Berbicara tentang Mazhab Frankfűrt maka kita tidak bisa lepas pisahkan dengan perkembangan Ideology Marxisme dan lokus negara Jerman khususnya kota Frankfűrt. Diketahui negara Jerman yang dulu dikenal dengan wilayah Prussia- Jerman adalah wilayah tapal batas antara kekuatan dua ideologi besar yakni Sistem Kapitalis dan Sosialis Marx sehingga Jerman pernah dipisahkan menjadi Jerman Barat dan Jerman Timur selama 28 tahun sejak 13 Agustus 1961, akibat Perang Dingin, maka Jerman Barat dikuasai oeh Amerika Serikat yang berideologi Kapitalis dan Jerman Timur dikuasai oleh Uni Soviet yang berhaluan komunis. Pemisahan ini disebakan pula kekalahan Nazi Jerman yang dipimpin oleh Adolf Hitler dari sekutu dan Uni Soviet setelah Perang Dunia II dimana Jerman gagal rekonstruksi kembali negaranya. Ditawarkan agar Uni Soviet mengambil alih rekonstruksi atas jerman Pasca Perang namun usulan itu ditolak. Jerman pun terbagi ke dalam dua negara baru yakni Repoblik Federal Jerman yang bersekutu dengan NATO dan Repoblik Demokratik Jerman yang bersekutu dengan Pakta Warsawa.[1]

Mazhab Frankfurt ini masih relevan dengan perkembangan sejarah ini. Mazhab ini merupakan mazhab yang mengembangkan pemikiran Marxisme  di barat yang mengkritisi system ekonomi capital yang bertujuan untuk melepaskan manusia dari genggaman dan pemberlakuan teknokratik modern yang terkesan mengisap dan membelenggu. Oleh karena itu, aliran ini dikenal juga dengan sebutan Neomarxisme. Tidak bisa disangkal pula bahwa orang-orang lebih mengenalnya dengan sebutan Teori-Kritis. Teori yang bermaksud untuk menyoroti segala fenomena kehidupan individu dan masyarakat  melalui kesadaran kritis –rasional (aukflarung) di dalam hampir semua bidang kehidupan atau lebenswelet, seperti bidang ekonomi,politik,hukum,agama,seni, social masyarakat dan ilmu pengetahuan.

Baca juga : Mengetahui Zaman pencerahan

Selain itu proyek teori kritis ini tidak lagi mengedepankan teori sebagai sesuatu yang per se dimana fokus pengembangan pada perumusan teori itu sendiri melainkan mengusahakannya bagaimana ranah praksis dapat diperhatikan . Artinya ingin berusaha agar ilmu yang dikembangkan dapat memiliki implikasi dan manfaat bagi masyarakat luas. Hal ini dapat dilihat di dalam kritik social atas  bentuk ketertindasan yang sering dihidup dalam masyarakat. Hal yang harus dipikirkan kira-kira dengan langkah apa yang harus diambil untuk mengatasi persoalan ini. Ada usaha emansipatoris kultural di dalam persoalan ini. Bagaimana sistem setidaknya bisa diperbaharui untuk mengatasi belenggu lama yang menggerogoti manusia dari ketertindasan dan pengisapan.

Baca Juga : Mengenal  Idealisme Jerman  : Perjumpaan Terhadap Metafisika Gaya Baru

Mazhab Frankfurt diidentikan dengan teori kritis mengingat terdapat lembaga penelitian social yang disebutkan dengan Institut fur Sozialforschung  yang didirikan di Frankfurt  am Main pada tahun 1923.  Lembaga ini menyokong pendirian mazhab Frankfurt dan merupakan salah satu jurusan resmi yang berada di universitas Frankfurt yang dirintis oleh Felix Weil yang beranggotakan  Friedrich Pollock (ahli ekonomi), Carl Grunberg (Direktur Institut), Max Hokheimer (filsuf dan sosiolog), Karl Wittfogel (sejarawan) ,Theodor Wiesengrud- Adorno (filsuf, sosiolog, musikolog), Walter Benyamin (kritikus sastra), Herbert Marcuse (filsuf), Franz Neumann (ahli hukum), Erich Fromm (psikologi social), Otto Kirchmeir (ahli politik) Henryk Grossmann (ahli ekonomi dan politik), Arkadij Gurland (ahli ekonomi dan sosiologi).  Habermas dikenal sebagai sebagai tokoh yang muncul pada Genersi Kedua Teori Kritis.[2] Alih-alih orang hampir menyamakan antara Mazhab Frankfurt, Teori Kritis dan Institut fur Sozialforschung meskipun terdapat sedikit perbedaan secara subtansi tentang ketiganya.

Diketahui bahwa Teori Kritis Generasi Pertama sempat menghadapi jalan buntu mengingat warisan Marxisme gagal mendorong praxis perubahan kualitatif masyarakat modern dan di mana cara kerja rasio dan sistem msyarakat modern yang dihasilkan tak lain dari sistem menyeluruh dari penguasaan, setiap praxis -yang adalah kerja – emansipatoris selalu menghasilkan perbudakan baru karena emansipatoris berarti penguasaan baru.[3] Hal ini yang membawa Teori Krotis Generasi Pertama menghadapi jalan buntu. Oleh karena itu munculah apa yang disebutkan dengan Teori Kritis Generasi Kedua yang dikembangkan oleh Jűrgen Habermas dengan sebuah paradigma baru.


[1] Marwati D. Poesponegoro, Sejarah Singkat Jerman, (Jakarta : Universitas indonesia, 1981) hlm.89

[1] F.Budi Hadirman, Kritik Ideologi : Menyingkap Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan Bersama Jurgen Habermas (Yogyakarta : Penerbit Kanisius, 2009),hal. 45

[2] ibid, hal. 81

By Ardy G

Pernah belajar di bidang Filsafat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Eksplorasi konten lain dari Patadela.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca