brown concrete statue of man
Photo by Florian Chefai on <a href="https://www.pexels.com/photo/brown-concrete-statue-of-man-6458045/" rel="nofollow">Pexels.com</a>

Mengenai “Martin Luther dan pandangannya terhadap filsafat” adalah sebuah bahasan tentang biografi dan pengaruhnya yang tentu merupakan sesuatu yang sangat familiar, baik itu terhadap perkembangan religius protestantisme sendiri maupun konteks pandangannya terhadap filsafat. Ia dikenal pula sebagai seorang tokoh reformis yang melahirkan pengaruh terhadap religius dan pemikiran bagi perkembangan filsafat dan teologi sesudahnya. Luther lahir pada 10 November 1483 di Eisleben,Sachsen – yang adalah bagian dari Kekaisaran Romawi Suci) ,wilayah Jerman sekarang- dari pasangan Hans Luder (atau Ludher, kelak Luther)dan Margarethe (née Lindemann) istrinya. Diketahui ayahnya adalah seorang penyewa usaha sejumlah tempat peleburan dan tambang tembaga dan sekaligus menjabat sebagai salah seorang dari empat perwakilan warga dalam susunan dewan setempat. Hans Luther terpilih sebagai anggota dewan kota pada 1492.

Pada tahun 1501,  ia memasuki Universitas Erfurt pada usia 17 tahun, dan akhirnya bisa meraih  Gelar magisternya  pada 1505. Pada 3 April 1507, adalah hari bersejarah baginya dimana Jerome Scultetus, Uskup Brandenburg, menahbiskan Luther untuk menjadi seorang Imam Katolik di Katedral Erfurt. Tiga tahun berselang ia dipanggil oleh pihak, Universitas Wittenberg yang baru didirikan, agar mengajar teologi di sana.  Ia kemudian juga meraih gelar sarjana dalam bidang studi Alkitab pada 9 Maret 1508, dan gelar sarjana lainnya dalam bidang studi Sententiae karya Petrus Lombardus pada 1509. Doktor Teologinya diraih pada 21 Oktober 1512,[1]

Martin Luther dan pandangannya terhadap filsafat
Gambar Luther Saat masih sebagai Frater Agustinian, Sumber : Wikipedia.org

Tokoh Reformasi

Perlu kita ketahui bahwa eksistensial gereja-gereja protestan yang dapat kita ketahui sekarang adalah cikal-bakal dari pergerakan reformasi Luther ini. Perpecahan ini disebabkan karena kesan indikasi adanya ajaran-ajaran atau doktrin yang dikritisi sebagai palsu terhadap doktrin infalibel atau yang tidak dapat salah pada Hierarki Katolik dan praktik jual- beli jabatan rohaniwan adanya praktik pembayaran untuk pelepasan dosa (Penjualan Indulgensia). Diketahi terdapat 95 tesis atau pendasaran yang menyertakan protes terhadap konsep indulgensi ini kemudan disebarkan dihampir seluruh pintu-pintu gereja di Wittenberg.  Dan Semboyan yang terkenal dalam reformasi Lutheran adalah Sola Fide, Sola Gratia dan Sola Scriptura (Hanya iman, Hanya Anugerah dan Hanya Firman). Proses pembaharuan Gereja Protetstan ini melihat Luther solah mengembalikan Prinsip spiritual ke Asali dalam hal ini iman benar-benar diarahkan kembali kepada Allah dan injil-injil.

Baca Juga : Filsafat Abad Pertengahan

Terhadap gereja katolik dan perkembangan iman kekristenan, Luther dianggap sebagai seorang tokoh reformasi dan pembaharu yang sangat berpengaruh. Reformasinya tersebut sangat mengguncang Eropa yang akhirnya berpengaruh terhada perpecahan dalam solid terhadap dunia iman kritiani. Reformasi Lutheran juga menandai akhirnya masa Abad Pertengahan yang kemudian dilanjutkan dengan Abad Modern.

Gerakan Reformasi pada Luther membawa dampak terhadap pembaruan pandangan dalam filsuf-filsuf sezamannya yang juga secara pasti  secara intirnsik tersemat pada kandungan teoritis atas pemikiran religiusnya serta bagamana konsekuensinya terhadap pemikir-pemikir zaman modern (Hegel dan Kierkegaard) dan Kontemporer (Eksistensialisme dan teologi Baru).[2]

Kita juga harus mengetahui tentang tiga ajaran pokok Lutheran mengenai ketiga prinsip seperti yang telah disinggung di atas

  1. Soal Fide. Pembenaran radikal manusia karena iman, Ajaran tradisional Gereja bahwa keselamatan manusia hanya ditentukan oleh iman dan  perbuatan ditolak. Mengenai semua yang diketahui tentang Allah
  2. Kitab Suci adalah satu-satunya sumber kebenaran.Mengenai Semua yang diketahui tentang Allah dan bagaimana hubungan manusia dengan Allah , dikatakan oleh Allah dalam Kitab Suci.(Sola Dei)
  3. Penekanan Imamat Umum dan studi bebas atas Kitab Suci (Sola Scriptura). Bahwa selain dengan logika intim (Hubungan Allah dengan manusia, manusia dengan Sabda Allah tak memerlukan sarana khusus),bahwa imamat khusus tidak bermakna mengingat sejarah akhir pada abad pertengahan  dan selama masa renesans imam sudah disekularisasi. [3] Immamat umum adalah suatu keadaan bahwa manusia dapat akses secara intensif akan nilai-nilai dan isi kitab suci tanpa harus mengikat dan bergantung pada immamat khusus secara intensif.

Pandangannya terhadap Filsafat

Pandangan Martin Luter terhadap filsafat adalah bersifat negative : sebuah sikap yang discredit akan kemungkinan kodrat manusia untuk menyelamatkan diri, tanpa rahmat Allah membuat Martin Luther menolak akan adanya penyelidikan rasional yang otonom dan setiap usaha untuk mengukur diri dengan persoalan-persoalan tentang manusia atas dasar logos, akal budi murni. Uarain ini dilihat bahwa manusia tidak bisa berdiri dengan kekuatan sendiri dalam mencapai kebaikan dan kebahagian eskatologis akhirat tanpa bersandar pada keterbukaan pada suatu kekuatan yang lain yakni rahmat Allah. Bagi Luther filsafat dianggap sebagai sofisme yang sia-sia dan buah keangkuhan dari manusia yang ingin membangun diri berdasarkan kekuatan sendiri dan bukan berdasarkan satu- satunya hal yang menyelamatkan , yaitu iman. Kita bisa merujuk pada filsafat Aristoteles yang dikategorialkan. Manusia yang bertindak hanya mengandalkan dan berdasarkan kodrat hanya bisa berdosa dan berpikir hanya dengan intelek biasa, bisa keliru. [4]

Bagi Luther filsafat dipandang sebagai sesuatu yang tak cukup dapat memberikan akses secara lengkap untuk membangun kualitas diri dan kesadaran bersamaan dengan aspek yang transenden. Fiilsafat hanyalah jalan dan instumen tambahan untuk mengerti dan mengenal akan kebaikan dan kesempurnaan di dalam pemikiran dan pencapaian kebijaksanaan adalah  ideal. Sehingga dalam proses iman ia cenderung menyudutkan filsafat ketimbang Gereja Katolik yang mengakomodir filsafat untuk memantapkan iman.


[1]  Wikipedia.org/ Wiki/Martin Luther diakses pada tanggal 11 September 2023

[2] Frans Cheunfin, Diktat Sejarah Pemikiran Modern, (Maumere :  STFK Ledalero,2003) hal. 26

[3] Ibid hal 27

[4] Ibid

By Ardy G

Pernah belajar di bidang Filsafat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Eksplorasi konten lain dari Patadela.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca