person dropping paper on box
Photo by Element5 Digital on <a href="https://www.pexels.com/photo/person-dropping-paper-on-box-1550337/" rel="nofollow">Pexels.com</a>

Oleh : Mardin Ga’a

Pendahuluan

“Nalar Publik dan Politik Elektoral” adalah judul atau suatu gagasan dan pendapat yang dibuat dalam hubungan dengan interpretasi dan eksplorasi mengenai  tanggapan politik rakyat terkait Pilpres tahun 2024 mendatang. Sadari bahwa politik pada hakaikatnya adalah sesuatu yang melekat dengan setiap person (orang) sehingga sejak sesorang itu ada dan bereksistensial, secara lahiriah yang politis telah teranut dalam persona orang tersebut. Inilah term politik dalam kaitan dengan manusia sebagai makhluk politik atau zoon politikoon sebagaimana yang sudah digagas oleh filsuf kenamaan Yunani klasik, Aristoteles. Dalam doktrin Aristoteles tersebut, dikatakan bahwa manusia selalu mempunyai kecenderungan untuk membangun relasi,organisir diri bersama yang lain dalam polis yang bermula dari interperson,keluarga dan masyarakat (Koinonia) serta sampailah pada apa yang disebut Negara.

Terkait agenda pilpres 2024, kesempatan partisipasi politik secara langsung akhirnya terberi dalam pribadi rakyat. bahwa politik dalam artian ini- penentuaan sikap politis untuk memperoleh seorang pemimpin atau politik elektoral- sudah menjadi sesuatu yang positif di dalam koridor demokrasi, karena ia merupakan instrumen dari demokrasi itu sendiri dimana rakyat akhirnya dihimpun untuk menentukan sikap politiknya secara langsung. Ikut terlibat memberikan hak suaranya secara langsung, sehingga hasil elektoralnya adalah benar-benar melalui prosedural deliberasi rakyat di dalam menentukan pilihan, dan hasil pilihan adalah suatu representasi mandate dari rakyat melaui perolehan  suara terbanyak (mayoritas).

Kampanye Pak Ganjar bagian dari pembentukan akan Nalar Publik dan Politik ELektoral
Calon Presiden Ganjar Pranomo sedang menyampaikan beberapa wejangan dalam suatu suasana persiapan kampanyenya Foto diambil dari Kompas.com

Dalam konteks aktual sekarang dapat dijumpai banyak data dari berbagai lembaga survei yang telah menerbitkan tentang tingkat antusias dan respons masyarakat dalam kaitan dengan kontestasi elektoral ini. Misalnya survei tingkat elektabilitas dari kandidat calon presiden dan tingkat peran partisipasi masyarakat, atau tingkat antusias kaum muda terhadap politik atau  memuat tentang subtansi politik secara numeric atau angka (Kuantitas). Data-data yang dirilis oleh berbagai lembaga survei misalnya, yang pernah kita lihat tersebut adalah pijakan untuk mengukur sejauh mana kekuatan dari keterlibatan rakyat untuk ikut ambil bagian di dalam politki praktis ini. Tentang ini dapat kita bahas dalam perikop selanjutny. 

Baca Juga : Etika Politik dan Pemilu

Nalar Publik dan Subtansi Respons Politis warga

Nalar Publik

Secara filosofis nalar publik (öffentliche Vernunft) merupakan sebuah artikulasi yang  digagas oleh Habermas (filsuf kebangsaan German). Artikulasi nalar publik pada Habermas sedianya adalah  sebuah ulasan yang menguaraikan tentang bagaimana peran dan keterlibatan agama di dalam ruang publik yang kian sekuler.  Nalar publik adalah penggambaran ressources daya nalar yang dapat diakses secara publik dalam masyarakat sipil dan terlepas dari logika penelitian “Science“ sebagai ilmu pengetahuan empiris ketat.[1]

Dalam kaitan dengan politik dalam hal ini pemilu, nalar publik adalah suatu prakondisi mengenai ukuran-ukuran dan kekuatan elektoral pada pra-pemilu dalam konteks yang masih sekarang dan sementara. Kita dapat mengandaikan tentang apa isi kepala dari orang-orang mengenai figu-figur capres di dalam konstelasi politik ini. Dalam artian ini nalar publik menjadi urgen didalam proses selektif pada warga untuk menilai dan melihat kira-kira figur mana yang menjadi pilihan atau jagoannya. Segala jargon-jargon, slogan-slogan dan kampanye menentukan konsepsi nalar publik.  Postifisme nalar publik dependensi pada dinamika politik dan iklim politik yang tercipta dari pelbagai pertemuan atau konvergensi akan elemen dan unsur politik. Iklim politik yang stabil menuai pembentukan nalar publik yang baik dan stagnan serta kondusif terhadap bahaya-bahaya ekstremisme militan politik.  Namun iklim politik yang dilatari oleh macam-macam isu negativitas akan membentuk karakter yang syarat akan keraguan dan pesimistik di dalam nalar publik. Hal ini juga berpengaruh di dalam melakoni predikat yang politis termasuk proses elektoral. Negativitas nalar publik akan mengganjal dan mempertanyakan suatu subtansi mendalam ketika seseorang dibawa kepada praksis elektoral. Mempertanyakan tentang subtansi atau makna elektoral yang penuh dengan keraguan,  karena proses elektoral adalah antithesis dari disposisi nurani. Munculnya banyak sikap apatis dan pilihan golput dari sebagian kecil rakyat, bisa saja dilatari oleh situasi ini. Memilih abstain dari pada hadir apabila partisipasi politik dalam hal ini proses elektoral baginya terkesan sebuah formalitas. Bagaimana bisa, perspektif para apatis dipaksakan ke ruang elektoral apabila konstetasi elektoral bukan menjadi bagian dari minatnya, tidak mungkin mobilisasi politik  yang mungkin aktus oleh para apatis ini hanya bertolak ukur pada kesamaan hoby dan emosionl tertentu pada figur calon pilihannya, atau karena faktor retoris pada figure yang dikontestasikan.   

Subtansi Partisipatif Politik

Salah satu filsuf yang yang mempunyai korelasi dengan hal politik berkaitan dengan konteks etika terkait partisipasi politik adalah lagi-lagi Aristoteles. Aristoteles mengatakan bahwa tujuan politik tidak lain dan tidak bukan adalah mencetak warga polis menjadi baik, ini adalah ciri khas watak pemikiran politik aristoteles yang mengedepankan aspek etis. Dan ia sangat tertarik dengan  dasar dari ide tentang kebebasan dalam kaitan dengan konsep demokrasi seperti yang terjadi di Athena zamannya. Partisipasi menggambarkan bahwa setiap individu bisa dan boleh terlibat di dalam urusan publik termasuk kebebasan di dalam partisipatif untuk memimpin dan dipimpin secara bergiliran melalui mayoritas suara yang diraih.[2]  

Dalam kaitan dengan aktualitas politik elektoral menjelang 2024, pelbagai bentuk respons peran partisipasi dapat kita ketemui dalam bentuk survei misalkan survei elektabilitas dari pada kandidat pilpres yang akan dikontestasikan. Misalkan hasil survei pada Maret 2023 yang dikeluarkan oleh Polmark Research Center dari jumlah sampel 62.480 dengan batas akurat 99,6% memenangkan Ganjar pranomo dengan 22,8%, diikuti Anies Baswedan 13,9% dari total  12 figur capres yang diteliti.[3] Sampel yang ditampilkan dengan hasil ini adalah miniature dari jumlah total rakyat Indonesia yang sangat antusias terhadap figur calon presiden yang baru. Secara umum tingkat partisipatif rakyat Indonesia terbilang sangat positif dan baik.

Data yang ditampilkan di atas merupakan sebuah kuantitas dari persentasi yang menunjukan proyeksi kekuatan presiden dari kubu dan partai mana yang niscaya akan menjadi pemimpin pilihan. Kita berharap bahwa respons kekinian yang ditampikan oleh rakyat dapat menjamin eksis bangsa dan Negara dalam masa yang akan datang terhadap semua pertumbuhan dan perkembangan mengenai isu pembangunan Negara dapat dijamin dan berkelanjutan. Tingkatan respons dan peran partisipatif warga dalam politik adalah pengejahwentahan dari martabat politik itu sendiri sebagai mana ada slogan Vox Populi,Vox Dei (suara Rakyat, suara Tuhan).

Penutup

Dalam waktu yang tidak lama, proses aspirasi rakyat yang dituangkan dalam tampuk kekuasaan sang pemimpin akan segera tercapai dalam wacana pesta demokras ini. Pemilu adalah anugerah  sebagaimana ciri khas masyarakat liberal. Pemilu adalah  sebuah instrumen demokrasi itu sendiri dan dihargai di dalam alam demokrasi, sebagaimana dicetuskan oleh Bapak Demokrasi, Abraham Lincoln ( dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat). Siapapun pilihannya adalah sebuah manivestasi mandataris konstitusional. Banyak harapan yang menjadi sebuah resolusi yang harus dicapai oleh pemimpin yang baru setelah peristiwa bencana pandemic Covid-19 yang tentu membawa dampak terhadap lumpuhnya agenda pembangunan. Selain itu situasional aktual Perang Rusia-Ukraina yang tentu secara langsung dan tidak langsung memberikan dampak akan menjadi pekerjaan rumah bagi pemimpin yang akan datang. Salam Vote!


[1]  Otto Gusti Madung, Post-Sekular, Toleransi dan Demokrasi, (Maumere : Penerbit Ledalero, 2017), hlm.36

[2]  Yosef Keladu Koten,Partisipasi Politik, Sebuah analisis atas Etika Politik Aristoteles, (Maumere : Penerbit Ledalero, 2010, hlm.9

[3]  Wikipedia.org/wiki/hasil_surve_pemilihan umum presiden 2024, diakese pada tanggal 22 Juli 2023

By Ardy G

Pernah belajar di bidang Filsafat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Eksplorasi konten lain dari Patadela.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca