Akhirnya suatu corak pemikiran metafisis lahir pula dari seorang filsuf pasca Descartes yang bernama Gottfried Wilhelm Leibniz. Gagasan yang mencacah realitas dari beliau ini yang pastinya sangat urgentif untuk menegaskan eksistensial universum-teologis. Pasalnya pemikiran rasionalisme berkebangsaan German ini menawarkan sesuatu konsepsi yang berbeda dari sebelumya yakni dimana ia menegaskan bahwa universum atau Ruang merupakan suatu kenyatan intuitif yang saling berkorespondensi. Sebagai filsuf yang mendamaikan gagasan antara pemikiran modern dan tokoh-tokoh klasik, Leibniz mampu mengembalikan arti subtansi yang hampir didepak dari ruang modernitas (Bacon dan Descartes). Subtansial tersebut ia namakan monade. Monade dari Leibniz ini biasa dikenal dengan istilah monadologi.

Tentang arti baru bentuk-bentuk subtansi yang digagaskan oleh Leibniz ini tidak terlepas dari rasa keprihatianan akan perihal subtansi yang hampir dilupakan oleh penggagas  modernitas. Leibniz melihat bahwa filsuf-filsuf modern keliru karena mereka meminggirkan dan meremehkan bentuk subtansial, sekalipun bentuk-bentuk itu mampu memberikan penjelasan umum (filosofis) tentang kenyataan yang tak dapat diberikan oleh sebab-sebab mekanis.[1] Filsuf-filsuf modern hanya bergutat pada perluasan dan gerak dan dianggap sebagai sebab yang cukup untuk menjelaskan secara memadai tentang benda-benda. Leibniz akhirnya mengemukakan sebuah jalan baru dengan konsep tentang pertimbangan finalitas atau yang biasa disebut dengan finalisme sembari mengacu pada gagasan Plato tentang Phaedo (tentang jiwa).

Baca Juga : Filsuf-filsuf  Yahudi Yang Berpengaruh dalam Sepak Terjang Pemikiran filsafat.

Penegasan terhadap finalitas Leibniz ini akhirnya kita harus menyertakan beberapa konsekuensi penting yakni 1). Ruang tak bisa sepadan dengan hakikat benda-benda material, seperti yang dikehendaki Descartes juga bukan sensorium Dei seperti yang dikehendaki oleh Newton. Ruang adalah suatu fenomena, yaitu cara penampakan realitas kepada kita. Dan phenomena ini memiliki dasar yang kokoh. Ruang adalah keteraturan (ordo) benda-benda yang berada bersama pada waktu yang sama, yaitu sesuatu yang lahir dari relasi timbal-balik benda-benda. Jadi Ruang bukanlah sifat ontologis benda-benda, melainkan sesuatu akibat dari hubungan-hubungan yang kita tangkap dari di antara benda-benda. 2). Secara analog, waktu juga sesuatu ens rationis seperti ruang. Waktu bukanlah realitas yang mandiri, tetapi suatu fenomen yang juga memiliki dasar yang kokoh. Ruang adalah akibat fenomenal yang muncul dari hubungan koeksistensi benda-benda, demikian waktu adalah akibat dari fenomena yang muncul dari suksesi-suksesi benda-benda. Dasar obyektif waktu ada dalam kenyataan bahwa benda-benda ada lebih dahulu, bersamaan, lebih kemudian, yaitu saling menyusul. 3) Dengan ini hukum-hukum mekanis kehilangan sifat kebenaran matematis, yaitu memiliki kebenaran yang tidak terbantahkan, untuk menerima sifat hukum kepatuhan, yaitu hukum-hukum yang dibangun di atas aturan-aturan pemilikan yang terbaik, menurut mana Allah telah menciptakan benda-benda dalam dunia. Dengan ini hukum mekanisme hancur dan digantikan oleh finalisme yang lebih tinggi, 4). Dengan ini jatuh pandangan Descartes tentang dunia dan benda-benda organis sebagai mesin (pandangan mekanistis) : dunia sebagai mesin besar dalam keseluruhannya ; dan bagian-bagian lebih kecil adalah mesin-mesin termasuk organisme-organisme, tetapi mesin universum seperti-seperti mesin-mesin bagian adalah realisasi kehendak ilahi, aktualisasi dari satu finalitas yang dikehendaki Allah dengan “pemilikan atas yang terbaik” dengan ragam sedemikian, sehingga mekanisme tidak lain hanyalah modus melalui mana terlaksana finalisme lebih tinggi.[2]

Tentang monadologi, Leibniz berpendapat ada banyak subtansi yang disebutkan dengan monad (monos= satu; monad = satu, unit). Monad merupakan kenyataan mental, yang terdiri atas persepsi dan hasyrat. Leibniz membayangkan monad sebagai “force primitive” (daya purba) yang tidak material, melainkan spiritual. Monad ini hamper sejajar dengan cogito tertutup Descartes, Leibniz mengatakan monad-monad ini tidak memiliki jendela tempat sesuatu bisa keluar-keluar atau masuk.  Maka setiap monad memiliki sudut pandangnya sendiri dan sudut pandang ini melukiskan kenyataan yang melingkunginya. Monad adalah system tertutup yang cukup diri. Setiap monad tak lain dari pada un miroir vivant de l’ univers, atau cermin hidup alam semesta.[3] Untuk bisa saling mengenal diantara monade-monade yang terisolasi ini dan memungkinkan gejala adanya keteraturan dan hubungan timbal-balik, Leibniz mengatakan bahwa Allah pada saat penciptaan mengadakan “harmonie preetablie” (keselarasan yang ditetapkan sebelumnya) di antara monad-monad.[4] Maka meski monad-monad berdiri sendiri-sendiri, mereka cocok dan berkorespondesi satu sama lain.

Pembahasan monad-monad yang saling berkorespondensi ini memungkinkan bahwa alam ini ditentukan oleh sesuatu yang lain semisalkan dalam konsep “keselarasan yang ditetapkan sebelumnya” sebenaranya secara intrisik ingin mengkomunikasikan bahwa terdapat sebuah kekuatan lain yang mengatur keselarasan di dalam universum yang mana di balik itu ada suatu monad purba yang dirujuk sebagai Allah dan menurut Leibniz monad manusia mewakili ciri khas monad Allah karena manuisa meski tidak sempurna namun memiliki ide kesempurnaan. Jadi Allah sendirilah yang mencocokan keselarasan antar monad-monad. Ini merupakan salah satu gagasan pembuktian ontologis tentang adanya Allah dari Leibniz yang mencerminkan pemikiran dengan berlandaskan metafisis-teologis.

Di sisi lain dalam bukunya yang berjudul Teodisea : Esai-esai tentang Kebaikan Allah, Kebebasan Manusia, dan Asal-usul Kejahatan, ia menguaraikan tentang  dunia yang selalu diwarnai oleh kekacauan dan kejahatan. Bagamana Allah yang dikatakan sebagai Mahakuasa namun masih menyisahkan problem kejahatan dalam dunia ini. Jika Allah Mahakuasa maka dunia ini seharusnya sempurna dan tanpa ada derita. Pertanyaan dan skeptisisme ini dijawab oleh Leibniz dimana dia menguraikan bahwa dunia idealnya didasarkan pada piranti-piranti kebaikan, dan keburukan adalah kekurangan dari kebaikan sebagaimana seperti ungkapan “privatio boni”.


[1] Frans Ceunfin, Sejarah Pemikiran Modern (Mn) (Maumere, STFK Ledalero, 2003) hal. 101

[2] Ibid, 103-104

[3] F.Budi Hadirman, Pemikiran Modern : Dari Machiavelli sampai Nietzche, (Yogyakarta : Penerbit Kanisius, 2019),hal. 54

[4] Ibid,55

By Ardy G

Pernah belajar di bidang Filsafat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Eksplorasi konten lain dari Patadela.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca