbitkan karya pertamanya yang sekaligus merupakan opus magnumnya yaitu Kritik akal budi murni.

Imperatif kategoris adalah lawan dari imperatif hipotetis yang sama-sama diterbitkan oleh kant. Jika imperatif kategoris merujuk kepada maksim atau perintah tak bersyarat maka dalam imperative hipotetis akan merujuk kepada sebuah maksim yang melandaskan pada perintah-perintah bersyarat. Perintah tak bersyarat adalah sebuah maksim yang bersifat “seharusnya”  dilakukan (Das sollen) dalam situsai dan keadaan manapun, sedangkan imperatif hipotetis adalah sebuah perintah besyarat yang berciri lebih khusus dan parsial. Di dalam perintah bersyarat ini memungkinkan sebuah kualifikasi dan procedural tertentu sebelum seseorang melakukan maksim tersebut. Namun kedua-duanya juga sama-sama sebagai sebuah prinsip moral untuk prasyarat bagi nilai dan keutamaan hidup sebagai manusia yang berciri dan berlaku moral baik.

Baca Juga : Mengenal Kritisisme Immanuel Kant

Meski kedua maksim ini merupakan sama-sama perihal moral, namun bagi Kant imperatif kategoris lah yang lebih dianggap sebagai perintah berciri moral karena di dalam imperatif kategoris ini  diperintahkan sesuatu bukan untuk mencapai tujuan tertentu, melainkan karena perintah itu baik pada dirinya dan imperative ini bersifat a priori. Adapun bunyi perintah tersebut adalah sebagai berikut

Bertindaklah seolah-olah maksim tindakan Anda melalui keinginan Anda sendiri dapat menjadi sebuah Hukum Alam yang Universal.”

Dalam imperative di atas kita diajak agar tindakan kita berangkat dari kesadaran diri yang sesuai dengan kebaikan umum dan menjadi sebuah hukum umum atau uniersal misalkan tindakan saya menolong seseorang yang sedang jatuh motor merupakan ajakan yang masuk sesuai dengan hukum universal. Artinya perintah ini merupakan perintah rasio praktis yang dilaksanakan tanpa syarat. Selain itu perlu kita dalami lagi mengenai bunyi maksim tambahan adalah sebagai berikut, bahwa :

Bertindakah sedemikian rupa sehingga Anda selalu memperlakukan umat manusia entah di dalam pribadi anda maupun di dalam pribadi setiap orang lain sekaligus sebagai tujuan, bukan sebagai sarana belaka.” Artinya manusia tidak baik melihat tujuan di dalam manusia lain sebagai sarana melainkan melihat tujuan itu sebgai sesuatu yang baik dilakukan di dalam dirinya sendiri.[1]

Baca Juga : Periode Sejarah Pencerahan Eropa

Mengenai kedua maksim Kant ini, jika dikontekskan ke dalam realitas real, persoalan ini merupakan persoalan moral yang sudah menjadi asas bawaan yang terkandung di dalam pemikiran asali manusia sebagai makhluk yang berkehendak baik. Entah itu kesadaran ini dijalani secara baik atau tidak (sering diabaikan) adalah persoalan privasional, namun kesadaran tersebut sudah menjadi unsur natura di dalam pemikiran manusia.  Maksim ini pada hakaikatnya sejalan dengan impertif-imperatif di dalam kehidupan moral bersama lainnya begitupun juga yang telah disadurkan di dalam pesan-pesan teks-teks kitab suci dalam agama-agama tertentu. Kant mengulasnya dalam bentuk refleksi-filosofis dengan batasan-batasan rasional kognitif. Semoga karya ini berguna untuk kita semua.


[1] F.Budi Hadirman, Pemikiran Modern : Dari Machiavelli sampai Nietzche (Yoyakarta : Penerbit Kanisius, 2019) hal.145

By Ardy G

Pernah belajar di bidang Filsafat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Eksplorasi konten lain dari Patadela.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca