Pendahuluan

Mengenal Neoplatonisme akan dasar ajarannya adalah sesuatu yang tidak terlepas dari proyek akademik tentang perjalanan pemikiran filosofis pasca Aristotelian. Dasar pemikiran Aristotelian misalnya mengenai perubahan dan gerak atau tentang gerak subtansi dari potensi ke aktus[1] misalnya merupakan sebuah telaah filosofis atau kesangsian yang lebih berkosentrasi kepada hal-hal yang fisikal. Pengenalan yang bersifat realisme ini alih-alih membawa kosentrasi manusia dalam kazhanah pemikiran akhirnya direduksi dan  tertuju pada isu-isu kekinian yang menizbihkan akan hal-hal azali. Neoplatonisme adalah jalan keluarnya yang mana dasar pemikirannya adalah hendak merangkum konsep filosofis – ajaran Plato, Aristoteles, Stoa dan Philo- yang lebih terpadu dan sistematis yang meliputi segala sesuatu bersama dengan pemikiran-pemikiran sebelum Aristotelian dengan memasukan konsep idea Plato sebagai piranti utama. Diketahui bahwa paham ini muncul sejak abad kedua M, yang juga deketahui sebagai pergumulan filosofis yang lahir sebagai kontra terhadap konsep kekristenan yang sedang tumbuh yang pada  perjalanan selanjutnya akhirnya akan meredup pada abad keenam M.[2] Maka dari itu Neoplatonisme dapat dilihat juga sebagai sebuah usaha untuk mengembalikan roh plato kepada kemurniannya yang sempurna selain juga untuk menempatkan ajaran dualisme Plato pada tingkatan yang lebih tinggi karena dengan posisonal sebagai ajaran yang kontra terhadap kekristenan, Neoplatonisme dipandang sebagai suatu jalan keselamatan termasuk keselamatan dunia.

Pendiri Neoplatonisme

Selanjutnya kita tidak dapat melupakan tokoh Plotinos sebagai Pencipta ketika membaca dan mengenal Neoplatonisme yang meskipun Neoplatonisme sedianya merupakan ajaran yang dirintis oleh Ammonius Sakkas yang merupakan guru dari Plotinus. Dasar ajaran Plotinos adalah dualisme Plato yang melihat bahwa dibalik dunia yang indrawi dalam artian dapat bisa diamati terdapat suatu entitas lain yang bersifat ilahi yang dalam bahasa Plato disebut sebagai idea atau dunia idea atau dunia “ada”. Dualisme Plato ini oleh Plotinos dinaikan tingkatnya, ditempatkan dalam suatu kesatuan yang lebih tinggi, di dalam kesatuan “arus hidup” yang mengalir dari “ Yang Ilahi” Meskipun filsafat Plato yang bersifat antosposntris yang berpusat pada manusia akhirnya dinaikan tingkatannya dengan berpusat kepada “Yang Ilahi”[3] meskipun terdapat banyak persamaan dengan ajaran agama Kristen akan tetapi tidak banyak dapat sumber yang kuat untuk memastikan apakah ajaran Plotinos dipengaruhi oleh agama Kristen ataukah ajaran dimaksudkan untuk membendung arus perkembangan kekristenan yang sedang berkembang pesat.[4] Akan tetapi banyak ahli yang menilai bahwa Neoplatonisme merupakan generasi terakhir dari pemikiran Yunani yang masih sempat mengepakan sayapnya sebelum setelahnya Kekristenan mengambil peran di dalam perkembangan pemikiran selanjutnya khususnya pada abad pertengahan.

Baca juga : Riwayat Plato : Biografi dan Jejak Pemikiran

Mengenal Neoplatonisme
Plotinos by Kompasiana.com

Teori Emanasi Plotinos

Selain itu lanjut Plotinus bahwa segala sesuatu atau jagat raya dengan segala isinya mengalir keluar daripada “yang Ilahi” itu, yang laksana sumber harus mengalirkan segala sesuatu keluar, atau laksana terang harus bersinar di dalam gelap. Maka dari itu dunia dengan segala isinya sejak kekal telah ada secara terselubung di dalam “Yang Ilahi”.[5] Bila makin jauh hal-hal yang mengalir itu dari sumbernya maka akan semakin tidak sempurna pula akan keadaannya dan pengaliran pun terjadi bertahap-tahap atau berpangkat-pangkat. Tahap pengaliran pun dapat diuraikan sebagai berikut:[6]

  • Pengaliran pertama adalah apa yang disebut dengan nous yang merupaka dunia idea, dunia roh. Nous tidaklah sempurna karena pada tahap ini “Yang Esa” telah membedakan diri dalam kedwitunggalan, yang terdiri dari memikir dan pikiran, atau terdiri dari karya akal dan isi akal. Karya memikir tidaklah diartikan sebagai perbuatan menguraikan melainkan sebagai suatu pandangan rohani yaitu suatu proses permenungan (Kontemplasi) yang mana di dalam perbuatan memikir itu tidak terdapat obyek yang dipikirkan.perbuatan memikirkan itu berdiri sendiri secara independen dimana ia memiliki diri sendiri sebagai obyek yang dipikirkan. Memikir itu alih-alih identic dengan yang ada karena ia dikategorikan sebagai “Yang Ilahi”. Yang dipikrikan adalah atau “obyek pikiran” masuk dalam kategori sebagai idea.
  • Pengaliran tahap kedua adalah jiwa (psukhe), yaitu jiwa dunia, atau juga dunia yang bersifat jiwani. Jika nous adalah gambar “Yang Esa”, maka jiwa adalah gambar nous. Jiwa sendiri memiliki dua macam hubungan, yaitu hubungan dengan nous yang terang, dan hubungan dengan benda yang gelap. Jadi jiwa berfugsi semacam penghubung atau pengantara antara nous dan benda. Selain itu diantara di antara jiwa dunia dan dunia benda terdapat jiwa- jiwa perorangan yang mana masing terhubung atau korespendensi bersama dengan jiwa dunia. Oleh karena itu, jiwa perorangan mewujudkan suatu pengungkapan jiwa dunia. Sebelum manusia dilahirkan sebetulnya jiwa sudah ada, maka menurut Plotinos, ada yang disebut praeksistensi jiwa dan ada pula yang disebut sebagai perpindahan jiwa.
  • Pengaliran tahap ketiga adalah benda (me on). Dengan demikian akhirnya benda akhirnya keluar juga dari “Yang Ilahi” atau suatu keadan terlihat terpisah dari kondisi ilahi. Yang meskipun terlihat tersapih namun persoalan dualisme antara dunia yang tampak dan dunia yang tidak tampak telah dieliminasi atau ditiadakan. Karena baik roh maupun benda yang mana keduanya sebenarnya hanya mewujudkan mata rantai atau sarana penghubung di dalam pengaliran segala sesuatu keluar daripada “Yang Ilahi”. Benda pula merupakan lapisan dasar segala hal yang tampak, yang mana pada dirinya sendiri benda tidak memiliki realitas. Pada dirinya sendiri benda hanya merupaka sebuah potensi, suatu kemungkinan yang memungkinkan segala sesuatu berada dalam ruang dan waktu.

Baca Juga : Aristoteles

Dari konteks ketiga tahap pengaliran di atas ketiga dihubungkan dengan eksistensi manusia yang diketahui memiliki tiga subtansi seperti roh (nous), jiwa (psukhe) dan tubuh (soma) yangmemiliki aspek ilahi yang memiliki kekuatan terang serta aspek tubuh bendani di mana kekuatan terang senantiasa cenderung ditarik dalam godaan kegelapan akhirnya menuai problematis. Plotinos menganjurkan tiga tahap pula untuk memecahkan problematis ini dalam tahap yang dinamakan sebagai remanasi atau jalan kembali. Adapun ketiga jalan tersebut adalah[7] melakukan kebajikan umum dengan cara memiliki pengetahuan yang baik (hikmat), memiliki keberanian, mengendalikan diri dan berbuat adil, selanjutnya dengan jalan berfilsafat dengan cara memikirkan segala sesuatu dengan cara yang mendalam, siapa yang berpikir secara filsafat maka ia akan diantar lebih mendalam ke dalam tingkat kebenaran, sehingga ia dapat mengarah pandangan ke dalam terang yang kekal dan jalan yang ketiga adalah tahap mistik merupakan tahap yang paling tinggi dimana tempat ini orang dapat menyelami dirinya secara sempurna, menyelami yang ilahi, yang ada dalam dirinya sendiri. Pada tempat ini manusia akan bebas dari perkara bendani, ia dapat mengatasi pikiran dan kesadaran sehingga sampai pada ketakjuban yang bahagia dimana ia akhirnya disatukan dengan konsep ilahi yang disejajarkan dengan ilahi yang esa.

Penutup

Dalam konsep Tentang Neoplatonisme, Plotinus mengantar pemikiran Yunani sampai pada tahapan mistik yang belum pernah dipikirkan sebelumnya. Perkembangan pemikiran mistik kemudian akhirnya dibahas lagi dalam pemikiran abad pertengahan yang mana kita ketahui bahwa konsep mistik sebenarnya lebih identik dengan pemikiran timur atau filsafat timur. Maka dari itu tidak mengherankan atau melebih-lebihkan jika kita menilai bahwa Neoplatonisme merupakan corak religiosa dari peradaban Yunani itu sendiri dan Plotinos merupakan seorang nabi yang ingin mencerahkan dalam misi keselamatan manusia sehubungan dengan penyatuan manusia dengan keutuhan “Yang Ilahi”. Sekian catatan tentang mengenal Neoplatonisme yang disajikan oleh penulis, sekiranya ulasan ini bermanfaat. Sertakan komentarnnya jika ada yang ingin ditanggapi.


[1] Karya-karya Aristoteles diketahui persis berbalik terbalik dengan karya-karya Plato, jika Plato terkesan bersifat edealis maka Aristoteles bersifat realis. Aristoteles menolak konsep dunia idea atau dunia “ada” seperti yang dikemukakan oleh Plato, baginya yang ada itu adalah hal-hal yang ditampaki atau sesuatu yang dapat dicerap oleh indra pengamatan, maka dari itu dunia idea adalah sesuatu yang diangankan oleh pikiran manusia. Tentang perubahan dan gerak adalah bagian inti dari ajaran fisika dan metafisikanya yang dituangkan dalam karyanya mengenai dunamis (potensi) dan energeia (aksi).

[2] DR. Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 1, (Yogyakarta : Penerbit Kanisius, 2016),hal. 66

[3] Ibid

[4] Ibid

[5] Ibid

[6] Ibid

[7] Ibid

By Ardy G

Pernah belajar di bidang Filsafat

2 thoughts on “Mengenal Neoplatonisme : Gagasan Tentang Emanasi”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Eksplorasi konten lain dari Patadela.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca