Ajaran tentang Kabala (קַבָּלָה; vokalisasi Ibrani: Qabbālā; vokalisasi Tiberias: Qabbālāh; secara harafiah berarti “menerima” dalam pengertian suatu “tradisi yang diterima ” diketahui dikembangkan oleh Gioanni Pico Mirandola (1463-1540). Dikutip dari laman wikipedia.org, menurut tradisi Yahudi Kabala berasal sejak Adam, meskipun para rabi liberal yang modern mengakui asal-usulnya muncul pada abad ke-13. Pengetahuan ini diturunkan sebagai sebuah wahyu untuk memilih orang-orang suci dari masa lampau yang jauh, dan sebagian besar, dilestarikan hanya oleh segeliintir orang yang beruntung. Maka Kabala juga merupakan ajaran mistik yang terkait dengan teologi Ibrani dan dilihat sebagai wahyu khusus Allah kepada orang Ibrani agar mereka mengenal Allah lebih baik dan mengikuti Kitab Suci lebih baik[1]. Kabbalah juga mempertautkan antara dua aspek yakni teoritis-doktrinal (yang meliputi penafsiran alegoris atas Kitab Suci) dan aspek praktis-magis yang bertujuan untuk mewujudkan kontemplasi, baik dalam bentuk yang lebih dekat kepada sihir, dibangun di atas dasar dugaan tentang kekuatas suci bahasa Ibrani dan atas kekuatan yang berasal dari roh yang dipanggil, juga dengan sepuluh nama yang menumjukan kekuatan dan nama-nama Allah, yang disebut sefirot.[2] Mistik kabbalah dalam hal ini kekuatan spirit kontemplatif mengantar manusia dengan kesadaran jiwanya kepada hal-hal yang tak dapat dijangkau.

Kabbalah sendiri muncul sebagai sesuatu bentuk usaha kaum yahudi untuk menafsirkan Tuhan mereka secara mistik dan simbolik terlepas dari usaha untuk menjelaskan Tuhan Alkitab secara rasional-filosofis. Meski terbilang sangat minoritas diawal namun dalam masa yang kemudian praktik kabbalah mendapat antusias dan peminat yang terbilang banyak. Bagi seorang Kabbalis Tuhan dalam dirinya sendiri tidak dapat diketahui, tidak bisa dikonsepsikan dan bersifat impersonal, dan mereka menyebut Tuhan yang tersembunyi itu En Sof (Yang Secara harafiah berarti “tanpa akhir”).[3] Diketahui praktik mistik ini mulanya berkembang di Spanyol (Sephardik) pada Abad Pertengahan berdasarkan doktrin tentang sepuluh sefirot dan 22 huruf Ibrani. Menurut Kabbala, abjad Ibrani mengandung nama-nama Allah, mencerminkan hakikat dasar rohani dunia dan bahasa kreatif Allah. Penciptaan adalah ekspresi Diri Allah yang terselubung. Seorang kabbalis dapat merenungkan Allah dan karya-karyanya melalui permenungan terhadap huruf-huruf Ibrani dan kombinasinya yang dilihat mempuyai daya mistik ke-Allahan yang luar biasa. Sama seperti yang telah disinggung sebleumnya bahwa yang “tanpa akhir” dapat diraskan melalui permenungan ini (en sof). Dan konsep en sof ini lebih bersifat mistik ketimbang YAHWEH yang lebih terlihat personal di dalam kitab suci. Sebuah daya ilahiah yang terlihat sudah memudar karena gerakan kekristenan, Kabbalah menggerakan kembali daya spiritual bagi komunitas Yahudi melalui gerakan mistik ini bahkan juga dilihat sebagai sesuatu yang tidak menyeleweng dari peristiwa Hesed atau kasih penebusan Allah kristiani melalui salib Yesus. Misalnya model Kabala yang diperkenalkan oleh Abulafia yang menghargai Tuhan Kabbalistik dengan Teologi Trinitas.

Baca Juga : Torah (taurat) : 5 instruksi falsafah Yahudi

Nama-nama kesepuluh sefiroth tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Kether Elyon “Mahkota Tertinggi”
  2. Hokhmah “Kebijaksanaan”
  3. Binah “akal”
  4. Hesed “Cinta atau Pengampuna”
  5. Din “Kekuasaan” (biasanya terwujud dalam keadilan yang tegas”)
  6. Rakhamim “kasih saying”
  7. Netsakh “keabadian”
  8. Hod “keagungan”
  9. Yesod “fondasi”
  10. Malkuth “Kerajaan” juga disebut “ Shekinah”.[4]
person covered in tallis reading a holy book, Kabala.
Photo by cottonbro studio on Pexels.com

Selain itu juga diketahui bahwa naskah yang terkenal dan berpengaruh dari Kabbalah adalah Zohar (Kitab Kemegahan) yang ditulis diperkirakan sekitar tahun 1275 oleh ahli mistik  Yahudi Spanyol , Musa dari Leon. Karen Armstrong dalam Sejarah Tuhan menggambarkan bahwa Zohar merupakan sejenis novel mistikal, yang mengisahkan tentang perjalanan spirit ahli talmud pada abad ketiga , Simeon ben Yohai dengan putranya Eliezar mengelilingi palestina dan berbicara kepada pengikutnya tentang Tuhan, alam semesta dan kehidupan manusia. Selain itu lanjut Karen Zohar menampilkan emanasi misterius dari kesepuluh sefiroth sebagai proses yang dengannya en sof yang impersonal menjadii personal, seperti dalam sefiroth tertinggi (Kether,Hokhmah, dan binah) ketika En Sof “memutuskan” untuk mengungkapkan diri,barulah realitas ketuhanan itu dapat dirujulk sebagai persona atau oknum yang termanifestasi dalam shekinah atau malkuth melalui sefiroth tengah -Hesed, Din, Tifereth,Netsakh,Hod dan Yesod untuk menjadi Tuhan seorang individu “aku” yang memudahkan dan memungkinkan perjalanan mistiknya manusia secara perlahan kemudian naik ke tataran impersonal dalam memahami hakaikat yang lebih dalam melalui kesadaran jiwanya. Sehingga hemat saya Sefiroth seperti sebuah tahapan atau tangga untuk manusia dalam menyingkapkan kepada hal-hal yang impersonal melalui kesadaran mistik. Sehingga tidak meengherankan bahwa untuk mempelajari kabala disarankan sesudah mencapai empat puluh tahun usia seseorang.


[1] Frans Cheunfin, Sejarah Pemikiran Modern (Ms), Maumere, STFK Ledalero 2003, hal.20

[2] Ibid, hal.21.

[3] Karen Armstrong, Sejarah Tuhan : Kisah 4000 tahun Pencarian Tuhan dalam Agama-agama Manusia, (Jakarta : Penerbit Mizan, 2005) hal.358

[4] Ibid, hal.359

By Ardy G

Pernah belajar di bidang Filsafat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Eksplorasi konten lain dari Patadela.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca