soren Kierkegaard

Catatan Awal dan Biografi Singkat

Problematis dan diskursus idealisme dalam hal ini filsafat Hegel tidak saja berhenti pada Feurbach, Schopenhauer dan Marx yang mana masing-masing mereka sama-sama menolak konsep Roh yang dikemukakan olehnya. Adapun seorang tokoh melankolis berkebangsaan Denmark pun datang dengan konsep yang sama yakni sama-sama menggugat abstraksionisme yang digagaskan oleh filsuf jerman ini. Dia meninggalkan cara berpikir metafisik yang buram dengan menawarkan suatu khazanah ilmiah yang lebih spesifik dan kongkrit. Dia adalah Kierkegaard dari nama lengkapnya Soren Aabye Kiekegaard. Bersama pemikirannya kita seolah-olah dibawa kembali ke suasana yang lebih dekat bahkan kembali ke dalam diri kita sendiri untuk  bergutat dengan kesadaran kita serta bagaimana kemampuan kita untuk memahami keberadaan dan kualitas diri kita sebagai manusia. Sebuah keharusan yang menyadarkan kembali akan eksistensi diri dengan segala problematisnya setelah Hegel membawa bumi Eropa terbang ke khazanah langit metafisik yang abstrak, dan konsep inilah yang akan diperbaiki oleh Kierkegaard.

Baca juga : Mengenal  Idealisme Jerman  : Perjumpaan akan Metafisika Gaya Baru

  Sebelum menyelam lebih dalam akan pemikirannya, sekarang mari kita lihat sedikit tentang biografi hidupnya, adapun masa kecil Kierkegaard berlansung di kopenhagen, Denmark. Ia lahir di kota ini pada 5 Mei 1813. Ia dikenal memiliki watak melankolis lantaran warisan sang ayah  Mikhael Kierkegaard. Watak melankolis ini dikarenakan Michael selalu dirundung oleh perasaan bersalah lantaran peristiwa kelahiran dari putra sulungnya yang hanya menjelang lima bulan pernikahannya. Warisan melankolis ini akhirnya diteruskan kepada Kierkegaard dengan melihat bahwa kehidupannya adalah menjalani takdir dengan layak menerima kutukan Tuhan karena warisan dosa sang ayah. Kierkegaard masuk pada Fakultas Teologi Universitas Kopenhagen meskinpun hanya sebagai langkah formalitas untuk menyenangkan sang ayah, dan pada akhirnya lebih berminat pada kajian filsafat, kesustraan dan sejarah. Meskipun pada awal-awal masih dirundung perasaan bersalah atas hidup-warisan melankolis-dengan melihat bahwa hidupnya harus berkonsekuensi untuk menjalani hukuman Allah yang ditimpakan kepada keluarganya namun pada akhirnya ia mulai meninggalkan keyakinan ini. Penanggalan akan keyakinan ini mengantarnya pada sikap rasional yang kemudian membawanya pula pada sikap kritis untuk optimis pada positivisme yang akhirnya bermuara pada perubahan pandangan religiosanya. Wacana religisu akhirnya mulai diragukan olehnya. Ia akhirnya berusaha untuk mengosongkan diri dari kehidupan yang berpatokan pada landasan moral dan religi yang akhirnya membawanya pada situasi krisis yang mengantarnya pada situasi ingin bunuh diri pada 1836.[1]  Namun kembali bertobat dan kembali melanjutkan studi teologinya setelah melewati masa krisis tersebut.  Kemudian tentang kehidupan romantisnya, dikisahkan ia sempat melakukan pertunangan dengan Regina Olsen namun karena perubahan paradigma akan hidup pernikahan, ia akhirnya membatalkannya. Mengenai karya-karyanya dapat kita kenal melalui buku Either or, The Concept Of Dread, Philosophical Fragments, Stages on Life’s Way dan Concluding Unscientific Postcript, Attack upon Christendom.[2]

regina kekasih Kierkegaard
Regina Olsen by https://en.wikipedia.org/wiki/Regine_Olsen

Pemikiran dan Dasar Pandangannya yang melawan Hegel

Kita ketahui bawa konstruksi pemikiran Kierkegaard ditujukan kepada Hegel namun bukan hanya Hegel yang menjadi sasaran kritiknya akan tetapi kritiknya pun pararel ditujukan pula kepada Gereja Kristen terutama Lutheranisme yang menjadi agama resmi Denmark kala itu. Menurutnya, eksis Kekristenan dalam kaitan dengan sikap atau penghayatan keagamaan di Denmark yang terkesan hanya sebuah kewajiban perilaku kala itu tidak lebih dari sebuah gejala atau fenomena yang dalam bahasa Feurbach adalah suatu keterasingan atau alienasi. Menurutnya orang krsiten sebenarnya sedang tidak sedang sungguh-sungguh memikirkan tentang Allah. Jadi, agama hanya sebatas persoalan “obyektif” dan “lahiriah” saja, karena tidak menyertakan komitmen subyektif manusia itu sendiri. Dan biang keladi akan kemerosotan tersebut adalah tidak lain dan tidak bukan oleh pengaruh filsafat hegel itu sendiri.[3] Kierkegaard melihat isi filsafat Hegel-termasuk teologi-yang memastikan adanya eksistensi tertinggi yakni yang Absolut adalah tidak lain sebagai modus yang menggerakan manusia pada suatu kultus puja yang dilakukan karena pengaruh kesadaran subversive dari manuisa itu sendiri dengan asumsi bahwa terdapat suatu relaitas transenden yang akan mengatasi setiap kegagalan manusia. Bentuk kultus ini baginya adalah sebatas sebuah kewajiban perilaku saja.

Baca Juga : Menelisik Filsafat Hegel : Equivalensi antara Filsafat dan Teologi

Lebih lanjut tentang pandangan Hegel akan Roh pun ditolak, terutama tentang proses Roh yang menjadi sadar diri. Ia melihat bahwa Hegel melalui dialektika Roh sudah mengabstrakan sesuatu menajdi sebuah sistem abstrak  yang meremehkan manusia konkret dan individu. Inilah yang dinamakannya dengan kritik abstraksionisme yang mengingatkan akan peran pentingnya kesadaran manusia sebagai manusia yang kongkret dan individual yang mana manusialah yang sadar diri bukan Roh yang sadar diri. Hegel melihat bahwa manusia sebenarnya secara individual memiliki kemampuan untuk membuat keputusan bebas secara personal dan menuaikan komitmen yang bermakna. Maka dari itu manusia individual menerima martabatnya.

Tentang Eksistensial

Istilah eksistensial diketahui pertama kali diperkenalkan oleh Kierkegaard. Pemikiran ini membuatnya diakui pula sebagai tokoh yang memberi landasan dan konsep-konsep dasar yang kemudian diantar ke pintu gerbang pemikiran eksistensial pada abad ke -20 . Eksistensial Kierkegaard ini  kemudian dilanjutkan oleh tokoh-tokoh eksistensial Prancis lainya semisalnya Jean- Paul Sarte, Alber Camus, dan Paul Ricoeur.[4] Kita perlu mengetahui bahwa aliran eksitensial merupakan aliran pemikiran yang menempatkan manusia sebagai basis utama dalam uraian filosofisnya.

Kembali Kepada Kierkegaard,Eksistensi dalam kaitan dengan kesadaran manusia baginya mengungkapkan apa yang terlihat lebih kongkret dan nyata sehingga ia diterima sebagai suatu kebenaran. Jadi, dengan menolak Hegel yang melihat kebenaran sebagai totalitas obyektif, Kierkegaard melihat bahwa kebenaran adalah individu yang bereksistensi. Istilah eksistensi diatas sepatutnya hanya dapat diterapkan pada manusia, atau lebih tepat lagi pada individu kongkret.[5] Menurutnya hanya aku yang kongkret ini yang bereksistensial, oleh karena aku tidak bisa direduksi atau dikurangi ke realitas-realitas lain baik itu system ekonomi, idea, masyarakat dan sebagainya. Kemampuan dalam kapasitas sebagai personal dan subyektif adalah hal yang harus diperhatikan dan dikembangkan dengan tidak mengandalkan pada imperatif pola-pola abstrak dan mekanis yan mungkin absurd dan tak pasti.

Dialektika Eksistensi

Baca Juga : Beberapa Pendasaran Ludwig Feurbach yang Dianggap Merong-rong Eksistensial Teologi 

Dialektika eksistensi merupakan gagasan Kierkegaard yang menolak konsep dialektika hegel. Jika di dalam dialektika hegel yang diutarakan adalah perkembangan Roh abstarak maka Kiekergaard menggantikannya dengan perkembangan kehidupan eksistensial individu dan proses perkembangan tersebut dilakukan dengan keputusan kehendak atau pilihan, bahkan dengan suatu lompatan atau akselerasi bukan dengan “pemikiran” layaknya hegel. Dia tidak setuju dengan konsep sintesis yang diutarakan oleh Hegel melainkan diyakini bahwa hanya pilihan dan komitmen personal atas salah satu alternative atau pilihan “jika tidak ini maka itu” dan pilihan bukan soal konseptual, melainkan soal komitmen total seluruh pribadi individu. Jadi manusialah yang menjadi faktor determinan. Kierkegaard pun membagi tahap-tahap eksistensial[6] ke dalam tahap estetis di mana manusia masih dilema dengan keadaan indrawi dan emosi-emosinya, tahap etis dimana manusia sudah dapat menguasai dirinya dan mengenal dirinya dan tahap religious dimana manusia sudah mampu bersatu dengan keadaan ilahi yang mengatasi keterbatasan manusiawi.

Penutup

Pemikiran Kierkegaard pada hakaikatnya bersifat praksis dan kongkrit yang sangat menekankan kualitas dan aktualitas yang lebih spesifik mengenai keberadaan sesuatu yang dipikirkan. Berkosentrasi pada hal-hal yang lebih nyata akan memastikan suatu kebenaran yang otentik dan ri’il. Jika pikiran kita terpusat pada suatu keadaan yang dapat dicerap langsung oleh indra maka pikiran kita sudah memastikan suatu kebenaran yang tidak sia-sia, tak seperti apa yang dikemukakan oleh Hegel yang menampilkan suatu deskripsi yang absurd dan pada akhirnya sia-sia kerana hanya mendekati seolah-olah sebuah penjelasan imajiner belaka. Manusia dalam proses kesadaran menurut Kierkegaard semestinya bukan dipicu oleh sebab lain semisalnya faktor Roh yang menggerakan seperti Hegel, akan tetapi kesadaran itu real datang dari usaha manusia secara independen. Jikalau Hegel dalam pemikirannya bersifat transenden maka Kierkegaard lebih menyukai imanensi. Ciri pemikiran yang sangat kuat berkosentrasi pada eksistensi manusia ini menjadikan Kierkegaard sebagai orang pertama yang melahirkan konsep eksistensial dengan dirinya sebagai pioner utama dari aliran ini. Pemikirannya kemudian memengaruhi Sarte, Gabriel Marsel dan Martin Heidegger.


[1] F.Budi Hadirman, Pemikiran Modern : Dari Machiavelli sampai Nietzche, (Yogyakarta : Penerbit Kanisius, 2019),hal. 237

[2]https://id.wikipedia.org/wiki/S%C3%B8ren_Kierkegaard

[3] F.Budi Hadirman, Pemikiran Modern , Op.Cit, hal.239

[4] K. Bertens, Filsafat Barat Kontemporer (Prancis) ,(Yogyakarta : Penerbit Kanisius,2019), Hal.81

[5] F.Budi Hadirman, Pemikiran Modern , Op.Cit, hal.241

[6] F.Budi Hadirman, Pemikiran Modern , Op.Cit, hal, 240

By Ardy G

Pernah belajar di bidang Filsafat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Eksplorasi konten lain dari Patadela.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca