Mengenai judul tulisan “Positivisme Aguste Comte” yang dirilis kali ini, tujuannya adalah ingin melihat telaah filsofis dari butir butir pemikiran Aguste Comte mengenai positifisme yang muncul pada abad 19, sebuah prinsip ilmiah yang diadopsi dan nyaris hampir banyak digunakan di dalam perkembangan ilmiah modern dengan coraknya yang rasional. Oleh karena itu tidak mengherankan apabila berkat rasional-positifistis dari pemikirannya, Agoste Comte disebut sebagai bapak positivisme. Diketahui bahwa paham Positivistis ini lahir bersamaan dengan idealisme (Filsafat Jerman)  yang mana segala gagasan metafisis-teologis akhirnya ditolak tidak seperti di dalam idealisme yang sangat mendukung metafisika. Namun banyak para ahli mengatakan bahwa perbedaan ini hanya bersifat ideologis belaka karena keduanya sama-sama bersifat spekulatif yang mana idealism jerman dengan bersifat konservatif – kendati menggubah kembali metafisika tradisional yang alih-alih terlihat rasional sedangkan filsafat positif sebaliknya positivism- dengan semangat sekularistis progresif hasil Pencerahan- akhirnya berusaha merekonstruksi sebuah system pengetahuan ilmiah yang dapat menjelaskan  realitas kekinian yang tak terpisahkan dari keseluruhan (universum). Hal ini berarti filsafat positif memiliki pretense metafisik.[1] Oleh karena itu positivisme Aguste Comte ini tidak tendesius menegasikan unsur metafisika melainkan menyatukan realitas-realitas ilmiah sebagai sesuatu bagian dari kesatuan universum yang dibaliknya bernuansa metafisis (Metafisika Implisit).

Baca Juga : Mengetahui Zaman pencerahan

Mengenai riwayat hidup dari Aguste Comte dikatakan bahwa ia lahir di kota Montpellier, 19 Januari yang mana pada tahun yang sama (1789) adalah masa dimana masih berlangsungnya revolusi Prancis. Ia lahir dari sebuah keluarga bangsawan yang beragama Katolik, dan dalam usianya 25 tahun, dia menjalani studi di Ecole Polytechnique di Paris. Menekuni pemikiran-pemikiran kaum ideology dan dikatakan bahwa ia sangat dipengaruhi oleh pemikiran Saint- Simon  yang pernah menerimanya sebagai sekretaris. Salah satu karyanya yang terkenal adalah Course of positive Philosophy  yang terdiri dari dalam 6 jilid.[2]

Adapun tiga tahap atau vase perkembangan ilmu pengetahuan menurut Aguste Comte adalah sebagai berikut :

  1. Tahap Teologis  

Dalam tahap ini orang mengarahkan rohnya kepada hakikat batiniah segala sesuatu, sebab pertama dan tujuan terakhir segala sesuatu (arkhe dan thelos). Dan  pada tahap ini orang masih mengakui adanya Yang Mutlak yang berada di balik segala sesuatu, dan pada tahap ini masih dapat ditemukan tiga tahap, antara lain ;

  • Tahap primitive yang dikenal sebagai tahap paling sederhana, ketika orang percaya kepada paham bahwa segala sesuatu memiliki jiwa dan kekuatan (animism)
  • Tahap politeisme, dimana orang mereduksi (mengurangi) satu kekuatan adikodrati kepada sekian banyak kekuatan lain dan akhirnya setiap gejala memperlihatkan wujud tertinggi (dewa-dewi).
  • Tahap monoteisme, orang telah menggantikan dewa-dewi yang berpaham politeisme dengan mengkultuskan satu kekuatan tertinggi yang bersifat mutlak yang bercorak monoteisme.
  • Tahap Metafisis

Tahap metafisika dapat dilihat debagai suatu perwujudan perubahan dari tahap teologis. Kekuatan adikodrati diganti dengan kekuatan-kekuatan abstrak dengaan pengada lahiriah yang disatukan dengan sesuatu yang bersifat umum yang mana orang menyebutnya dengan istilah kosmos atau alam, yang diyakini sebagai wujud pengasal akan segala yang ada. Arkhe yang bersifat persona dilepaskan dan orang-orang menuju kepada sesuatu arkhe – kolektif yang dianggap mengitari alam sebagai keseluruhan.

  • Tahap Positif

Pada tahap ini kendati menempatkan aspek meatafisis secara terselubung namun perlu diakui bahwa orang berpendirian dengan tidak lagi dan mereduksi akan usaha untuk mengenal dan mengetahui yang mutlak, baik itu secara teologis maupun metafisis. Ia tidak memiliki preferensi untuk mengeksplorasi dan melibatkan imannya akan sesuatu yang disebut sebagai hakaikat dunia yang melatarbelakangi  segala sesuatu. Yang lebih diperhatikan adalah keterarahan kepada hukum-hukum kosmis  yang tampak dalam pelbagai gejala dan fakta kongkrit kehidupan melalui faktual obyek indrawi dan rasionalitas akalnya. [3]

Baca Juga : Memperkenalkan Filsafat Postmodern

Dari ketiga tahap perkembangan ilmu pengetahuan yang dapat kita lihat sebagai sebuah metamorphosis peralihan cara pandang atau paradigma manusia seperti yang dijelaskan sebelumnya, secara implisit kita telah menemukan bahwa terdapat vase di mana manusia telah menyelaraskan akan pemahamannya dengan perjalanan sejarah perkembangan peradaban manusia itu sendiri. Tahap teologis merupakan sebuah vase perkembangan yang hidup dalam masa peradaban kuno, kemudian tahap metafisis merupakan milik peradaban medium sebelum terjadinya revolusi (pencerahan) dan tahap positif adalah vase perkembangan pandangan manusia pasca aukhflarung (revolusi).

Positivisme Aguste Comte, Contoh ilustrasi tahap teologis sumber buku Karangan Aleks Jebadu
Ilustrasi Tahap Teologis pada perkembangan Pengetahuan Manusia sumber : Perpustakan IAKN Toraja

Selain itu Comte juga menghubungkan tahap-tahap mental tersebut dengan bentuk-bentuk organisasi sosial dalam tatanan kehidupan masyarakat. Tahap teologis dikorelasikan dengan absolutisme, misalnya otoritas absolut raja dan golongan militer. Dan kemudian pada tahap metafisik, absolutisme raja dihancurkan dan diganti dengan kepercayaan akan hak-hak abstrak rakyat dan hukum. Dan akhirnya pada tahap positif organisasi masyarakat industry menjadi pusat perhatian dan memiliki daya tarik yang besar. Ekonomi layaknya primadona, dan kekuasaan elit intelektual akhirnya muncul. Siapa yang menguasai pasar dan saham dia adalah tuan atau lord baru. Dan untuk mempelajari tipikal ini, bagi comte sosiologi adalah ilmu tepat yang sering digunakan untuk mengorganisir masyarakat industry.[4] Aguste comte menyelaraskan akan perihal yang memiliki kesamaan antara perkembangan tahap-tahap dengan struktur organisasi di dalam kehidupan sosial masyarakat, bahwa paham ideology dari tahap-tahap tersebut memiliki perubahan paradigma terhadap ens ideal yang menempati centrum kultus pemujaan dari manusia. Struktur yang aktual di dalam organisasi sosial dewasa ini adalah masih ditempati oleh penguasaan ekonomi dan teknologi. Wacana ekonomi dan pemanfaatan teknologi yang tepat sebagai corak masyarakat industry  maka orang akan menguasi jagat ini. Isu-isu Metafisis- Teologis akhirnya beralih kepada isu kemanusiaan dan struktur sosialnya. Sehingga apa yang disebut Comte sebagai “agama baru” yang diistilahkan olehnya sebagai “agama kemanusiaan” atau “agama positivistis” sebagai modifikasi dari perkembngan “masyarakat positif Comte” berkat eksistensial positivisme Aguste Comte akhirnya termanivestasi pula. Orang tidak lagi bergantung sepenuhnya pada institusi dan dogma yang legitim namun bisa beralih –passing over- kepada isu-isu normative kemanusiaan yang lebih aktual dan kekinian. Karena dalam keterlibatan dengan isu-isu humanitas sebenarnya seseorang telah dierapkan dengan hal yang rohaniah karena di dalam nya terkandung kuat pula akan matra religius.

Dari pemaparan di atas kita dapat menyimpulkan bahwa positivisme Aguste Comte (filsafat positif) sebenarnya ingin mengosentrasikan pemikiran pada hal-hal yang faktual atau apa yang berdasarkan fakta-fakta bukan sesuatu yang melampui fakta-fakta. Fakta disini dimengerti sebagai sesuatu yang dapat diamati oleh indrawi dan sesuatu dilihat sebagai pengetahuan merupakan pencerapan atas pengelaman obyektif yang bersifat lahiriah yang harus difalsifikasikan secara indrawi dengan tanpa harus menyertakan kesadaran metafisis secara langsung. Di sini orang akhirnya bergumul dengan fakta-fakta realistis yang otentik yang disangsikan dengan observasi langsung. Hal ini kita menemukan kemiripan dengan gagasan yang pernah dikumandangkan oleh Hegel bahwa yang rasional adalah real dan yang real adalah rasional.

Selain itu memahami positifisme Aguste Comte dapat membawa seseorang kepada sebuah kesadaran akan proses adanya sesuatu yang kontinuitas atau berlanjut dalam proses pemikiran manusia terlepas dari adanya manfaat bahwa manusia harus melepaskan akan pertimbangan-pertimbangan metafisis yang sukar dijangkau dengan melibatkan dirinya kepada aktifitas yang lebih realistis dan faktual. Misalnya orang tidak lagi berpikir agar tindakan nya baik karena dikehendaki dan disenangi oleh Tuhan namun berpikir bagaimana tindakan tersebut dapat bermanfaat bagi sesama dan lingkungan.


[1] F.Budi Hadirman, Pemikiran Modern : Dari Machiavelli sampai Nietzche, (Yogyakarta : Penerbit Kanisius, 2019),hal. 191-192

[2] Ibid, 197

[3]  Kondrad Kebung, Filsafat ilmu Pengetahuan (Jakarta : Prestasi Pustaka Publisher, 2011) hal.60-61.

[4]  Budi Hadirman, Pemikiran Modern Op.cit 201

By Ardy G

Pernah belajar di bidang Filsafat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Eksplorasi konten lain dari Patadela.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca