white bubble illustration
Photo by Miguel Á. Padriñán on <a href="https://www.pexels.com/photo/white-bubble-illustration-1111372/" rel="nofollow">Pexels.com</a>

Dalam bahasan kali ini disuguhkan sebuah racikan ilmiah yang cukup sederhana dimana pada racikan atau tulisan kali ini diberi judul “Menyadari Kekeliruan” dengan maksud ingin menyelami potensi kecenderungan manusia yang selalu dapat keliru di dalam dirinya khususnya pada setiap peristiwa kesangksian atas gejala yang ditampakan kepadanya dan juga kekeliruan di dalam melakukan sebuah pernyataan atau proposisi-proposisi berkaitan dengan fenomena-fenomena tertentu. Orang harus bersyukur jika pada suatu kesempatan ia dapat menyadari adanya kekliruan yang telah ia ungkap karena adalah menjadi sesuatu yang sangat naïf jika orang tidak menyadari bahwa kebenaran-kebenaran yang ia ungkapakan adalah keliru. Mengenai hal ini tentu lazim dialami dan dihadapai setiap manusia. Bahwa benar untuk dimaklumi berkenaan dengan kapasitas dirinya sebagai manusiawi untuk memberikan proposisi keliru namun akan menjadi sesuatu yang bermasalah berkenaan dengan aspek profesionalitas.

Di dalam filsafat ada istilah atau term tentang Filsafat Kesadaran yang menukik tentang aspek kesadaran atau fungsi optimalisasi pikiran manusia untuk menjadi prima dalam memberikan putusan-putusan yang mendekati sahih dengan proses teknikal terlebih dahulu misalkan pemeriksaan daya putusan yang sesuai dengan kebenaran- kebenaran logis. Tentu kekeliruan yang disoroti dalam hal ini adalah berkenaan dengan kebenaran-kebenaran putusan yang  bisa diterima dan dijangkau oleh akal pikiran manusia. Berkenaan dengan aspek metafisika atau melampui apa yang fisikal jika mengalami kekeliruan makan kekeliruan ini masih bisa dapat ditoleransi. Karena apa yang disebut dengan kebenaran Metafisis lebih berkenaan dengan kepastian misalkan faktum tentang adanya Malaikat yang membutuhkan persyaratan sekuensi waktu. Pembahasan kekeliruan berlaku untuk hal-hal yang berada di dalam sekuensi ruang dan waktu atau fisikal.

Baca Juga : Benarkah Filsafat itu sulit ?

Filsafat Kesadaran dimampukan mengurangi setiap kecenderungan keliru karena melalui kesadaran manusia diharapkan untuk selalu melakukan proses evaluative, diserment yang terus menerus untuk memeriksa gerak jalan pikiran dan tentang term yang akan diberikan putusan. Merenungi sifat realitas, sifat pikiran kita, dan juga hubungan rumit antara persepsi dan kebenaran. Filsafat kesadaran mencoba untuk mempertanyakan pernyataan atau putusan yang dianggap kabur kemudian direvisi melaui proses silogisme sebelum menghasilkan putusan akhir. Filsuf plato telah berusaha menemukan kebenaran yang dipastikan lebih sahih melalu dialog-dialog yang dibuatanya. Selanjutnya kesadaran membantu kita untuk menemukan hakikat yang terdalam tentang esensi seusatu  dan tentang realitas sesuatu. Kesadaran membantu kita untuk menemukan sumber yang lebih kaya dan komprehensif  tentang sesuatu karena dilibatkan sebuah pengamatan yang lebih intens. Proses berkesadaran seperti ini memungkinkan kekeliruan dapat direduksi.

Kita kembali kepada persoalan menyadari kekliruan, mengapa tema ini menjadi sesuatu yang sangat penting untuk dibahas. Jawabannya adalah tuntutan profesionalitas dan kepercayaan terhadap keberlanjutan seluruh kebenaran-kebenaran yang akan digelontorkan. Tapi sayangnya bahwa di dalam kongkretivitas manusia, orang cenderung untuk mengabaikan akan perihal ini. Orang cenderung untuk berani mengutarakan kebenaran- kebenaran yang belum terverivikasi yang menjauhi unsur kualitas dari putusan-putusan yang diutarakan. Hal inilah yang akan mencedarai faktum kebenaran yang seharusnya karena orang terlampaui dikuasai oleh informasi-informasi yang rapuh dan miskin secara subtansial tapi terlanjur dirilis. Pembiasaan dan habituasi kekeliruan selain mencedarai faktum kebenaran akan juga melahirkan informasi-infoemasi fake atau sampah namun terlanjur boming. Kekeliruan melahirkan hoaks di mana-mana dan kekaburan ke mana-mana. Sehingga konteks menyadari kekeliruan menghadirkan pula suatu tantangan yang besar karena orang-orang dimanjakan oleh informasi-informasi instan yang tidak perlu dibutuhkan suatu proses falsifikasi.

Persoalan kekeliruan yang sering dihadapi oleh kita dalam realitas untuk meminimalisirkannya dalam keseharian kita adalah tidak berlebihan bahwa kita harus tetap memperjuangkan aspek rasionalitas di dalam menyikapi tentang sesuatu dan perihal apapun. Kita dituntut untuk mengkritisi sesuatu sebelum menerima dan mempercayainya sebagai suatu kebenaran final. Hindarilah segala macam kecenderungan aspek pendekatan emosional untuk mempercayai dan menerima sesuatu sebagai sebuah kebenaran hanya karena faktor dan persoalan apakah saya menyukai atau tidak menyukainya.  Kebanyakan dalam situasi nyata orang menerima sesautu sebagai benar lantaran karena menyukainya bukan karena menkritisinya sebagai seuatu yang benar dan salah. Dan hal inilah akan sulit memutuskan mata rantai atau siklus kekliruan antar –lokus dan generasi. Dalam suasan masyarakat yang minim terhadap literasi akan rentan terhadap perihal ini ketimbang di dalam konteks masyarakat yang sudah mapan dan matang karena factor akses akan literasi yang memadai dengan sebuah gaya hidup yang disiplin dan rasional.

By Ardy G

Pernah belajar di bidang Filsafat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Eksplorasi konten lain dari Patadela.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca