Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam sejarah peradaban umat manusia termasuk agama-agama baik klasik hingga modern telah disuguhkan sebuah doktrin tentang adanya Tuhan dan isu Ketuhanan(Ajaran mengenai Adanya Tuhan). Doktrin ini mengemukakan tentang adanya makhluk spiritual tertinggi , yang menggabungkan kekuasaan dan kesempurnaan sedemikia rupa sehingga Tuhan tersebut mendominasi Alam dan memiliki status yang paling penting.[1] Kita pun mengakui bahwa orang-orang akhirnya merawat kultus penyembahan yang dianggap agung ini di dalam ritus dan tradisi-tradisi mereka sebagai bentuk penghormatan kepada Tuhan atau dewa-dewi mereka untuk memperoleh kekudusan dan kemuliaan sang Dewata agar terlindugi dari kutukan dan bahaya yang menimpa bagi kehidupan mereka di kemudian hari.

Kita pun pasti sedikit tercengang mengapa Tuhan yan tidak pernah kita lihat rupanya dalam realita keseharian namun akhirnya begitu ramai disebut dan diandalkan di dalam keseharian kita misalnya kita selalu menuntut penyelenggaraannya sebelum kita memulai kegiatan harian kita entah itu di Rumah, di Kantor maupun di Sekolah. Pelbagai institusi religious pasti memilik alasan tersendiri untuk meyakinkan bahwa Tuhan yang diperkenalkan adalah Sosok Tuhan yang tidak keliru untuk diandalkan dan dihormati.  Kita pun antusias untuk mengikuti dengan khusuk pelbagai ritual dan kebaktian keagamaan untuk membangun relasi dengan Tuhan yang tidak tampakan wujudnya secara langsung kepada kita, meski kita dituntut untuk percaya saja sembari mengulang kembali kisah-kisah tentang Tuhan yang pernah berbicara kepada manusia di dalam kitab suci baik itu semisalnya kepada Adam dan Hawa maupun kepada para nabi dan rasul di dalam teks-teks Suci tersebut.

Namun di lain sisi hal yang semestinya tidak boleh kita lupai bahwa di dalam menjalani wujud keimanan ini tidak pernah luput dari peroblematis bahwa dengan mempertahankan ke-Tuhanan tidak sedikit orang harus bersimbah darah dan saling membunuh dengan keji hanya karena atas motivasi ingin membenarkan nama Tuhan tersebut. Nama Tuhan yang diketahui hamper hilang dan tidak mendapat tempat dalam masyarakat barat -sekuler namun sontak penuh janggal akhirnya mencuat kembali melaui peristiwa perang dan teror yang mengatas namakan Tuhan. Peristiwa teror pada 11 September adalah sebuah peristiwa yang melihat bahwa Tuhan perlu diperjuangkan kebenarannya melalui tindakan jihad ini. Peristiwa pemboman pada Rumah-rumah ibadah juga merupakan bagian dari perjuangan jihad ini, sebuah tindakan yang dihayatai legal sebagai spiritual untuk melawan kekafiran.   Kekerasan atas nama Agama dan Tuhan dapat juga kita lihat dalam peristiwa Perang Salib yang dianggap sebagai perang suci antara Kristen Pan-Eropa melawan Arab pada abd ke-11. Kritik yang sering dihadapkan terhadap komunitas Zionisme juga dilihat melegalkan Tuhan dalam proyek perjanjian mereka yang dipandang telah melakukan tindakan kekerasan terhadap orang Palestina. Selain itu proyek penghayatan kekristenan sebagai agama cinta-kasih masih saja menyisahkan perselisihan dan peperangan pada peristiwa perang dunia I dan Perang Dunia II yang sebagian besar terjadi dalam Negara-negara yang menganut Kekristenn. Tuhan yang dilihat sebagai entitas sakral akhrinya kian ambigu karena tawaran perdamaian dan kemakmuran situasi yang menjadi misi utama dalam agama bergeser menjadi entitas yang syarat tiran dan tidak adil lantaran Ia terlihat berpihak kepada satu entitas atau suku saja, menjadi Ilah satu kelompok saja dengan melenyapakan dan membasmi kelompok dari suku lain yang tentunya mempunyai landasan ketuhanan tersendiri.

Mempertanggungjawab Ketuhanan
Perang Salib by Gramedia

      Baca Juga : Membaca Allah di dalam Filsafat

Mempertanggungjawabkan Ketuhanan.

Karen Armstrong dalam buku Masa Depan Tuhan menulis demikian ;” Tugas agama sangat mirip dengan seni, yakni membantu kita hidup secara kreatif, damai dan bahkan gembira dengan kenyataan-kenyataan yang tidak mudah dijelaskan dan masalah-masalah yang tidak bisa kita pecahkan”.[2] Terdapat piranti yang memanggil kita kepada keselarasan melaui perasaan dan intuisi akan kenyataan-kenyataan hidup yang dipandang sebagai sesuatu hal yang misteri.

Agama membawa orang kepada penyatuan keteraturan dengan harmonia kosmos yang dalam bahasa religious dikenal dengan Tuhan. Manusia dapat lebih matang ketika dibawa kepada hal-hal yang transenden karena ia akan membangun sebuah relasi yang sangat intim bersifat mistik bersama alam sekitar dan kebersamaan dengan ciptaan lain.  Orang sebelum merasakan Tuhan yang agung, ia dapat menemukan sifat keagungan tersebut di dalam keajaban Alam dan keindahan obyek ciptaan lainnya. Lewat relasi ini manusia akhirnya menentukan dasar-dasar regula atau aturan dan tata cara ritus kebaktian untk menghidupkan sebuah proses kultus. Di sisi ia lain manusia juga mengamalkan sebuah kesadaran etis dalam membangun relasi yang baik untuk saling menghormati dan saling menghargai antar sesama makhlukknya. Ikut menjaga keutuhan dan kelestarian alam di dalam proses kehidupannya.

Namun di samping termuat ajakan –ajakan untuk mengamalkan nilai-nilai cinta kasih tersebut, tak jarang kita temukan modus operandi akan unsur-unsur fundamentalisme agama yang sangat berbahaya dan mematikan tersebut. Kekerasan dan peperangan yang mengatasnamakan agama semisalnya peristiwa 11 september misalanya akhirnya memberikan keraguan akan predikat dan panggilan moril agama sebagai agama yang mendamaikan dan penuh pengharapan.  Orang-orang akhirnya ramai- ramai mengangkat pedang dan senjata untuk enunjukan sebuah militannya di dalam membela Allah dan Tuhannya. Tuhan yang telah hadir di dalam proses sejarah dengan jaminan perjanjian dalam kelompok umatnya akhirnya kemudian harus diperebutkan dan diperjuangkan melaui pertumpahan darah untuk sama-sama memperebutkan  dan memenangkan klaim akan masing-masing janji tersebut.

Permasalahan ketuhanan tak pelak bahwa di dalam sejarah telah memasuki ribuan tahun dengan masing-masing ketegangan pada masing-masing wilayah doktrin keagamaan yang sangat kaku dan terbilang konservatif. Sebuah masa yang cukup lama dengan memakan waktu bertahun-tahun kelompok-kelompok keagamaan silih berganti saling menakhlukan dalam memperoleh kekuasaan atas tanah yang diyakini sebagai janji dan historis yang diturunkan dari Allah kepada mereka sebagai umat dan penganutnya. Mengenai hal ini manusia harus dibawa kepada sebuah kesadaran yang lebih tinggi akan entitas ketuhanan agar Ketuhanan yang menjadi tujuan faith tersebut tidak menjadi problematis dan menjadi masalah besar. Tuhan yang diimani harus dipertanggung jawabkan agar kultus terhadap ketuhanan itu menjadi lebih rasional dan tidak ambigu.

Ketuhanan di dalam Agama-agama

Manusia dikenal pula sebagai makhluk religiousa yang dapat dikenal sejak zaman klasik kuno melaui kultus-kultus yang ditemukan semisalnya ritual perburuan yang dilakukan pemburu sudah menganut keyakinan bahwa dahulu kala binatang-binatang  membuat perjanjian dengan manusia dan dewa yang dikenal sebagai Penguasa Hewan telah secara rutin mengirimkan ternak dari dunia yang lebih rendah untuk dibunuh di dunia perburuan dengan sebuah jaminan bahwa para pemburu melakukan upacara-upacara yang akan memeberikan kehidupan setelah kematian, selain itu para pemburu juga harus menahan diri dari seks sebelum ekspedisi, karena berburu dalam keadaan suci secara ritual untuk merasakan empati yang sangat mendalam dengan mangsanya.[3] Relasi manusia pemburu dengan ilah dewata mereka ini mengindikasikan bahwa manusia telah berkomunikasi dengan sosok adikodrati lainnya yang melampui kenyataan fisikal manusiawi mereka.

Konsep religious ini akhirnya berkembang hinggan masa agama modern termasuk lebih mula di dalam konsep paganisme timur, zoroastrinisme, Budhisme, Judaisme, kekristenan, hingga islam arab. Karen Armstrong dalam bukunya Sejarah Tuhan menguaraikan tentang Ketuhanan dalam pelbagai perspekstif agama termasuk rasional pengetahuan. Baginya agama merupakan produk budaya- anthropologis dari suatu masyarakat yang dipertemukan dengan suatu ilah atau wujud tertinggi yang seharusnya tidak saling menduakan atau dikotomi antar agama tersebut karena sebenarnya terdapat semacam benang merah yang saling berhubungan dan berkesinambungan antar masing-masing religiositas tersebut.

Kesinambungan ilah dalam agama-agama dapat kita temukan antara similaritas dalam agama-agama samawi yang memiliki kesamaan rujukan tokoh nabi dan figure ilah yang termuat didalam kitab suci. Bahkan secara subtansial ilahnya secara hakaikat tidak memiliki pnduaan yang seharusnya merujuk kepada ilah yang sama yang termanisfestasi di dalam nama Dao, Yahweh, Brahmana, dan Allah. Kesinambungan dan proses relasi Allah dalam agama selain bersifat transenden dan teologis namun membekas juga dalam peristiwa dan kronlogis sejarah. Peristiwa kronologis sejarah inilah yang akhirnya rentan berbahaya di kemudian hari apabila terjadi saling klaim di dalam umat yang diikat oleh perjanjian tersebut untuk memastikan dan terjadi verivikasi politis dalam menentukan kelompok mana yang menjadi lebih berhak memegang otoritas atas ilah historis tersebut. Orang tidak sungkan menyatakan perang berdarah-darah hanya karena mempertahakan basis ilah historis ini.


[1]  Peter Gisbson, Segala sesuatu  Yang perlu Anda Ketahui tentang Filsafat, (Jakarta : Penerbit Gramedia, 2020), hal.233

[2] [2]  Karen Armstrong, Masa Depan Tuhan: Sanggahan Terhadap Fundamentalisme dan Ateisme (Jakarta : Penerbit Mizan,2011), hal.532

[3]  Ibid, hal.43

By Ardy G

Pernah belajar di bidang Filsafat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Eksplorasi konten lain dari Patadela.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca