Oleh : Richardus Adrianus Gae                                        

Pengantar

Ja’i laba go adalah sebuah nama tarian kultural yang berasal dari komunitas masyarakat Ngadha yang berada di Flores, NTT. Masyarakat Ngadha terakomodir ke dalam satuan pemerintahan administrasi Kabupaten Ngada dengan ibu kota Bajawa. Tarian ja’I ini umumnya sangat hidup dalam tradisi ritual dan pergelaran adat budaya masyarakat setempat. Mari kita lihat uraian selanjutnya.

           Sebagaimana pada peradaban masyarakat umumnya, Masyarakat Ngadha tentu merupakan termasuk salah satu kelompok masyarakat yang memiliki jiwa seni yang tinggi. Selain dengan jiwa seni yang tinggi orang Ngadha juga memiliki kelekatan akan luhurnya warisan nilai budaya yang besar. Sebagai masyarakat yang memiliki jiwa seni dan rasa budaya yang besar, orang Ngadha telah banyak menghasilkan karya seni dalam prose peradabannya, yang kemudian diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Salah satu dari warisan budaya dari sekian banyak corak budaya yang dapat diketahui ialah semisal tarian. Tarian yang sebagai warisan budaya tersebut, dalam masyarakat ngadha dinamakan dengan ja’I. ya, jai secara khusus bukan lagi menjadi popular dalam internal masyarakat ngadha sendiri melainkan sudah trending dan familiar dalam masyarakat NTT secara umum.

Baca Juga : Tea eku dalam Modernitas

Ja’i: Tarian Masyarakat Ngadha

Tarian ja’I biasanya dibawakan secara massal oleh masyarakat Ngadha. Tarian ja’i umumnya mau  mengungkapkan rasa syukur masyarakat Ngadha atas segala berkat dan keberhasilan yang telah dicapai. Tarian ja’I juga memiliki makna dalam kehidupan masyarakat Ngadha[1] Tarian ini disebut tarian ja’I laba go (laba go = gong gendang) karena tarian ini diiringi dengan musik tradisional berupa gong gendang. Tarian ja’I biasa dipentaskan pada saat- saat khusus, memeriahkan pesta rumah (ka buku sa’o). pesta ngadhu dan bhaga, dan pesta-pesta lainnya.[2]

            Tarian ja’i memiliki ragam yang khas serta melibatkan banyak orang. Dalam tarian ja’i terdapat dua gerakan dasar, yakni gerakan maju dan gerakan mundur. Gerakan maju, yang disebut pera, dilakukan oleh semua penari dengan mengikuti irama gong dan gendang.  Sedangkan gerakan kedua merupakan gerakan berputar di tempat sambil menari. Gerakan ini dinamakan kijo ( atau peso). Kijo dilakukan sebanyak dua kali dalam setiap gerakan sembari merentangkan kedua tangan mengikuti tiruan bentangan sayap burung. Kedua gerakan ini dilakukan secara bergantian dengan memperhatikan irama gong dan gendang. Setelah maju beberapa langkah, para penari melakukan gerakan putar di tempat sambil mengangkat tangan. Jika dilakukan di halaman rumah, maka tarian ini dilakukan dengan mengitari halaman rumah. Namun, gerakan mengitari halaman rumah dilakukan berlawanan dengan arah jarum jam. Dalam bahasa Bajawa, gerakan yang berlawanan dengan arah jarum jam disebut kago wana.[3]

            Dalam tarian ja’I, para penari berbaris lurus dengan formasi dua barisan membentuk angka sebelas dan memanjang. Ketika membentuk tarian ini, peran pemimpin tari sangat penting. Seorang pemimpin menentukan tarian yang baik dengan memberikan ragam gerakaan untuk dikikuti oleh peserta tarian yang lain. Biasanya pemimpin menempati posisi terdepan. Da dalam tarian ini , posisi barisan penari pria selalu berada di depan barisan penari wanita. Hal ini mempunyai filosofi dimana mau menggambarkan peran kaum pria yang melindungi kaum wanita, layaknya saat menyonsong perang. Dalam tarian ini, tidak ada anggota yang saling mendahului yang lain. Para penari tetap setia pada urutan dalam barisannya masing-masing. Hal ini menggambarkan keteraturan dalam konteks hidup nyata.[4]

Perkembangan Tarian Ja’i

Dalam perkembangannya, tarian ja’I sangat diminati oleh banyak orang. Hal ini disebabkan karena gerakannya yang sederhana dan mudah, namun indah dan menawan. Hal ini menyebabkan banyak masyarakat yang sangat menyukai tarian ja’i. Dewasa ini, tarian ja’I tidak hanya dipentaskan saat pesta adat saja. Tarian ja’i juga dipentaskan di acara- acara lain, seperti pesta nikah. Namun, tarian ja’i  yang dibawakan di luar pesta adat atau momen-momen resmi budaya merupakan tarian jai’i yang sudah dimodifikasi dengan tidak melakukan gong gendang melainkan penyesuaian dengan ieama musik.

Dalam konteks lain, Tarian ja’i juga dipentaskan dalam perayaan ekaristi. Hal ini bukan merupakan suatu bentuk atraksi budaya dalam perayaan ekaristi. Melainkan suatu bentuk inkulturasi budaya dalam perayaan ekaristi. Maksud tarian ja’I yang dibawakan dalam perayaan ekaristi adalah integras buadaya ke dalam ritus gerejawi dengan corak budaya khas lokal yang juga sudah Nampak pada pemujaan terhadap konsep yang lebih tinggi yaki dewa zeta nitu zale. Tarian jai saat inkulturasi dihayati sebagai bentuk devosi dan rasa syukur kepada Tuhan atas segala berkat yang telah diterima oleh masyarakat Ngadha. (Editor : Ardy G.)  


[1] http://www.negerikuindonesia.com//2015/09/tari-jai-tradisional-dari-flores.html, diakses 29 Januari 2016.

[2] Yosef Rawi,”KebudayaanNgadha-Teks”.Buku 3.Diktat: Bajawa,2007,hlm.48.

[3]  Yosef Rawi,Op.Cit.,hlm.49.

[4]  http://ferdinandus-dy.blogspot.co.id/2014/12/tarian -jai-bajawa-flores-ntt.html,diakses 29 Januari 2016. 

By Ardy G

Pernah belajar di bidang Filsafat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Eksplorasi konten lain dari Patadela.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca