african american girl studying math at home
Photo by Monstera Production on <a href="https://www.pexels.com/photo/african-american-girl-studying-math-at-home-5200770/" rel="nofollow">Pexels.com</a>

Pada Kesempatan kali ini saya kembali akan memperkenalkan dua term atau istilah yang cukup penting di dalam kajian filsafat yaitu Mengenal Rasionalisme dan Empirisme. Bagi yang telah berkecimpung di dunia filsafat pasti tidak asing mendengar dan membaca istilah ini.  Namun bagi yang awam dengan term filsafat pasti sedikit gusar di dalam pemikiran untuk segera mencari jawaban yang jelas dan pasti tentang makna dan kandungan isi di balik istilah ini. Karena istilah rasionalisme yang dimaksudkan filsafat berbeda dengan kata rasionalisasi atau rasionalistik yang sering digunakan oleh masyarakat umum di dalam diskursus public.

Rasionalisme dan Empirisme adalah dua aliran pemikiran yang pernah muncul di dalam perkembangan sejarah filsafat setelah peristiwa renaisance.  Kedua aliran ini sangat bersifat dialektis atau bertolak belakang bahkan menuai perdebatan di dalam klaim akan kebenaran teori mengenai epistemis pengetahuan. Kedua aliran ini sama-sama berbicara tentang pengetahuan khususnya dari mana dan oleh apa pengetahuan itu terjadi di dalam pemikiran manusia. Kedua aliran ini muncul dan berkembang kira-kira pada abad XVI. Kedua aliran ini kemudian diperbaharui dan digagaskan kembali oleh Immanuel Kant salah seorang filsuf pencerahan (Aukflarung) berkebangsaan Prussia, Jerman. Desain uraian yag dibangun oleh Immanuel Kant adalah Kritisisme. Sebuah proses sintesis untuk menjinakan perbenturan ketegangan antara dua aliran ini. Nah, let’s go ke pembahasan mengenai kedua aliran ini.

Rasionalisme

Rasionalisme juga dikenal dengan istilah Filsafat Kontinental, istilah ini dikarenakan tokoh-tokohnya berasal dari daratan Eropa Barat, seperti Descartes, Leibniz dan Spinoza.[2] Rasionalisme menegaskan bahwa pengetahuan manusia sudah terjadi oleh karena  mekanisme akal itu sendiri dengan muatan ide-ide bawaan (Idea Inatae). Kita bisa membaca karya Descartes mengenai Cogitans (Piikiran) yang umum dikenal dengan istilah co gito ergo sum ( Aku Berpikir maka aku ada ). Aliran melihat pengetahuan yang dicerna oleh indrawi sebagai pengetahuan yang bersifat subversive atau lebih rendah dari pengetahuan epistemis (Pengetahuan yang dicapai atas kerja ratio atau nalar mislnya Metafisika dan Epistemologi yang dihasilkan melaui penalaran akal).

       Baca Juga : Martin Luther Sang Reformis dan Apa Pandangannya terhadap Filsafat

Tokoh-tokoh  Rasionalisme

  1. Plato.

 Meskipun aliran rasionalisme  berkembang pada abad XVI akan tetapi ciri kategorial rasionalisme sudah ada di dalam pemikiran Plato. Plato dikatakan sebagai seorang rasionalis (idealis) yang berpandangan bahwa pengetahuan sejati adalah episteme yaitu pengetahuan tunggal dan yang tak berubah-ubah sesuai dengan ide-ide abadi. Bahwa hanya ide-ide lah yang sempurna dan apa yang ditangkap oelh indrawi adalah bayangan atau tiruan  dari ide-ide abadi tersebut(Mimesis).[3] Kita dapat membaca gagasan yang mendukung akan teori ini di dalam mitosnya yang tereknal yang disebut dengan Alegori Gua atau perumpaan tentang Gua.

  • Rene Descartes.

Rene Descartes dikenal sebagai Bapak Filsafat Barat Modern. Dalam pandangan Descartes kesangksian kaum skeptis  sangat penting, oleh karena itu ia juga meragukan segala sesuatu dan itu dinyatakan sebagai sebuah metode filsafat yang benar. Bahwa kita meragukan segala sesuatu hingga kita memperoleh ide yang jelas dan terpilah-pilah. Ini adalah keraguan  metodis yang berperan melenyapkan pelbagai prasangka, dugaan dan yang menghalangi kita mencapai pengetahuan yang benar. Kita mengena akan term cogintansnya dalam co gito ergo sum. Descartes memberi distinksi antara Res Cogitans dan Res Ekstensa. Dalam kesangsian Metodisnya Descartes meragukan pengetahuan tradisional karena berangkat dari pengelaman indrawi. Indera-indra itu sering menipu. Sebagaianya lagi dibangun atas akal budi dan atas daya diskursif akal budi. Dan mengingat ada orang yang salah dalam bernalar dan membentuk dalil-dalil yang menyesatkan, aku menolak semua pembuktian yang dahulu kuterima sebagai pasti.[4] Maka dari ini kita mengetahui bahwa Rene Descartes benar memberikan afirmasi bahwa pengetahuan yang defenitif dan lebih asti adalah pengetahuan yang berangkat dari terang akal budi. Ia membedakan tiga jenis pengetahuan yakni idea innatae yang merupakan ide bawaan sejak lahir, adeventitious ideas yang merupakan ide-ide yang berasal dari luar diri manusia dan factitious ideas yang mana ide-ide ini adalah ide-ide yang dihasilkan oleh pikiran itu sendiri.[5]

  • Spinoza. Baruch Spinoza adalah filsuf Yahudi Sefardim (Yahudi Diaspora Berkebangsaan Spanyol). Teori yang terkenal adal tentang monadologi atau Subtansi di mana Allah dan Dunia adalah satu Sebagai satu Subtansi Natura naturans dan natura naturata, dimana Allah adalah subtansi bersama dengan atribut-atributnya yang tak terbatas ; dunia terbentuk dari modus-modus tak dapat ada tanpa subtansi dan atribut-atribut; maka semua secara niscaya ditentukan oleh kodrat Allah dan taka da sesuatu yang kontingen dan dunia adalah konsekuensi niscaya dari Allah. Istilah yang diperkenalkan dinamakan dengan subtansi yankni sesuati yang dapat pasti berdiri yang kita kenal pasti di balik ilmu-ilmu ukur  yang seharusnya tak perlu dibuktikan lagi.

     Baca Juga : Humanisme

Empirisme

Sekarang kita akan mendalami aliran empirisme. Aliran ini sangat identic dengan british karena hamper seluruh peikirannya dipelopori oleh filsuf-filsuf kebangsaan inggris. Pemikiran Empirisme juga terkandungi kajian filsafat politik. Tokoh- tokoh pelopornya adalah Hobbes, John Locke, David Hume dan William James

  1. John Locke. Locke melakukan sebuah proses validasi terhada kepastian dari pengetahuan manusia yang dituangkan dalam karyanya yang berjudul An Essay Concerning Human Understanding (Risalah tentang Intelek Manusia). Karya ini mengonsepsikan bahwa pengetahuan manusia berasal dari pengelaman manusia, sebagai hasil kara indra dan analisis atasnya. Ia memeriksa intelek manusia (intelek sebagai Subyek), yaitu batas-batas  dan kemampuanMenurut Locke ada istilah tabula rasa (kertas kosong) bahwa manusia ketika dilahirkan terposisional seperti ini. Segala kesangsian dan pengenalan belum terverivikasi terhadapnya. Akal budi baru dapat mengetahui karena adanya informasi dari panca indra.
  2. David Hume. Karyanya berjudul An Enquiri Concerning  Human Understanding (Penyelidikan terhadap intelek manusia) yang mengafirmasi bahwa semua materi pengetahuan berasal dari pengelaman indrawi. Dengan Hume lahirlah gagasan tentang Kodrat Manusia Karen ia melepaskan filsafat mislkan metafisika dan epistemology sebagai perihal andaln dalam menjamin sesuatu yang pasti. Manusia disarankan untuk menyerah terhadap akal-akal skeptic.Di sinilah Hume menemukan suatu horizon baru agar manusia berkosentrasi danmengolah persona. Mengalihfunsikan ekspektasi eksternal untuk kembali ke dalam diri. Segala macam bentuk gagasan humanistic diperkuat di sini. Gagasn Eksistensialisme bisa tumbuh dari reaksi terhada filsafat David Hume ini.

Terdapat pula istilah empirisme radikal yang berpendapat bahwa semua pengetahuan manusia diperoleh melalui pengetahua indrawi seprti yang dikaji oleh Hume di atas.

Sekian Uraiantentang Mengenal Rasionalisme dan Empirisme. Semoga Tulisan ini dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi pengunjung sekalian.


[1] Tema ini diangkat dari tema kuliah yang didapatkan oleh penulis selama mengikuti proses perkuliahan jenjang filsafat pada mata kuiah di STFK Ledalero, Maumere. Tema ini terdapat pada mata kuliah epistemology, Sejarah pemikiran Modern dan Filsafat Ilmu Pengetahuan.

[2] Prof. Kondrad Kebung, Filsafat Ilmu Pengetahuan (Jakarta : Prestasi Pustaka Publisher,2011), hal. 51

[3] Ibid hal.52

[4] Frans Cheunfin, Sejarah Pemikiran Modern (Maumere, Dikta Kuliah STFK Ledalero, 2003) hal. 75

[5] Kondrad Kebung, Op.Cit, hal.53

By Ardy G

Pernah belajar di bidang Filsafat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Eksplorasi konten lain dari Patadela.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca