Pada hari sabtu tanggal 11 Mei 2024 sang kritikus kondang Rocky Gerung akhirnya menyempatkan diri untuk datang ke Ledalero guna memberikan ceramah pikiran sehubungan dengan penyelenggaran pesta demokrasi pemilu 2024. Adapun hal yang mau diangkat di hadapan 1800 civitas akademika ledalero tersebut adalah evaluatif tentang isu rasional politik di indonesia dalam hal ini adalah politik elektoral 2024 baru-baru ini. Sehingga tema yang diangkat “Mendiagnosis Kesehatan Repoblik Indonesia Pasca Pemilu 2024 ” ini merupakan usaha untuk mengupas akan hal ini yang meskipun hanya dalam batasan langkah evaluatif. Kehadiran Rocky Gerung yang merupakan seorang cendekiawan serta sang oposisi tunggal bagi pemerintah sangat disambut baik dan dibanggakan oleh komunitas ledalero yang memiliki kesamaan geneologi dengannya dalam bidang ilmu filsafat.

Baca Juga : Membaca Populisme di Indonesia

Secara komprehensif adapun yang mau disinggung oleh nya adalah penyelesaian soal krisis etis dalam bernegara di repoblik ini, karena persoalan etis merupakan hal penting dalam etika bernegara yang mana jika dibiarkan akan menjadi sebuah batu sandungan bagi kehidupan demokrasi itu sendiri. Hal lain pun yang hendak dikritisinya adalah masalah tirani yang mana putusan dan kebijakan negara akhirnya dikendalikan ole satu orang dengan memanfaatkan setiap instrumen negara. “Bagi mereka yang memuja cincin, moral itu tidak ada” pungkas Rocky yang hendak mengkritisi setiap kebijakan dalam hal ini kebijakan Presiden yang dianggap melanggar etika di dalam bernegara. “Cincin” adalah semiotika Rocky yang dipakai untuk menggambarkan keadaan pemimpin yang senantiasa mengambil kebijakan yang bersifat sepihak dan otoriter. Beliau juga perihal tebusan yang cenderung dipakai sebagai gratifikasi misalkan bantuan-bantuan yang bersifat semu seperti kebijakan bansos dan makan siang gratis yang tidak mencerminkan respublika.

Rocky Gerung Mendiagnosis Kesehatan Repoblik Indonesia Pasca Pemilu 2024 di Ledalero,
Rocky Gerung pada kesempatan Kuliah Umumnya dengan judul “Mendiagnosis Kesehatan Repoblik Indonesia Pasca Pemilu 2024″di Audiotorium ST. Thomas Aquinas, Ledalero , Foto by : Itfk ledalero.ac.id

Perjalanan seminar tersebut sangat berjalan dengan baik dan hangat. Sangat nampak marwah filosofis dalam situasi ini karena konteks basis institusi yang sudah sangat lama meramukan keilmuan filsafat di lembah ledalero ini. Adapun hal guyon di sela-sela seminar dipungkas oleh beliau bahwa ledalero sebagaimna diartikan sebagai “Bukit sandaran matahari” akhirnya digubah nya menjadi Ledalero sebagai “lelaki dari lembah romo”. Maksudnya adalah ingin mendefenisikan bahwa di ledalero adalah tempat para Romo yakni imam dari gereja katolik dan mereka yang sedang dalam masa studi mau menjadi imam. Selanjutnya secara keseluruhan yang didiskusikan dalam seminar ini adalah perihal bahaya tirani dan persoalan dinasti politik yang sudah menjadi fenomena di negeri ini yang akan melahirkan sebuah kepincangan yakni masalah otorianisme baru yang tentunya menjadi penyakit terhadap demokrasi itu sendiri. Sehingga yang ada bukan parpol sebagaimana diartikan partai politik akan tetapi yang ada malah perpol yakni perusahan politik.

Baca Juga : Mengenal Kritisisme Immanuel Kant

Di sisi audiensi adapun hal yang menarik adalah persoalan kerisauan yang ditanggapi oleh salah satu audiens yakni Pater Feliks Baghi yang mana ia mengemukakan masalah “mual” atau “muntah” karena orang akhirnya sudah sampai pada batas kebosanan dengan kehidupan bernegara seperti ini, jadi apakah perlu seperti apa yang dipungkas oleh Derida tentang “Dekonstruksi” bahwa negara ini perlu di dekonstruki. Dalam sesi tanggapan, Rocky Gerung mengemukakan bahwa soal dekonstruksi kiranya perlu juga, berantakan saja negara ini, karena faktum pluralisme dan kamajemukan yang sedikit risau dibawa ke dalam term kesatuan atau uniformitas bahwa orang harus diseragamkan kendati mejemuk sehingga solusi yang menjadi alternatif adalah bagamana jika memilih menjadi negara bagian saja seperti Amerika Serikat dan Jerman yang tidak pernah bubar hingga saat ini.

Pada sesi penutup, Rektor ITFK, Pater Otto Gusti Madung mengapresiasi Rocky Gerung yang dijuluki olehnya sebagai Habermasnya indonesi, karena sikap kritisnya dan keberaniannya untuk menyuarakan setiap hal-hal yang menjadi penyimpangan dari pemerintah. Bahwa soal mengetahui orang bisa mendapatkannya dengan membaca, namun tentang keberanian setiap orang beum tentu melakukannya dan Rocki Gerung sudah menunjukan untuk menjadi seorang intelektual ulung yang selalu menjaga independensi dengan wilayah kekuasaan. Diharapakan pula bahwa ledalero selalu menjadi ajang atau lembaga yang selalu menawarkan pikiran-pikiran cerdas untuk mengevaluasi setiap kebijakan pemerintaha. Sebagai intitusi filsafat dan teknik, Ledalero diharapkan untuk bisa mengisntalasikan dan mendesainkan setiap pikiran yang pastinya akan cepat dipasarkan ke dalam masyarakat banyak baik citizen maupun netizen, dimana filsafat sebagai materialnya dan teknik adalah instrumen marketnya.

By Dino R

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Eksplorasi konten lain dari Patadela.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca