here to help lettering text on black background
Photo by Anna Tarazevich on <a href="https://www.pexels.com/photo/here-to-help-lettering-text-on-black-background-5697255/" rel="nofollow">Pexels.com</a>

Pernahkah kita dihadapkan suatu keadaan termotivasi untuk memberikan bantuan bagi orang lain yang didorong atas dasar kesadaran murni yang  sama sekali tidak disebabkan oleh faktor lain misalkan agar dilihat orang atau supaya dipandang sebagai orang baik. Tindakan tanpa pamrih yang berangkat dari ketulusan hati seperti ini merupakan sebuah aksi moral yang sangat bajik karena dilandaskan atas kesadaran dan niat yang tulus yang melihat tindakan tersebut sebagai suatu keharusan atau kewajiban. Memberikan bantuan kepada orang lain dengan semangat kegembiraan hati merupakan sebuah kesadaran moral yang betul-betul sangat utama sebagai seseorang yang memiliki kesadaran moral yang tinggi.  Kita tentu gembira apabila tindakan kita dalam menolong sesama benar-benar memberikan manfaat dan kegunaan yang sangat baik dan efisien yang  akhirnya sukses menjawabi harapannya.

Baca Juga : Mengenal Rasionalisme dan Empirisme

Dalam filsafat aksi ini terkategori dalam suatu teori yang dinamakan Utilitarianisme yang merupakan sebuah cabang filsafat dalam bidang etika khususnya etika teleologis yang mewadahi dua pandangan besar yakni hedonisme dan utilitarianisme.  Utilitarianisme merupakan paham yang mengatakan bahwa semua tindakan moral bertujuan untuk mencapai utilitas atau manfaat/kegunaan terbaik yang mungkin diraih,artinya segala macam hal yang biasanya diinginkan orang.[1] Sedangkan hedonistik bercondong pada tindakan yang mendatangkan lebih banyak kesenangan atau kenikmatan dan menghindari rasa sakit atau derita (Mirip konsep utilitarianisme John Stuart Mill). Paham ini mengafirmasi bahwa setiap gerakan moral melalui tindakan tertentu bertujuan untuk memberikan manfaat dan daya guna yang baik dan sahih bagi orang lain dan ia dikatakan bermoral tentu bukan ditunggangi oleh motivasi pragmatis tertentu atau yang bersifat fungsional. Sehingga tidak bisa dibenarkan bahwa tindakan bantuan tertentu pada akhirnya akan mendatangkan ketersinggungan dengan maksud merendahkan orang lain.

utilitarianisme John Stuart Mill
John Stuart Mill, by Wikipedia.org

Paham utilitarianisme klasik  ini kemudian dikembangkan  oleh Jeremy Bentham dengan memasukan peran hukum di dalamnya- yang dalam beberapa literature pengembangan ini juga disebut “Legal Utilitarianism”-.  Paham ini kemudian dimodifikasi oleh John Stuart Mill seorang filsuf berkebangsaan Inggris yang mengatakan bahwa tindakan yang baik adalah tindakan yang lebih banyak menghasilkan kenikmatan. Sedangkan konsep Utilirianisme Bentham menggambarkan bahwa apabila seseorang individu menghadapi suatu peristiwa yang secara moralitas baginya itu penting, maka kita dapat melakukan perhitungaan  mengenai siapa saja yang akan dipengaruhi oleh tindakan tersebut dan  seberapa besar pleasure dan pain yang dapat ditimbulkan bagi mereka yang terkena dampaknya, dan memilih mana saja tindakan yang dapat mengoptimalisasikan kebahagiaan atau mereduksi  rasa penderitaannya.[2] Ada aspek kritisize yang diprediksikan sebelum tindakan dilakukan bagi Bentham, maka hal yang dipastikan adalah pemaksimalan kedayagunaan  karena pemaksimalan ini pararelitas dengan pencapaian kebahagiaan, manfaat, keuntungan dan kenikmatan bagi sebanyak-banyaknya orang sekaligus menghindari akibat rasa sakit yang mungkin akan timbul. Maksud dari rasa sakit adalah suatu dampak atau akibat lain dari pengaruh peningkatan dayagunaan dari tindakan altruisme sehingga dapat bermuara pada kerugian bagi diri sendiri. Misalnya tindakan dalam memberikan bantuan uang bagi seorang teman yang pada kahirnya berakibat pada kekurangan kebutuhan makanan dalam seminggu untuk diri sendiri. Di sinilah maksud Bentham agar seseorang disamping melakukan tindakan utilitas perlu juga praktik diserment atau evaluative sesaat dari konsekuensi tindakan tersebut. Jadi meski terdapat tujuan yang mungkin ingin dicapai adalah kebahagiaan terbesar atau kepuasan melalui tindakan tersebut namun kita juga perlu menjegal kemungkinan rasa sakit yang akan diterima.

Dari pembahasan di atas apabila dibawa kepada situasi kontektual yang mungkin akan terjadi kira-kira apa yang musti dilakukan seseorang agar tindakannya serentak mendatangkan kebahagiaan dan mengurangi rasa sakit. Tentu kebutuhan dan respons bantuan kita kepada sesama ada banyak modus atau ciri khas. Jadi semua kembali kepada peran pertimbangan yang matang dari seseorang dengan bertumpu pada kesanggupan dan kemampuannya. Jadi jangan melakukan tindakan di luar dari suatu kemampuan yang akan melahirkan kesakitan yang berkepanjangan melainkan lakukanlah suatu tindakan moral yang sesuai dengan limit dari kesanggupan pribadi.


[1]  Peter Gibson, Segala Sesuatu yang Perlu Anda Ketahui tentang Filsafat, (Jakarta : Penerbit Gramedia, 2020), hal.182

[2] Endang Pratiwi dkk, Jurnal Konstitusi (2022) hal.279

By Ardy G

Pernah belajar di bidang Filsafat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Eksplorasi konten lain dari Patadela.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca