silhouette of man standing on mountain during night
Photo by Stefan Stefancik on <a href="https://www.pexels.com/photo/silhouette-of-man-standing-on-mountain-during-night-42148/" rel="nofollow">Pexels.com</a>

Nicolaus Copernicus : Pendahuluan

Nicolaus Copernicus atau lebih dikenal dengan Copernicus diketahui sangat popular dalam  kaitan dengan perbincangan sejarah perkembangan ilmu pengetahuan modern. Bahkan ia adalah tokoh utama dalam pengaruhhya terhadap revolusi ilmu pengetahuan dengan memberikan dasr-dasar pemikiran ilmiah untuk melawan tradisi yakni pengaruh tradisi kuat yang dikendalikan oleh Gereja katolik pada masa Abad Pertengahan. Pokok utama pembahasan Copernicus adalah mengenai pembaruan konsep-konsep dasar astronomi. Sebuah uaraian yang menempatkan tentang subyek mana yang menjadi pusat dari universe atau jagat raya dalam hal ini adalah  mengenai pusat sistem tata surya. Deklarasi doktrin pengetahuan yang menjadi penuh beban dan resiko untuk kaum dan tatanan serta sitem berpikir bagi orang-orang sezamannya.

Riwayat Hidup

Copernicus sendiri hidup antara tahun 1473- 1543. Ia adalah anak  terakhir dari pasangan Nicolaus Koppernigk dan Barbara Watzenrode, yang lahir pada tanggal 19 Februari di Kota Torun, Polandia.[1] Ia dikenal sebagai ahli  astronomi, matematika dan ekonomi. Kematianya berdasarkan sumber Wikipedia, disebabkan oleh sakit stroke.

Dasar dari refolusi Copernikus

Copernikus memberikan pembaruan konsep-konsep dasar astronomi dimana dengan memindahkan bumi dari pusat alam atau iniverse dengan ini Copernicus telah mengubah tempat manusia dalam kosmos, jadi refolusi astronomis mengakibatkan refolusi filosofis. “Manusia yang yakin bahwa kediaman duniawinya hanyalah salah satu di antara milyaran bintang, menilai posisinya dalam skmma kosmis sangat berbeda dari para pendahulunya yang melihat bumi sebagai salah satunya pusat (geosentrisme) ciptaan Allah. Dengan memindahkan posisi bumi, Copernikus mencapakan manusia keluar dari pusat alam. Doktrin tentang langit dan konsepsi yang terkait denganya tentang alam yang berpusat pada natahari (heliosentrisme) merupakan pilar-pilar penting transisi dari masyarakat Abad Pertengahan ke msayarakat modern Barat, sejauh menyentuh hubungan manusia dengan alam dan Allah. Refolusi yang dikenal sangat teknis dan radikal atas astronomi klasik[2], Copernicus memicu kontroversi hebat dalam bidang agama,filsafat dan ajaran-ajaran social. Refolusi Copernicus sendiri adalah refolusi pemikiran dan transformasi  ide-ide tua tentang alam, hubungan manusia dengan alam dan tempatnya dalam kosmos. Tanpa pandangan Copernicus, Ilmu pengetahuan modern dimungkinkan tidak akan pernah ada.[3] Refolusi kopernikan akhirnya diungkapkan kedalam  Setiap bentuk  pembaruan dan refolusi radikal yang terjadi dewasa ini.

Baca Juga : Mazhab Pytahagoras

Teori Copernicus

Sebelum kita membahs tentang teori Copernicus, adabaiknya terlebih dahulu kita mengenal tokoh- tokoh yang memengaruhi pemikiran Copernicus. Tokoh- tokoh yang memengaruhi Copernicus adalah  Aristarkhos dari samos, Martianus Capella, Domenico Maria Novara da Ferrara, Claudius, Ptolomeus, aristoteles.  Bahkan dalam mempertanggungjawabkan gagsannya terhadap otoritas Gereja Katolik,kepada Paus Paulus II, ia menulis

Ada beberapa ‘pembual’ yang berupaya mengkritik karya saya,padahal mereka sama sekali tidak tahu matematika, dan dengan tanpa malu menyimpangkan makna beberapa Tulisan- Tulisan Kudus agar cocok dengan tujuan mereka, mereka berani mengecam dan menyerang karya-karya saya; saya tidak khawatir sedikit pun terhadap mereka, bahkan saya akan mencemooh kecaman mereka sebagai tindakan yang gegabah[4]

Karya tulisan ini dimuat ke dalam terobosannya yang berjudul On the Revolutions  of the Heavenly Spheres (Mengenal Perputaran bola-bola langit) yang diterbitkan pada tahun 1543.

Teori Copernicus  dimulai  oleh rasa ingin tahu akan kausal dari gerakan mekanisme pada alam. Ia akhirnya membongkar kembali untuk melihat tulisan para filsuf sehubungan dengan pengaruh mana atau sebab mana yang mengakibatkan gerakan-gerakan lingkaran alam dalam hal ini palanet-planet yang dapat bergerak dalam dirinya sendiri.

Baca Juga : Mengenal Humanisme, awal dari modernisme

Ia akhirnya menemukan tulisan yang memuat tentang bumi beredar dari para penerus  mazhab Pythagoras seperti Filolaos, Heraclides dari Pontus dan Ecfantes (selengkapnya baca : Mazhab Pythagoras), serta pendapat dari  Iceta dari Syracusa yang dikemukakan kembali oleh Cicero tentang bumilah yang bergerak. Fakta-fakta inilah yang kemudian mengubah pandangan ahwa yang seharusnya bukanlah bumi yang diam dan mataharilah yang terbit di timur kemudia terbenam di barat.  Untuk menopang teorinya ia melakukan rekonstruksi dengan peralatan untuk menentukan jarak relative  antara planet-planet dan Matahari. Proyek inilah yang akhirnya sangat rasional untuk menolak bahwa bumi dan manusia bukanlah pusat dari alam semesta.[5] Tesis-tesis yang dibela dalam enam bab pertama pada karya De Revolutionibus adalah;1). Dunia harus bulat, 2). Bumi harus bulat, 3. Bumi dengan air membentuk sirkuler dan abadi, atau tersusun dari gerakan-gerakan sirkuler. 5. Bumi bergerak dalam lingkaran edar mengelilingi suatu pusat. 6. Besarnya langit jauh lebih besar dari bumi.[6]

Referensi


[1] www.Zenius.net, biografi Nicolaus Copernicus, Ahli Astronomi Pencetus Teori Heliosentris, diakes pada tanngal 14 Juli 2023, Pukul 00.30 WITA.

[2]  Astronomi klasik maksudnya adalah bahwa gagasan Heliosentris sebenarnya bukanlah gagasan yang baru sama sekali, melainkan sudah pernah ada dan dikemukakan pada zaman mazhab Pythagorean. Copernicus bahkan sangat terbuka dan tidak menyembunyikan bahwa ia mengenal mazhab pyhagoras. Gagasan Helio-sentris akhirnya anulir setelah pendirian geo-sentris Aristoteles sangat lama hidup dan diterima secara umum bahkan dipelihara dan hidup sampai zaman Abad Pertengahan.

[3] Frans Ceunfin, Sejarah Pemikiran Modern, Diktat Kuliah STFK Ledalero- Maumere,2023.hlm.46

[4] Karya ini dimuat ke dalam terobosannya yang berjudul On the Revolutions  of the Heavenly Spheres (Mengenal Perputaran bola-bola langit) yang diterbitkan pada tahun 1543.

[5] Wikipedia.org, diakses pada tanggal 14 Juli 2023, pukul 02.06 WITA.

[6] Frans Ceunfin, Op.Cit, hlm. 48

By Ardy G

Pernah belajar di bidang Filsafat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Eksplorasi konten lain dari Patadela.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca