Di dalam pengelaman interaksi sehari-hari kita pasti sering dihadapkan dengan lalulintas penerimaan akan isyarat dan bahasa yang menunjukan proses komunikasi dengan orang sekitar kitar. Dari proses komunukasi ini terjalinlah relasional simbol dan makna sebagai pembentukan  pengertian dan pemahaman timbal balik yang terikat di dalam apa yang disebut dengan kontrak sosial dari manusia yang memepunyai naluri untuk membentuk kelompok dan berorganisasi. Salah satu syarat di dalam proses simbolik tersebut adalah kualitas penerimaan akan kesahihan atau ketepatan makna yang terbesit dari simbolik interaksionisme tersebut baik yang terungkap dalam komunikasi simbol maupun komunikasi langsung. Proses daya cerap ini membutuhkan sebuah teknik pendekatan atau metode menyimak yang mana metode ini banyak yang disebutkan dengan istilah hermenutika yaitu suatu ketangkasan atau skill yang dibutuhkan untuk mencerna dan menafsir secara baik akan setiap proposisi-proposisi (putusan) yang disampaikan oleh manusia. Cara hermeneutika ini di dalam filsafat telah banyak disinggung oleh filsuf-filsuf  eksistensial seperti  Schleiermacher, Dithlery, Heidegger, Gadamer, Habermas, Ricoeur dan Derrida. Dan di dalam peradaban kuno hermeneutika ini terlihat digunakan sebagai dasar isntrumen untuk menafisirkan teks-teks tua termasuk kitab suci. Untuk diketahui bahwa hermeneutika ini memiliki keterkaitan sejarah dengan tokoh Hermes Trismegistos yang adalah dewa Toth orang Mesir Kuno, seorang penemu abjad dan tulisan, ahli kitab para dewa, nabi dan penafsir kebijaksanaan ilahi yang memiliki kesamaan dengan Hermes sang penafsir dan dewa di peradaban Yunani.

Baca Juga : Politik dalam Pandangan Aristoteles

Langkah Hermeneutika bersama Logika Arsitoteles
Hermes Trismegistos dewa Toht Mesir

Sekarang sampailah pada saat dimana kita akan mengaitkan antara term hermeneutika dengan logika Arsitoteles agar terkonstruksi secara kuat akan frasa ‘Hermeneutika bersama logika Aristoteles’.  Telah disinggung bahwa hermeneutika merupakan sebuah pendekatan yang dipakai untuk membongkar (Rekonstruksi) kesulitan dan kerumitan yang terkandung dalam sebuah teks yang masih meninggalkan pertanyaan dan kerumitan akan kepastian kebenarannya. Maka di sini orang harus mengandalkan teknik atau cara menganalisis terlebih dahulu akan setiap informasi-informasi yang terkandung di dalamnya. Gadamer di dalam jalan hermeneutikanya pun ditujukan untuk menelaah secara teliti dan mendetail akan setiap informasi yang mungkin tidak bisa dijangkau karena keterbatasan logika. Jadi hermeneutika menjadi sesuatu yang sangat direkomondasikan untuk mengatasi kebuntuan di dalam mencapai kesahihan informatif yang tepat. Selain itu adapun informasi yang sifatnya  masih terfragmen atau terputus-putus. Setelah menguaraikan tentang hermeneutika lalu bagaimana dengan term logika Arsitoles ?  Logika Aristoteles sebenarnya merupakan sebuah teknik untuk menghindari dari pada cara menghasilkan putusan yang benar dan sahih. jalan induksi dan deduksi merupakan bagian dari logika Aristoteles ini, dalam induksi aristoteles mengajarkan suatu cara untuk mengahsilakan kebenaran umum melalui putusan khusus sedangkan dalam deduksi dipastikan sebuah putusan khusus melalui pernyataan umum ke pernyataan khusus.   Dan jalan untuk mencapai deduksi tersebut dapat ditempuh melalui silogsme yang merupakan suatu penemuan terbesar Aristoteles dan juga merupakan puncak dari logikanya.  Silogisme merupakan argumentasi yang terdiri atau terbentuk atas tiga proposisi dan dalam setiap proposisi dapat dibedakan atas dua unsur  yaitu unsur tentang apa sesuatu dikatakan dan unsur apa yang dikatakan. Sesuatu dikatakan di sini merujuk kepada subyek dan unsur apa yang dikatakan merujuk kepada predikat. Argumentasi yang disebut silogisme menurunkan proposisi ketiga dari dua proposisi yang sudah diketahui, misalnya :[1]

  • Semua manusia akan mati.
  • Nurdin adalah manusia.
  • Maka Nurdin akan mati.

Dari konteks silogisme Aristoteles ini, jika dikorelasikan dengan term hermeneutika maka kita akan dihadapkan dengan sebuah langkah spekulasi yang akan diambil seseorang saat berhadapan dengan bahasa yang kerap dimainkan di dalam proses interaksi di dalam proses sosial keseharian. Seringkali bahasa yang diperagakan tak sedikit menyiratkan akan apa yang diindetifikasikan seperti yang dicirikan oleh Aristoteles ini. Sehingga dengan premis –premis tersebut, mengacu pada Aritoteles kita secara implisit sudah menyimpulkan suatu kebenaran atau penyimpulan yang bersifat final. Dan ini seringkali terjadi dalam proses bahasa kita setiap hari.  Jadi jika terdapat sesuatu yang masih terselubung, jawaban nya atau kebenaranya secara potensial sudah terkandung pada ungkapan dan proses bahasanya. Logika ini kemungkinan sering digunakan oleh para investigator dalam membedah dan mengivestigasi suatu masalah atau persoalan yang yang masih terselubung dengan  menggunakan pendekatan indentifikasi masalah yang tentu juga ikut memainkan teknik hermeneutika dan silogisme ini.


[1] K. Bertens , Sejarah Filsafat Yunani, ( Yogyakarta : Penerbit Kanisius,1999) hal.169

By Ardy G

Pernah belajar di bidang Filsafat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Eksplorasi konten lain dari Patadela.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca