image of old building on american banknote
Photo by Karolina Grabowska on <a href="https://www.pexels.com/photo/image-of-old-building-on-american-banknote-4386157/" rel="nofollow">Pexels.com</a>

Abad pertengahan dikenal juga sebagai masa kegelapan, karena pada abad ini, filsafat masih belum berdiri sebagai sebuah disiplin ilmu pengetahuan yang independen  dan otonom melainkan harus berpijak dan sesuai (Voluntir) dengan prinsip keilmuan teologi yang akhirnya memperlihatkan  filsafat diposisikan sebagai ilmu yang subersif dari Teologi (pelayan atau ancila terhadap Teologi). Segala kebenaran yang teranut di dalam filsafat harus difalsifikasikan terlebih dahulu melalui kebenaran ajaran teologi yang bersumber pada kitab suci dan tradisi Gereja. Wahyu terlihat lebih menjanjikan ketimbang penalaran rasional ilmiah melalui filsafat. Kebenaran ilmiah sebagai ciri khas filsafat tidak bisa mengganggu eksistensi iman (infalibel). Orang harus beriman terlebih dahulu sebelum berpikir untuk mencapai pemahaman yang lebih lengkap dan menyeluruh. Persoalan logika sebagai perhitungan matematis bisa berujiung picik ketimbang iman yang lebih sahih dengan anutan kecerdasan yang lebih massif.  Prinsip-prinsip rasionalitas akali harus ditempatkan di bawah otoritas kebenaran iman. Akhirnya pada zaman ini hampir semua sector kehidupan (lebenswelet) dikendalikan oleh Gereja. Karena gereja memiliki kekuatan sebagai mandate Allah yang mewakili kebenaran Allah bagi sekelompok umat di dalam dunia.

pope stone sculpture in museum, abad pertengahan
Photo by Jean-Baptiste Terrazzoni on Pexels.com

Baca Juga : Filsafat Plato

Sebagai zaman keemasan kekristenan dimana Gereja mengambil peran sentral bagi aspek-aspek kehidupan sosial dan politik lainnya maka dapat dipastikan bahwa kebijakan politik pada abad pertengahan yang diembankan ke dalam pemimpin dalam hal ini para raja harus dilegitimasikan terlebih dahulu melalui keputusan Uskup dan Paus. Hal ini menguatkan pandangan bahwa ziarah umat adalah bagian dari pengejahwentahan situasi kehidupan kekal dalam peristiwa Kerajaan Allah kelak (Misi Eskatologis). Oleh karena masyarakat sebagai warganegara harus diutamakan terlebih dahulu pembekalan tentang kebenaran-kebenaran dan perkara-perkara ilahi yang dalam hal ini bersumber pada agama (Kekristenan). Orang-orang harus dihindari sedemikian dari pertanyaan-pertanyaan kasuistik rasional-logis agar dibawa kepada pemantapan pemahaman iman yang juga bermuara pada janji keselamtan akhirat nanti. Hal ini senada dengan uraian Peter Gibson bahwa keyakina-keyakinan transenden yang bersifat religious dan spiritual adalah sesuatu yang melampui alam yang terbatas pada pencerapan indrawi oleh karena itu manusia tidak boleh tunduk pada hukum alamnya dan terbawa pada mekanisme hukum alam tersebut.[1]intuisi dalam kesadaran kepada yang universum harus melampui alam fisikal.

Ada dua tokoh pemikiran yang berpengaruh dalam zaman ini yaitu Agustinus dan Thomas Aquinas. Filsafat Agustinus sangat kental memengaruhi pandangan Gereja terlepas ia juga sebagai Bapa Gereja dan seorang Apologetik. Misalkan pemahaman transendensi yang ditekankan Gereja juga bertolak dari  filsafat Agustinus yang sangat khas Platonisme. Melalui pengetahuan mengenai kebenaran-kebenaran abadi sejak kelahiran dalam ingatan menurut Agustinus, manusia ikut mengambil bagian dalam ide-ide Tuhan yang mendahului ciptaan dunia. Ciptaan ikut mengambil bagian dalam ide-ide Tuhan namun manusia merupakan ciptaan yang unik (bukan pasif), melainkan diwujudkan secara aktif dalam suatu pengetahuan yang penuh kasih. Ia yang melampui ciptaan dapat mendaki sampai pada pengakuan yang penuh kasih akan Tuhan. Berpikir  dan mengasihi sungguh sangat dekat dan tak dapat dipisahkan . Tuhan adalah ada sebagai pengada, bersifat pribadi, dan yang menciptakan seluruh jagad raya secara bebas dan bukan dengan jalan emanasi yang niscaya, sebagaimana pandangan Plotinus.[2] Maka hal ini mau menunjukan bahwa melau kesadaran dan berpikir, manusia adalah bagian dari partisipasi keilahian berasamaan dengan hal-hal yang melampui darinya (Tuhan) dan hal ini sangat korelasi dan pararelitas dengan dogmatis agama di dalam kekristenan masa Abad pertengahan.

Baca Juga : Periodi Sejarah Pencerahan Eropa

Dan perlu diketahui bahwa filsafat abad pertengahan melewati dua periode besar yakni periode patristik yang terdiri dari para Bapa Gereja dan para ahli agama pada permulaan agama Kristen. Yang kedua adalah periode Skolastik yang berlangsung antara tahun 800-1500. Periode ini dibagi menjadi tiga tahap yakni :

  1. Periode Skolastik awal (abad 9-12)
  2. Periode puncak perkembangan skolastik di mana pengaruh Aristoteles sangat besar dan puncak perkembangannya ada pada Thomas Aquinas (abad 13)
  3. Periode Skolastik akhir (abad 14-15).[3]

Para bapa gereja dan para ahli agama sangat berperan penting bagi kehidupan Gereja sehubungna dengan pemeliharan dogma dan penyusunan serta mempertanggung jawabkan. Sedangkan di dalam masa skolastik sangat berperan penting dalam menyediakan binaan dan pola didikan bagi peserta didik baik calon klerus maupun awam. Ajarn-ajaran logika dan retorika misalnya diberikan di sekolah-sekolah yang diselenggarakan oleh gereja. Jadi saat itu sudah dipastikan bahwa di samping bangunan-bangunan gereja pasti ada bangunan sekolah-sekolah dan uniersitas yang siap memberikan pengajaran dan pembinaan. Dan yang pastinya perguliran kurikulum tidak menyeleweng dari standar gereja dengan menyertakan unsur-unsur filsafat yunani (Hellenisme) untuk menguatkan keberlanjutan perkembangan Gereja itu sendiri. Tidak mengherankan kalau pada waktu itu khususnya pada abad 13 munculnya semangat untuk mendirikan uniersitas-unisersitas besar sebagai puncak dari Skolastisisme. Dan tentang hal ini kita tidak bisa lupa akan tokoh Thomas Aquinas  yang sangat terkenal dengan Summa Theologiaenya dengan dalil tentang pembuktian eksistensi adanya alah melalui lima jalannya yang masih terkenal bahkan sampai sekarang.

Hal yang melatarbelakangi zaman abad pertengahan adalah kekuasaan dan peradaban romawi yang telah ada eksis pada abad 31 SM sebelum munculnya Gereja. Zaman keemasan Gereja menjadi ada berkat integrasi Gereja ke dalam Kekaisaran Romawi yang sebelumnya menganut paganisme, setelah perintah Kaisar Konstantinus yang memaklumatkan bahwa Kekristenan menjadi agama resmi kekaisaran. Gereja akhirnya tumbuh menajdi sangat baik bahkan sangat melampui dari otoritas kaisar di dalam keputusan politik dan proses pengambilan kebijakan. Ide pemisahan Negara dan agama muncul belakangan setelah munculnya zaman pencerahan sesudah renaissance dan humanism pasca abad pertengahan.


[1] Peter Gibson, Segala Sesuatu yang Perlu Anda Ketahui tentang Filsafat (Jakarta : Penerbit Gramedia, 2023) hal. 232

[2] Kondrad Kebung, Filsafat Ilmu Pengetahuan, (Jakarta : Prestasi Pustaka, 2011) hal.121

[3] Ibid hal.122

By Ardy G

Pernah belajar di bidang Filsafat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Eksplorasi konten lain dari Patadela.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca