Perihal membaca Populisme di Indonesia merupakan sebuah pernyataan reflektif akan kekhawatiran tetang kemungkinan adanya bahaya dan ancaman populisme terhadap perpecahan di dalam komunitas masyarakat Indonesia yang kian plural, sebagai akibat dari keberpihakan dan militan dalam atraksi suksesi politik yang kompetitif. Bahwa secara pragmatis populis merupakan sesuatu yang lazim di dalam dinamika politik sebuah wilayah polis atau Negara. Tercatat bahwa populisme di indonesia pada hakaikatnya telah hidup dalam kancah perpolitikan sejak awal kemerdekaan, misalnya doktrin Marhaenisme yang digerakan ke pedesaan oleh Soekarno sebagai bentuk visi dari pemberdayaan tehadap kelas pekerja pinggiran  adalah bagian dari bentuk gerakan Populis. Populisme semacam ini dilihat sebagai Populisme Pragmatis.

Dalam relevansinya dengan konteks Perpolitikan Indonesia, patut diselidiki tentang bagaimana gerakan populis yang dijalani oleh pegiat politik (suksesi politik) dan apa potensi pengaruhnya terhadap eksistensial kehidupan masyarakt indonesia dalam pelbagai bidang tatanan hidup. Tulisan ini bukanlah sebuah riset khusus yang disertakan data-data lengkap tentang bagaimana hubungan populis calon pemimpin dengan konteks kehidupan real masyarakat, melainkan lebih sebuah ciri spekulatif yang berbentuk teoritis, sehingga pembaca dapat sandingkan sendiri kajian populis dengan model politik yang teraktualitas di dalam politik Indonesia sehingga dapat sampailah sebuah praopini mengenai tafsiran bagaimana populisme di dalam perpolitikan Indonesia tersebut.

   Baca Juga : Nalar Publik dan Politik Elektoral

Tentang Populisme

Asal Mula Populisme

Mengenai populisme, kita perlu mengetahui kira-kira kapan bentuk populisme dimulai dan di mana populisme itu muncul. Seperti yang dilansir dari laman Wikipedia.org, dikatakan bahwa istilah populisme muncul pertama kali di Negara Amerika Serikat pada akhir abad ke- 19, ketika Anggota Partai Rakyat mulai mengindentifikasikan dirinya sebagai kelompok “Populis”. Setelah peristiwa Amerika, Pada periode yang sama , di Kekaisara Rusia terdapat kelompok berbeda yang menyebutkan diri mereka sebagai “Narodniki” yang secara popular dikatakan hampir mirip dengan arti “Populis” meskipun sedikit keliru. Dan pada tahun 1920-an, istilah “populis” kemudian masuk kedalam bahasa di Perancis yang mengacu kepada sekelompok perkumpulan penulis. Inilah beberapa fenomena dari geneologi akan populisme. [1]

Defenisi Populisme

Secara Etimologis, Populisme tersadur dari bahasa latin yakni dari kata populi yang berarti rakyat.[2] Pengertian ini mempunyai pararelitas dengan istilah demos yang menekankan bahwa rakyat mempunyai kekuatan akan otoritas yang agung di dalam penyelenggaraan kekuasaan termasuk pengambilan keputusan dan kebijakan terhadap diskursus pembangunan negara. Dari pengertian ini kita melihat bahwa terdapat pergeseran makna dimana populis yang dekat dengan arti demos yang notabene memiliki makna dan kesan yang positif akhirnya tergerus ke konotasi yang kian negative. Hemat saya, yang menjadi negasi adalah bukan ideologinya namun manifestasi demokrasi pada kerangka populislah yang bersifat negative karena berpotensi membunuh akan kebaikan demokrasi itu sendiri. Lalu siapakah yang membunuhnya. Kita pasti bisa mempunyai jawabanya masing-masing.

Mengenai defenisi populisme kita perlu mengkaji sebuah defenisi yang dirumuskan oleh Ernesto Lauclau, ia melihat bahwa popuslisme justru merupakan sebuah kekuatan emansipatoris dari pada kelompok-kelompok marjinal atau terpinggirkan dalam menentang akan bentuk kekuasaan hegemoni. Arti ini sangat berciri social. Secara negatif kita dapat menggarisbawahi pendapat yag dikemukakan oleh Robert W. Hener yang menguaraikan populisme sebagai sebuah fenomena dari mencuatnya krisis kewargaanegaraan secara global bahwa ia merupakan sebuah wacana politik dalam gerakan social yang berpaut pada rakayat namun secara bersamaan menempatkan kelompok lain sebagai oposan yakni elit pengusasa. Di mana lebih lanjut menurutnya ada kekuatan di mana populisme berpotensi mendiskreditkan sumbangsih kelompok ekstern yang memantik sentimen antara “Kelompok asli vs Kelompok luar” yang paling rentan adalah mengenai isu etnis kesukuan dan religious. [3]

Populisme di Indonesia, kampanye Ganjar
Kampanye Presiden Oleh Ganjar Pranomo Sumber Halaman Facebook Berita Ganjar Pranomo.

Konsep yang dibangun oleh Hener merupakan sebuah konsep yang sangat sensitif yang memberikan peringatan akan eksistensial tatanan masyarakat Indonesia yang sangat plural. Tentang hal ini pernah dituangkan olehnya dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Institute of International Studies (IIS) pada 27/10 dalam tahun 2017 silam.Lebih jauh ia mengajak agar ,masyarakt bergerak bersama-sama untuk melawan populisme khususnya populisme di Indonesia dengan mengacu pada tuntutan Hak Asasi Manusia.

Selain Hener, adapula term negatif lain mengenai populisme yang dibangun oleh Cas Mudde, ia mengatakan bahwa pola strategis (modus) politik populis yang sering dipraktekan oleh kandidat pemimpin adalah dengan menggunakan logika media yang sangat senter mengafirmasi bahkan pengkultusan terhadap aspek persona, dengan melibatkan emosionalisasi untuk bisa memenangkan konstituen.[4] Hal ini dilakukan melalui proses interaksi dimana populis mengonsepsikan atau menawarkan tentang kesamaan interest dengan konstituen yang majemuk yang dioperasionalkan melalui tiga modus atau jalur yakni diskursif,ideasional, dan material.

       Baca Juga : Politik dalam Pandangan Aristoteles

Korelasi Politik aktual Indonesia dengan Populisme

Dalam masa-masa sekarang kita masyarakat Indonesia telah dihadapi dengan ifen politik yang sangat menggema. Pada akhir-akhir ini aktifitas elektoral telah bertaburan dan terselenggara di mana-mana. Berita-berita kampanye politik berselewaran di berbagai platform media baik cetak maupun elektronik.  Kita memiliki beberapa figur pemimpin yang dikatakan cukup menarik baik kapasitas maupun person ketika berhadapan dengan ifen perebutan kekuasaan ini. Dalam masa kampanye pemilihan presiden periode 2019 lalu kedua rivalitas Jokowi dan Prabwo memiliki julukan pemimpin populis masing-masing dimana jokowi dijuluki sebagai pemimpin populis yang santun sedangkan prabowo dinilai sebagai pemimpin populis yang ideal, namun kedua-duanya sama-sama menjalani populisme pragmatis sebagai sebuah instrumen strategis dalam mencapai tujuan mereka masing-masing. Hal ini juga mempertegas akan adanya nuansa populisme di Indonesia.

Kita bisa mengidentifikasikan apakah pelbagai strategi politik yang diambil oleh ketiga calon pemimpin kita sekarang mulai dari Ganjar Pranomo, Anis Baswedan dan Prabowo Subianto masuk dalam bagian populisme. Jawabannya secara pragmatis tentu karena ketiga-tiga nya telah menjalani dan menawarkan tentang visinya kepada masyarakat luas lewat berbagai instrument interaksional. ketiga-tiga nya adalah calon pemimpin populis namun tingkat kepopulisannya pasti berbeda-beda dan unik antar yang satu dengan yang lain. Tipikal populisnya dapat kita sangsikan dalam bentuk pidato dan sambutan yang memuat janji-janji yang mengisi tentang gebrakan perubahan yang akan diambil ketika melakoni sebagai seorang presiden nantinya.  Jika hanya memuat sebuah janji politik entah itu dapat direalisasikan atau pun tidak, mungkin sedikit tidak berdampak pada ankondusiitas yang berdampak pada pepecahan. Namun yang patut dijegala selain dari konsepsi kampanye populis yang mematikan unsur demokrasi dalam masyarakat adalah mengenai juga kampaye populis yang bersifat melukai secara langsung akan perpecahan dan anarkisme dalam masyarakat karena sebuah afirmasi yang bercorak intolerir dan persekuti terhadap suatu bentuk kelompok maupun etnis tertentu, entah itu yang berada di dalam maupun di luar. Sekian catatan saya mengeanai Populisme di indonesia dan mengenai penegasan akan populisme dalam actual politik yang sekarang, masing-masing kita boleh menganalisanya sendiri-sendiri.


[1]  https://id.m.wikipedia.org/wiki/Populisme diakses pada 13 September 2023 pukul 23.22 Wita

[2] dikutip dari majalah vox Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero.seri 63/02/2018

[3]https://fisipol.ugm.ac.id/gelombang -populisme-ancaman–bagi-demokrasi-di-indonesia

[4]  https://id.m.wikipedia.org/wiki/Populisme

By Ardy G

Pernah belajar di bidang Filsafat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Eksplorasi konten lain dari Patadela.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca