Ketika membuka isi buku yang berjudul “Membongkar rezim kepastian- Pemikiran Kritis Post-Setruktualis” saya terkesima dengan untaian kata yang berbunyi demikian; “kekuasaan itu memesona, Orang rela menderita demi kekuasaan“. Kata-kata ini dituangkan oleh seorang pemikir kontemporer Prancis Michel Foucault yang mana ia membahasakan kalimat ini dalam upaya menyelami hakaikat dan fenomena tentang kekuasaan serta sekaligus mau menyertakan aspek kegilaan akan apa yang terjadi di balik term kekuasaan. Dan tentu term kekuasaan ini tidak hanya relevan dengan aktualitas peristiwa elektoral yang barusan dijalani oleh masyarakat Indonesia dalam proses penentuan sikap politiknya atas siapa yang akan menduduki kursi kepresidenan untuk periode lima tahun ke depan, akan tetapi term kekuasaan yang dimaksudkan khususnya kekuasaan menurut Michel Foulcault adalah lebih dari tataran ini yakni berpretensi melampui batas-batas lokalitas kategorial tertentu dan potensial bisa terjadi di mana-mana, ia bukan saja terjadi di dalam birokrat seperti interaksionis antara atasan dan bawahannya namun juga beroperasi melalui mekanisme-mekanisme sosial yang dibangun atas semangat dedikasi untuk menjamin kesehatan, pengetahuan dan kesejahteraan.

Baca Juga : Etika Politik dan Pemilu

Mengenai riwayat hidupnya, K.Bertens menulis bahwa Foucault lahir di Poitiers pada tahun 1926 serta berasal dari kalangan medis yang mana ayahnya adalah seorang ahli bedah. Sedianya orang tuanya mengharapkan Michel menekuni profesi yang sama namun ia lebih tertarik pada studi filsafat, sejarah dan psikologi. Ia belajar pada École normale supérieure pada 1945 serta menjalani studi di bawah bimbingan G. Canguilhem, G. Dumezil dan J. Hyppolite.  Pernah menjadi anggota Partai Komunis Prancis sampai tahun 1951. Selain itu, kendati lebih menekuni filsafat ia juga mempunyai pemikiran dalam bidang medis yakni tentang psikopatologi.[1] Karya-karyanya dapat kita kenal semisalnya Maladie mentale et personnalite (Penyakit Jiwa dan Kepribadian), Maladie mentale et psychologie (Penyakit Jiwa dan Psikologi) Histoire de la folie (Sejarah Kegilaan), L’archeologie du savoir / The arch of a knowlogy (Arkeologi Pengetahuan) Histoire de la sexualite (Sejarah Seksualitas). Tentang pemikir yang sangat berpengaruh bagi pergumulan intelektualnya adalah Marx dan Nietzsche. Ia meninggal pada usia 57 tahun dan diduga sebagai korban dari penyakit AIDS.[2]

Sekarang mari kita melihat lebih dalam aspek kekuasaan yang dipahami menurut Foucault. Tentu selain Michel sudah banyak pemikir-pemikir tardahulu yang menyinggung tentang aspek kekuasan sebagai bagian dari kajian analisis filosofisnya. Kekuasan dalam perpektif mereka adalah sebagai berikut ; Hobbes dan Locke mengemukakan bahwa Pelaksanaan kekuasaan pertama-tama harus melalui kekerasan (Vioelence) atau persetujuan, Freud dan Reich mengatakan Kekuasaan pertama-tama karena represi atau bentuk tekanan intimidasi lainnya, Machiavelli menempati kekuasaan dalam kategori politik di mana ia melihat bahwa kekuasaan merupakan tempat pertarungan kekuatan dan Marx melihat bahwa Kekuasaan adalah dominasi dari suatu kelas yang didasarkan pada penguasaan atas ekonomi dan manipulasi ideology. Foucault tidak saja memetakan aspek kekuasaan dalam hubungan dengan suatu bidang kategorial saja melainkan melihatnya sebagai suatu bagian dari interkoneksi antar pelbagai bidang kehidupan. Kekuasaan merupakan perang bisu yang menempatkan konflik dalam berbagai institusi sosial, dalam ketidaksetaraan ekonomi, dalam bahasa, dan bahkan dalam tubuh kita masing-masing.[3] Jadi kekuasan itu bukanlah hubungan kasualitas subyektif atau searah namun ia tidak dapat dilokalisasikan dan tersebar yang menjangkau pelbagai organisasi dan struktur sosial secara serentak dan bersamaan.

Baca Juga : Positivisme Aguste Comte (Filsafat Positif)

Adapun beberapa poin penting sehubungan dengan kekuasan menurut Michel Foucault adalah sebagai berikut :

  • Kekuasaan bukanlah milik melainkan strategi. Menurutnya kekuasan itu dipraktikan dalam suatu ruang lingkup tertentu di mana ada banyak posisi yang secara strategis berkaitan satu sama lain dan senantiasa mengalami pergeseran.
  • Kekuasaan tidak dapat dilokalisasi tetapi terdapat di mana-mana. Dimana saja terdapat susunan, aturan-aturan, system-sistem regulasi, di mana saja ada manusia yang mempunyai hubungan tertentu satu sama lain dengan dunia, di situ pun kuasa sedang bekerja.
  • Kuasa tidak saja bekerja melalui penindasan dan represi, tetapi terutama melaului normalisasi dan regulasi. Misalkan trend mengikuti perkembangan zaman, selera makan, gaya rambut dan sebagainya dapat dilihat sebagai teknik kekuasaan.
  • Kuasa tidak bersifat destruktif melainkan produktif. Menolak kuasa adalah strategi kuasa itu sendiri.[4] kontrol kekuasan yang dilakukan oleh kekuatan oposisi dalam kritik pemerintahan sebenarnya merupakan pengejawentahan akan peran kuasa itu sendiri.

Peran pemikiran akan kekuasaan menurut Michel Foucault sebenarnya mau menyadarkan kepada kita bahwa kekuasaan itu tidak asing dan berada dalam kondisi terpisah jarak melainkan kekuasan itu sebenarnya bisa berada dan datang dari dalam diri kita sendiri yang kadang jarang disadari. Ia bisa Nampak dalam proses simbolik yang hidup dalam situasional masyarakat yang laizim diposisikan sebagai aktifitas mental dalam keinginan untuk menghendaki orang lain. Kekuasan bukanlah aktifitas tunggal dan searah namun  nampak  sporadis serta berjamaah. Jadi apabila Prabowo dilantik menjadi Presiden kekuasaan itu tidak saja menjadi milik Prabowo namun juga menjadi milik dari pihak-pihak yang terkoneksi dalam jaringan bahasa dan komunikasi bersamanya saat ia memimpin termasuk juga mereka yang mendukung Prabowo.


[1] K.Bertens, Filsafat Barat Konteporer Jilid II Prancis, (Jakarta : Penerbit Gramedia, 2019) hal. 289

[2] Ibid, hal. 292

[3] Haryatmoko, Membongkar Rezim Kepastian : Pemikiran Kritis Post- Strukturalis, (Yogyakarta : Penerbit Kanisius, 2022) hal.14-15

[4] K. Bertens, Filsafat Barat KontemporerOp.Cit, hal.311-314

By Ardy G

Pernah belajar di bidang Filsafat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Eksplorasi konten lain dari Patadela.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca