z

Pada kesempatan kali ini kita diajak untuk melihat secara singkat sebuah catatan kritis mengenai pemikiran Kant yang diberi judul Kritisisme Immanuel Kant. Sebelum masuk ke dalam pembahasan inti ada baiknya terlebih dahulu kita menyelami sedikit tentang biografi hidupnya. Kant dikenalsebagai seorang filsuf yang jarang bepergian ke luar daerahnya, ia juga merupakan sosok filsuf yang tidak menaruh minat pada politik semislnya Machiavelli dan Hegel. Dia lebih memilih untuk menjadi seorang filsuf yang bersahaja yang tinggal di kota Konigsberg daerah Prusia Timur. Ia lahir di Kota ini pada 22 April 1724 dari sebuah keluarga yang dikenal kental akan semangat pietisme. Ia mendapat pengaruh rasionalisme Wolf dari dosennya Martin Knutzen saat studi di Universitas Konigsberg yang ia peroleh melalui studi fisika, metafisika dan logika. Namun karena faktor kekurangan biaya ia akhirnya menajadi dosen lepas sebelum sempat kembali ke universitas untuk promosi dengan disertasinya tentang De igne pada 1755. Ia terkenal hidup sangat dengan tertib dan memilih membujang semasa hidupnya.

Lebih lanjut, diketahui pemikiran Kant dapat dikategorikan sebagai suatu pemikiran yang beraliran teori kritis karena ia berusaha mempertanyakan the condition of possibility dari muatan pengetahuan kita sendiri.[1] Uraian ini membawa kita kepada keadaan untuk menyelami mengenai sebab-sebab dan kemungkinan dari sebuah pengetahuan. Hal-hal yang hendak digeluti  yang terkenal adalah mengenai apa yang sesungguhnya yang dapat kita ketahui, dan bagaimana atau lewat sarana manakah pengetahuan kita dapat berlangsung dan terjadi. Hal ini juga telah termuat di dalam pertanyaan-pertanyaan Immanuel Kant yang dikenal dengan empat pertanyaan yang meliputi 1. Apa yang harus kita ketahui, 2. Apa yang harus kita laksanakan, 3. Apa yang boleh kita harapkan yang akhirnya berlanjut pada pertanyaan ke 4. Siapakah Manusia.

Martin knutzen sang guru yang melahirkan kritisisme immanuel Kant
Martin Knutzen sang guru dari Immanuel kant by https://lokalhistoriewiki.no/

Di lain hal, dalam tulisan lain terdahulu telah diuraikan dua aliran sebagai penggali atau dasar pengetahuan ( Baca Isi Pengetahuan) yakni mengenai aliran Rasionalisme dan aliran Empirisme. Setelah menuai perdebatan di antara kedua macam aliran pengetahuan tersebut, Immanuel Kant akhirnya menggagas sebuah desain atau kosntruksi asal pengetahuan baru yang dinamakan dengan Kritisisme. Kritisime kant ini dapat ditemukan dalam sebuah karya yang boleh disebut sebagai opus magnumnya yang berjudul The Critique Of Pure Reason (Kritik atas Akal Budi Murni) yang ditulisnya pada April 1787 di Konigsberg, Jerman.[2] Buku ini terbilang sangat fenomenal dalam masanya yang mana disebut sebagai zaman pencerahan atau aufklarung dalam bahasa jermannya.

            Baca Juga : Rasionalisme dan Empirisme

Kritisisme immanuel Kant (Termasuk Pencerahan atau aufklarung) merupakan corak pemikiran yang  muncul sebagai suatu upaya untuk melawan dogmatisme dimana usaha tersebut adalah perihal untuk meleburkan sistem pengetahuan yang bercorak tradisional bersamaan dengan Rasionalisme post-Renaisans dan Empirisme. Para pendobrak awal pemikiran tradisional abad pertengahan adalah Machiaveli, Bruno dan Bacon. Dilansir dari Detik.com bahwa abad pencerahan dikatakan berlangsung mulai pada abad XVII – XVIII (1685-1815). Adalah Inggris dan Prancis yang negara pelopornya . Dapat dikatakan bahwa, di kedua negara ini memang banyak lahir ilmuwan dan pemikir atau filsuf yang gagasannya sangat berpengaruh untuk lahirnya abad pencerahan. Semboyan abad pencerahan adalah “Sapere Aude” yang digagaskan Immanuel Kant dan secara harafiah artinya adalah “Beranilah untuk Berpikir Sendiri” sejalan dengan Moralitas Otonom yang dikumandangkan oleh Kant. Mengenai term pencerahan dapat kita uraikan pada kesempatan lain.

Lebih lanjut corak pemikran rasional inilah yang menjadikan Kritisisme Immanuel Kant terakomodir sebagai salah satu pemikran pada masa abad Pencerahan. Masa Pencerahan ditandai dengan penyelidikan pengetahuan atas syarat-syarat ilmiah yang rasional yang bermula sejak Bacon, Machiavelli dan Descartes bahkan hingga Habermas yang juga menjalar sampai pada masa revolusi perancis yang akhirnya sampai mencuatnya pula ide pemisahan antara Agama dan Negara.

Berdasarakan hasil uraian dari kritisisme Immanuel Kant akan kedua aliran di atas maka Kant menilai bahwa keduanya adalah sama-sama benar dan sekaligus sama-sama keliru yang mana keduanya bersiafat terlalu ekstream dimana rasionalisme sangat pesimistik dan skeptis terhadap  daya pengelaman dan perihal pengamatan indrawi sebagaiman seperti yang termuat di dalam kesangsian metodisnya Descartes dan sebaliknya juga kaum empirisis sangat tidak percaya akan kekuatan rasio kendati ada respek dan pengormatan terhadap kapasitas kekuatan dari ratio. Kant akhirnya mendamaikan akan hal ini dan menegaskan bahwa hanya satu dunia yakni dunia yang kita alami yakni (Baca Kritisisme).[3] Pengetahuan yang sebenarnya menurut Kant adalah sebuah proses sintesis antara kerja nalar dan realita empiris sebuah korespondesi antara ide-ide dan tangkapan yang dikenal oleh indrawi. Kritisime juga mau menyingkapkan ciri pembeda yang sangat jelas antara objek dan pengelaman subyek, antara realitas dunia dan penampakan bagi manusia dan antara benda itu sendiri dan benda itu untuk yang mencerapinya.[4] Di sinilah cara Kant agar kita dapat menemukan sebuah kajian pengetahuan yang benar-benar sahih dan ilmiah pasti.

Baca Juga : Apa yang dimaksudkan dengan Monisme

Dalam opus magnumnya Critique of Pure Reason, kita akan menemukan tiga macam pengetahuan yang dilansir oleh Imanuel Kant sebagai bentuk dari afirmasi Kritisisme Immanuel Kant yang meliputi pengetahuan analitis yang memuat bahwa predikat sudah terdapat di dalam subyek atau predikat diketahui oleh analisis subyek, misalnya putusan mengenai lingkaran itu bulat di mana term bulat merupakan ciri khas dari lingkaran yang sudah termaktub di dalam subyek lingkaran tersebut, Pengetahuan sintesis aposteriori di mana bahwa predikat mengenai sesuatu yang dihubugkan dengan subyek berdasarkan pengelaman indrawi dalam hal ini, Predikat adalah informasi baru contohnya ialah semua benda itu berat. Atau Kita dapat menguraikannya di dalam pola putusan misalnya hari ini telah turun hujan.  Dan yang ketiga adalah pengetahuan sintesis apriori yang menegaskan bahwa akal budi dan pengalaman inderawi dibutuhkan secara serentak atau bersamaan seperti yang termuat di dalam ilmu-ilmu pasti.[5] Uraian tentang hal ini dapat kita dalami secara lengkap di dalam karyanya tersebut seperti yang telah disinggung sebelumnya.

germany flag in front of building

Tips Kant Untuk Bahagia dalam Hidup

“Tak seorang dapat memaksaku untuk bahagia menurut caranya”

“Kebahagiaan tak terdapat di mana pun di alam ini. Yang dapat dimenangkan oleh manusia hanyalah kehormatan untuk bahagia.”

“Orang mengenyagkan hasyrat tidak melalui cinta , tetapi melalui perkawinan.”

“Pria itu mudah diteliti, tetapi wanita tidak menyingkap rahasianya.”

“Barang siapa tidak bekerja, akan menderita kebosanan dan paling-paling dibius hal yang menyenangkan dan lelah, tetapi tak akan pernah sekali pun merasa segar dan puas.”

” Kemiskinan tak boleh dibuat menjadi alat mata pencarian bagi orang-orang malas.

Sekian uraian singkat mengenai kritisisme Immanuel Kant yang mengafirmasikan bahwa pengetahuan manusia dapat terjadi melalui proses pertautan antara unsur bawaan atau konsepsi yang termuat di dalam pemahaman manusia dengan obyek yang dicerapi oleh indrawi manusia. Selain tentang kritisime kant kita dapat bersua dengan pemikiran dan gagasan darinnya di dalam karya-karya lain seperti kritik akal budi prkatis dan kritik atas daya pertimbangan yang niscaya akan kita bahas dalam episode selanjutnya.


Referensi :

[1] F. Budi Hadirman, Kritik Ideologi, Menyingkap Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan Bersama Jurgen Habermas, (Yogyakarta : Penerbit PT. Kanisius, 2009) hal. 52

[2] I. Kant, The Critique Of Pure Reason (Yogyakarta : Penerbit Indoliterasi, 2017) hal, 35

[3]  Kondrad Kebung, FIlsafat Ilmu Pengetahuan (Jakarta : Pustaka Publisher,2011),hal.59

[4] Zaprulkhan, Filsafat Ilmu, Sebuah Analisis Kontemporer (Depok : Rajawali Pers, 2021), hal.77

[5] Kondrad Kebung, Loc. Cit.

By Ardy G

Pernah belajar di bidang Filsafat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Eksplorasi konten lain dari Patadela.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca