woman under the water
Photo by Life Of Pix on <a href="https://www.pexels.com/photo/woman-under-the-water-9786/" rel="nofollow">Pexels.com</a>

Pendahuluan

Dalam kehidupan nyata sebagai manusia yang bereksistensial, kita sering dipertanyakan akan apa itu Konsepsi kebakaan jiwa dan bagaimana kehidupan lanjut setelah kematian. akan kemanakh eksitensi kita setelah kehidupan. Dan bagaimanakh keadaan manusia setelah kehidupan. Sadari bahwa anutan manusia yang bereksistensial tidak terlepas dari perann jiwa di dalamnya. Proses pencarian dan pertanyaan akan hal ini, menuntut pula para filsuf bahkan dari era klasik sekalipun untuk menggagaskan tentang hal ini. Refleksi mengenai kajian ini dinamakan dengan konsep kebakaan jiwa. Kebakaan jiwa dapat pula diartikan sebagai kekekalan jiwa. Kebakaan jiwa dalam rumusan para ilsu dapat kita temukan dalam ajaran tentang jiwa seperti yang pernah dicetuskan oleh Pythagoras, Sokrates, Plato, Aristoteles hingga Agustinus dan Immanuel Kant.

Pembahasan

Dalam pergumulan tentang kebakaan jiwa, dipertanyakan mengenai eksistensi jiwa setelah kematian. akan kemanakah manusia dan kesadarannya setelah kematian. taka disangkal bahwa dalam ajaran Pythagoras telah dipastikan memuat ajaran tentang perpindahan jiwa yang masih mempunyai korelasi dengan ajaran religius yaitu Orifsme. Pythagoras menjelaskan bahwa jiwa itu tidak dapat mati melainkan mengalami perpindahan. bahwa jiwa manusia setelah kematian bisa saja berpindah ke dalam hewan bila hewan tersebut mati ia pun berpindah lagi dan seterusnya. hal ini berati terdapat proses siklus mengenai jiwa. Untuk menghentikanproses reinkarnasi ini dapat dcapai melalui proses reinkarnasi. Reinkarnasi dapat dilakukan dengan cara melakukan pantang untuk tidak mengosnsumsi makannan tertentu. penyucian juga dapat dicapai dengan proses tapa dan penguasaan diri.

Sokrates sendiri Juga menyinggung tentang kebakaan jiwa yang dapat kita temukan di dalam karangannya yang berjudul Apologia. Dalam Apologia tersebut disampaikan bahwa Sokrates sendiri tidak tahu tentang kematian, yang mana apakah kematian tersebut dapat mirip dengan keadaan tidur yang panjang atau kematian itu adalah suatu proses perpindahan jiwa ke arah yang lebih baik (K Bertens, Sejarah Filsaat Yunani, hal. 136). Di sini masih dinyatakan suatu cadar ketidaktahuan dan aifrmasi yang tegas dari Sokrates mengenai keadaan jiwa setelah kematian semisalnya Pythagoras. namun terdapat sebuah spekulasi pemikiran mengenai masa depan jiwa darinya.

Dalam rumusan Plato, kita dapat menemukan pendapatanya tentang kebakaam jiwa di dalam dialog- dialognya. Plato menegaskan bahwa terdapat kesamaan antara jiwa dan ide-ide dan jiwalah yang menegnal ide-ide sehingga bukan badan. oleh karena itu menurut Plato bahwa jiwa memiliki siat-sifat yang sama dengan ide-ide. Dan ide-ide tersebut bersiat abadi dan tidak berubah. jadi jiwa tidak sama dengan badan yang dapat mati (K.Bertens, 137). Di sinilah letak argumentum kebakaan atau kekekalan jiwa menurut Plato.

Kita juga dapat menemukan ide tentang kebakaan jiwa di dalam dialog Phaidros. dikatakan disini bahwa tedapat prinspi bahwa jiwa tersebut dapat menggeraka dirinya sendiri dan sekaligus juga dapat menggerakan badan. Selanjutnya di dalam dialog Gorgias, diterangkan tentang konsep pengadilan jiwa setelah kematian dan mereka yang menjalani hidup dengan baik akan dibawa ke “Pulau-pulau yang bahagia” dan mereka yang hidup jahat akan mederita siksaan untuk selama-lamanya. Plato juga mengemukakan konsep perpindahan jiwa seperti Pythagoras. Konsep ini similaritas dengan ajaran kehidupan setelah kematian serta adanya surga dan neraka di dalam agama-agama wahyu Yudaisme, Kekristenan dan Islam.

Selain Pytagoras, Sokrates dan Plato yang membahs tentang Jiwa, Aristoteles juga mengemukakan tentang jiwa. aristoteles mengatakan bahwa jiwa adalah bagian dari prinsip hidup seperti yang termuat di dalam psyke. ia juga menyetujui dulaisme jiwa san prakesistensi jiwa dan menegaskan bahwa jiwa tetap bersiat kekal setelah kematian manusia. Sedangkan di dalam karyanya De anima Aristoteles menegaskan bahwa jiwa dan badan sebagai suatu subtansi yang utuh di mana jiwa sebagai forma dan badan sebagai materinya dan badan memeiliki pearan sebagai potensi dan jiwa sebagai actus. Namun Aristoteles meninggalkan ajaran Plato tentang kebakaan jiwa.Ia melihata bahwa jiwa dan badan sebagai suatu eksistensi satu kesatuan sehingga jiwa tidak dapat hidup terus tanpa materi karena jiwa selalu mengarahkan diri kepada tubuh sebagai materi.

St. Agustinus dan St. Monika (1846), karya Ary Scheffer. (wikipedia.org)

Dalam pandangan Agustinus dari Hippo seorang tokoh Gereja dari masa Abad Pertengahan, disinggung pula tentang jiwa. Pandangannya melihat bahwa manusia merupakan satu kesatuan dari antara subtansi jiwa dan tubuh (badan). Ajaran Agustinus hampir sama dengan gagasan dalam pemikiran Aristoteles. Kita dapat mengetahui Risalah yang terkenal tentang hal ini ialah Tentang Kepedulian Yang DIperlukan bagi Orang Meninggal. ia menghimabau agar kita harus menghormati jenazah dari orang yang telah meninggal, karen hal itu merupakan bagian kodrati dari pada manusia sebagai sesuatu yang utuh Lebih jauh, Menurut Agustinus pada keadaan alamiah, unsur antara tubuh dan jiwa tersebut berada dalam keselarasan yang tidak rusak atau masih sempurna. Namun Setelah perbuatan dosa oleh manusia, tubuh dan jiwa mengalami pertarungan dramatis antara satu dengan yang lainnya untuk memasuki kembali ke keadaan yang murni seperti waktu sedianya. (Lihat; wikipedia.org/agustinus dari Hipo)

Selanjutnya mengenai Jiwa, dapat kita temui di dalam pemikira masa pencerahan Immanuel Kant. Immanuel kant menyinggung tentang kebakaan jiwa sebagai suatu paket bersama dengan kinsep tentang Kebebasan, dan Eksistensi Allah. Ide tentang Kebakaan jiwa pada Kant sebagai determina pada pembahsan Teleologi mengenai ide tentang Allah. ia membahas tentang keadilan dan kebebsan bahwa manusia akan memeproleh keadilan atas ganjaran hidupnya setelah kematian.

Mengenai uraian tentang hal ini jika ingin melihat lebih jauh secara fiktional, dapat membaca suatu karya dari penyair Italia terkenal Dante Alighieri yang berjudul The Divine Comedy . Karya menguari tentang perjalanan jiwa sesudah kematian.

Referensi

  1. K. Bertens, Sejarah Filsafat Yunani
  2. Wikipedia/Agustinus dari Hippo.

By Ardy G

Pernah belajar di bidang Filsafat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Eksplorasi konten lain dari Patadela.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca