bionic hand and human hand finger pointing
Photo by cottonbro studio on <a href="https://www.pexels.com/photo/bionic-hand-and-human-hand-finger-pointing-6153354/" rel="nofollow">Pexels.com</a>

Pendahuluan

Dewasa ini kehadiran Inteligensi Artifisial (IA) dalam perannya menjawabi kebutuhan tugas-tugas manusia tentu tidak dapat dielakan lagi mengingat kecepatan dan respons dari teknologi ini yang terbilang sahih dan akurat dalam menyediakan pekerjaan instant tugas manusia dan fungsi pelayanan informasinya. Sistem kecerdasan buatan ini telah mendatangkan afirmastif positif dan juga negatif. banyak yang mendukung akan kehadiran kecerdasan buatan ini, namun ada pula yang ikut memberikan tanggapan kontra akan kehadiran teknologi ini. Perkembangan AI ini terus eksis dan inovatif sejak pertama kali ditemukan oleh ahli maematika Alan Turing pada 1950. Diprediksikan oleh Alan Turing bahwa akan ada situasi di masa depan bahwa mesin dapat meniru dan mengikuti persis mekanisme kerja manusia . Hipotesis ini dapat kita temukan dalam tulisannya yang berjudul Computing Machinery and Intelligence dimana dikeluarkan pernyataan yang membangkitkan semangat pengembangan AI. Turing menyatakan bahwa jika manusia mampu menyelesaikan masalah dan membuat keputusan berdasarkan informasi dan tatanan yang tersedia, mengapa mesin tidak bisa melakukan hal yang sama? Perkembangan dan inovatif teknologi informasi inilah akhirnya kita menikmati kehadiran AI dewasa ini. Aplikasi IA mencakup berbagai bidang seperti pemrosesan bahasa alami, pengenalan wajah, pengambilan keputusan otomatis, hingga kendaraan otonom. Dalam beberapa dekade terakhir, kemajuan pesat di bidang IA telah membawa perubahan signifikan dalam cara kita bekerja, belajar, dan hidup. Oleh karena itu AI juga menandakan bahwa adanya pemikiran manusia yang terproyeksi, karena telah mengkondisikan kumpulan benda-benda mati yang tersusun untuk berpikir seperti manusia bahkan hendak mendekati manusia yang menyertakan peran perasaan sebagai sensorif dalam dalam proses berpikir.

robot pointing on a wall, Inteligensi Artifisial
Quantum AI, Photo by Tara Winstead on Pexels.com

Baca Juga : Mengetahui Tentang Kritisisme Immanuel Kant

Peran Inteligennsi Artifisial

Pada sisi lain, hal-hal yang menjadi kekuatan positif dari adanya Inteligensi Arttifisial adalah perannya secara cepat dalam menyediakan dan menyajikan kebutuhan kerja manusia dalam bekerja dan operasi. Hal ini hampir kita temukan pada hampir semua bidang kehidupan manusia yang tidak bisa kita menyangkalnya. Adapun peran-peran AI tersebut yang dapat kita temui adalah seperti berikut :

  1. Otomatisasi Tugas Secara Kontinu dan Berulang : IA sangat efektif dalam melakukan tugas-tugas berulang dan rutin yang memerlukan presisi tinggi. Misalnya, dalam industri manufaktur, robot yang didukung oleh IA mampu bekerja tanpa henti dengan minim kesalahan.
  2. Analisis Data dan Prediksi: Sistem IA mampu menganalisis sejumlah besar data lebih cepat dan akurat daripada manusia. Mereka bisa menemukan pola dan membuat prediksi yang berguna dalam bidang seperti kesehatan, keuangan, dan pemasaran.
  3. Personalisasi Layanan: Melalui analisis data pengguna, algoritma IA dapat memberikan rekomendasi yang dipersonalisasi. Contohnya adalah layanan streaming seperti Netflix yang merekomendasikan film berdasarkan riwayat tontonan pengguna.
  4. Asisten Virtual: Asisten digital seperti Siri, Google Assistant, dan Alexa menggunakan IA untuk memahami suara pengguna dan memberikan respon yang relevan.

Suportif IA terhadap Tugas Manusia : Minus Malumnya

Adapun beberapa kinerja IA yang dapat mempercepat tugas manusia beserta catatan minusnya :

  1. Perubahan dalam Pengambilan Keputusan: IA dapat membantu manusia dalam pengambilan keputusan dengan menyediakan analisis data yang mendalam dan insight yang biasanya tidak terlihat oleh manusia. Namun, ini juga mengurangi kebutuhan manusia untuk melakukan pengolahan data secara manual dan pengambilan keputusan berdasarkan intuisi.
  2. Pengembangan Kreativitas: Dengan adanya IA, manusia kini lebih fokus pada tugas-tugas yang membutuhkan kreativitas dan empati, dua hal yang masih sulit dicapai oleh mesin. Sementara IA mengurus tugas-tugas rutin, manusia bisa mengarahkan perhatian mereka pada inovasi dan ide-ide baru.
  3. Ketergantungan Teknologi: Peningkatan penggunaan IA dapat menyebabkan ketergantungan yang berlebih pada teknologi. Ada risiko bahwa manusia akan kehilangan kemampuan untuk berpikir kritis dan memecahkan masalah tanpa bantuan teknologi.
  4. Kompleksitas Etnis dan Keamanan: Penggunaan IA menimbulkan berbagai isu etis, seperti bias algoritma dan privasi data. Penting untuk ada regulasi dan kontrol yang memastikan bahwa penggunaan IA tetap adil dan aman.

Penutup dan Catatan Kritisnya

Kecerdasan buatan manuisa ini memang terbilang begitu progres secara akselaratif dalam membantu kinerja manusia dalam menjalankan tugsanya. Ada banyak hal positif dimana manusia dipermudah karena tugas-tugas manusia digantikan oleh ciptaannya dalam melakukan pekerjaan tersebut. Ia mampu menghimpun data yang dibutuhkan manusia dalam hitungan detik yang memanfaatkan akses IA yang saling terhubung dan terkonektivitas antar server dengan quantumnya yang sangat canggih yang memuat data-data yang hampir tersebar dan terekspos dari seluruh belahan dunia. Namun di samping itu manusia sebagai tuannya harus bisa membatasi diri secara berlebihan untuk bergantung pada teknologi ini sekaligus menjaga kemungkinan kerusakan yang terjadi akibat adanya IA yang mana dimaksudkan adalah dampak buruk yang akan membunuh manusia itu sendiri dalam aspek latar kehidupan manusia lainnya. Kita mengakui bahwa dengan adanya IA ini manusia telah mengadakan sesuatu yang dapat bertindak lebih kuat dari sisi menghitung dan bekerja termasuk dalam hal mengambil alih pemikiran. Namun hal yang menjadi kekurangannya adalah manusia akhirnya mengandalkan data IA tanpa harus menyimpan data dalam otaknya untuk berpikir dan bertindak. inilah hal yang harus digaris bawahi agar ketergantungan pada IA tidak boleh secara mutlak diterima karena dengan mekanisme robotik dalam operatifnya yang terkadang menyediakan informasi yang bisa saja ambigu. Manusia tidak boleh mengadopsi mentalitas robotik ini. Sehingga kemanusiaanya tetap mendapat tempat yang dominan.

By Dino R

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Eksplorasi konten lain dari Patadela.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca