blue and white planet display
Photo by Pixabay on <a href="https://www.pexels.com/photo/blue-and-white-planet-display-87009/" rel="nofollow">Pexels.com</a>

Ontologi dalam filsafat merupakan sebuah pembahasan yang lebih sempit ketimbang Metafisika.  Ia merupakan salah satu kajian utama dalam bidang filsafat bersama dengan Epistemologi dan Aksiologi. Metafisika mencakup pada hal yang paling umum dari proses pemahaman manusia karena ia mencakup pengandaian-pengandaian fisika misalkan gagasan waktu dan ruang serta  benda dan juga mencakup pengandaian-pengandaian manusia seperti pikiran, pribadi dan nila-nilai serta keyakinan kita akan sesuatu yang abadi yang melampui kekuatan manusiawi. Ontologi adalah studi akan eksistensi itu sendiri.[1] Dengan maksud bahwa yang dilakukan sehubungan dengan metode studi adalah melakukan penyelidikan bukan deskripsi mengenai eksisitensi. Para filsuf berusaha untuk menyelidiki dengan melampui batasan-batasan fisikal-indrawi. Dan contoh filsuf yang melakukannya ialah misalkan Parmenides yang termuat di dalam fragmen-fragmen tentang pencarian akan  unsur hakaikat  yang sejatinya mengenai realitas. Ontologi berusaha menggagaskan tentang perihal mengenai apa itu ada. Ada dikatakan sebagai esensi dari apa itu berada[2]. Antagonis dari ada adalah yang tidak ada. Yang tidak ada terkadang dipikirkan sebagai sesuatu dari ada itu sendiri. Kita bisa mengetahui tokoh Martin Heidegger yang secara rutin membahas aspek ini yang popular disebut Dasein yang ada dalam karya monumentalnya yang berjudul  Being and Time. Dia juga merupakan seorang eksistensial besar pada abad ke-20,  baginya pemaknaan terhadapa manusia harus dilihat pula dari perspektif ontologis dimana kehadiran dalam panggung kehidupan sudah menjadikan dirinya dengan apa yang disebut sebagai  care atau concern (sorge), yang menuntut suatu keprihatinan dan keterlibatan dengan segala hal yang mingitari sekelilingnya.[3]Perlu diketahui bahwa sebelum Heidegger, Leibniz juga mencoba merumuskan pertanyaan pencaritahuannya Mengapa ada dari yang tidak ada yang mana jawaban ini melibatkan pengenalan akan Tuhan, begitupun Plato dalam era Yunani Kuno menambahkan pemikiran seputar bahwa Ada itu harus aktif,kalau tidak kita tidak dapat menyadarinya.[4] Thales dan Aristoteles juga menyinggung persoalan ini. Inilah persoalan Ontologis yang menjadi dasar-dasar refleksi dari pada filsuf untuk mencari tahu akan hakaikat terdalam dari isi keberadaan.

            Baca Juga : Apa itu Filsafat : Cinta akan Kebijaksanaan?

Pengertian Ontologi

Berdasarkan arti etimologisnya, Ontologi berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri dari dua kata: ontos yang diartikan sebagai ada atau juga tentang keberadaan dan logos yang diartikan sebagai proses studi atau kajian pengetahuan dan secara esensinya dapat diartikan suatu kajian penyelidikan mengenai keberadaan akan Ada, Ontologi sebagai suatu studi yang mempelajari hakaikat keberadaan sesuatu, dari yang berbentuk kongkrit sampai ke hal yang paling abstrak  sekalipun[5]. Terminologi dalam hubungan dengan Filsafat, terdapat pengertian umum mengenai ontology  yakni :

  1. Studi mengenai ciri-ciri esensial dari Yang Ada dalam dirinya sendiri yang berada dari studi tentang hal-hal yang ada secara khusus. Dan dalam mempelajari Yang Ada dalam bentuknya yang sangat abstrak maka terdapat pertanyaan yang dilontarkan “Apa itu Ada- dalam dirinya sendiri (an sich) ? dan “Apa hakaikat Ada sebagai Ada.
  2. Merupakan Cabang filsafat berkutat dengan tata dan struktur realitas dalam arti seluas mungkin, dengan menggunakan kategori-kategori seperti ada/menjadi, aktualitas/potensialitas, nyata/tampak dan sebagainya.
  3. Adalah cabang filsafat yang mencoba melukiskan hakaikat Ada yang terakhir (Yang Satu, Yang Absolut, Bentuk Abadi dan Sempurna), menghubungkan pikiran dan obyek tindakan manusia secara persona individual yang pernah hidup dalam sejarah dengan pelbagai realitas.
  4. Merupakan sebuah cabang filsafat yang melontarkan pertanyaan “Apa arti Adaa, BERADA?”, membedah dan menganalisis bermacam-macam hal yang bermakna serta memungkinkan hal-hal dapat dikatakan Ada, Berada. Mencoba mengkaji hal-hal yang berterima dan masuk dalam kategori sebaga Ada dan Berada.
  5. Cabang filsafat yang menyelidiki status realitas suatu hal, memungkinkan agar obyek yang dicerapi benar-benar sebagai suatu kenyataan ataukah hanya sebagai ilusif (menipu), menyelidiki jenis realitas yang dimiliki hal-hal misalkan apa jenis realitas yang dimiliki bilangan ? Persepsi? Dan Pikiran ?, selanjutnya juga menyelidiki realitas akan apa yang kita sebut realitas dan ataukah sebagai sebuah ilusif “Apakah realitas- atau ciri ilusif- suatu pikiran atau obyek tergantung pada pikiran kita, atau terletak pada sumber eksternal yang independen.[6]

Baca Juga : Mengenal Kritisisme Immanuel Kant

Kita juga perlu melihat sedikit sebuah pemaparan Heidegger, dimana ia memberikan distinksi atau ciri pembeda mengenai “Ada” (Being) dengan “adaan” (being) dimana ADA adalah sesuatu yang lebih luas yang melampui sekaligus menyelubungi dari “adaan”. Mengenai hal ini Heidegger mau memberikan kritik terhadap filsafat barat yang terindikasi kelupaan akan yang ada.[7] Di sini kita bisa membaca maksudnya adalah “adaan” adalah atribut plural dari “Ada”. Dalam hubungan dengan dasein ia lebih menyinggung hakaikat keberadaan manusia yang terlempar di dalam dunia, yang terlihat sepintas dan begitu saja karena kita sepertinya tidak mengetahui dari mana dan mau kemana. Perihal ini Ia menyebutkan dengan istilah faktisitas.[8]

Aliran-aliran Ontologi

Macam alirannya dapat diketahui sebagai berikut :

  1. Monisme : Keyakinan bahwa realitas hanyalah satu, segala hal berasal dari sumber yang sama misalkan gagasan Plotinus di dalam Neoplatonisme
  2. Dualisme : pandangan filosofis yang menegaskan eksistensi  dari dua bidang (dunia) yang terpisah dan tidak dapat direduksi. Uraian ini mengenai oposisi biner yang terdapat dalam sifat-sifat alam, misalkan  Roh/Materi, Jiwa/badan dan sebagainya.
  3. Pluralisme : uraian bahwa terdapat banyak unsur dalam alam ini misalkan yang diutarakan oleh Empedokles bahwa jagat raya yang kita saksikan ini terdapa beberapa unsur misalkan tanah, udara,api dan air
  4. Materialisme :keyakinan bahwa tidak ada sesuatu selain materi yang sedang bergerak, teori melihat bahwa pikiran adalah piranri dari materi yang bergerak.
  5. Idealisme : realitas terdiri dari ide-ide, pikiran-pikiran, akal (mind) atau jiwa (selves) dan bukan benda material dan kekuatan. Hakaikat semuanya sesuatu didasrkan oleh Roh sebagai sumber pengerak utama.
  6. Nihilisme : Semuanya adalah tidak ada atau ketiadaan.
  7. Agnotisisme : sesuatu yang tidak dapat digapai oleh pikiran (tidak dapat dikenal) mengenai hal-hal yang transenden, bahwa manusia tak dapat mengetahui hakaikat Yang Ada entah perihal yang materi maupun rohani. Contohnya adalah model eksistensialisme Jean Paul Sarte yang mengafirmasi bahwa tidak ada hakiakat dari manusia akan “ada” melainkan yang diakui hanyalah “keberadaan”-nya.[9]
  8. Mistisisme (Eksistensi Tuhan) : Eksistensi Tuhan sebagai realitas tertinggi dan menjadi sumber bagi eksistensi segala sesuatu.[10]

Sekian pembahasan mengenai Ontologi, pada intinya tulisan ini mencari sesuatu dalam hal dengan perihal tentang keberadaan, sesuatu realitas yang menghadirkan konsep mengenai sesuatu yang dapat dipikirkan dirangkum dalam tulisan ini. Kepada pemikiran ia memberikan makna dan mengidentifikasikan dirinya sebagai sesuatu yang disebut Yang Ada, yang mengkomunikasikan bahwa kepada pikiran ia tidak menipu (ilusi). semoga pembahasan ini dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi pembaca semuanya.


[1] Peter Gibson, Segala sesuatu yang perlu anda ketahui tentang Filsafat, (Jakarta : Penerbit Gramedia, 2023), hal. 59

[2]  Ibid

[3]  Zaprulkhan, Filsafat Umum, Sebuah Pendekatan Tematik, (Depok, Rajawali Pers, 2021), hal. 141

[4] Peter Gibson, Op.cit, hal. 60

[5] Zaprulkhan, Filsafat Ilmu, Sebuah Analisis Kontemporer, (Depok, Rajawali Pers,2021), hal.50

[6] Ibid, hal. 49-50

[7]  Zaprulkhan, Filsafat Umum, Sebuah Pendekatan Tematik, Op.Cit, hal. 145

[8] Ibid,hal 152

[9]  Wikipedia.org/Ontologi, diakses pada 28 September 2023.

[10]  Ibid, hal. 50-62.

By Ardy G

Pernah belajar di bidang Filsafat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Eksplorasi konten lain dari Patadela.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca