Study of Two Heads
<a href="https://www.rawpixel.com/image/9086315/study-two-heads" rel="nofollow">Study of Two Heads</a> by <a href="" rel="nofollow">The Metropolitan Museum of Art</a> is licensed under <a href="https://creativecommons.org/publicdomain/zero/1.0/" rel="nofollow">CC-CC0 1.0</a>

Pendahuluan

Jika sebelumnya dibahas mengenai riwayat hidup  dan ajaran Sokrates maka kali ini kita akan membahas riwayat Plato tentang gagasan- gagasan dan pemikirannya . Plato sendiri adalah murid dari Sokrates. Sama halnya dengan Sokrates  seluruh corak pemikiran Plato pun bersifat idealis. Jika Sokrates berfilsafat dengan cara menjaga relasi untuk tidak terlibat dengan konstelasi politik praktis maka Plato memilih untuk ikut terlibat dengan kehidupan politik praktis. Plato dianggap merupakan orang dalam daripada penyelenggaraan kekuasaan pemerintahan Perikles itu sendiri. Ia setidaknya ikut berperan memberikan kontribusi politik secara langsung bagi kehidupan politik terhadap pemerintahan Perikles di Athena dan juga ikut memberikan pandangan politiknya bagi kehidupan pemerintah Sisilia. 

Plato lahir sekitar  tahun 428/427 SM dari suatu kelurga terkemuka di Athena, ayahnya bernama Ariston yang merupakan keturunan dari kodrus, dan Ibunya bernama Periktione kerabat Solon seorang negarawan dan penyair Athena. Sejak masa mudanya ia bergaul dengan tokoh-tokoh yang memainkan peranan penting dalam politik Athena. Ia sangat dipengaruhi oleh Kratylos, seorang filsuf yang meneruskan ajaran Herakleitos.[1]Sesudah Sokrates meinggal, Ia bersama sama dengan teman-temannya memilih menetap di Megara untuk beberapa waktu pada murid Sokrates yang lain yang bernama Eukleides. Namun tidak memilih untuk tinggal lebih lama di situ dan akhirnya kembali ke Athena. Sekitar pada usia 40 tahun ia mengunjungi Italia dan Sisilia. Pada kunjungan ini ia bertemu dengan seorang muda yang pintar dan cakap yang bernama Dion, ipar tyrannos Syrakusa Dionysios I. Selain itu dikatakan Plato juga mengunjungi Mesir dan Kyrene. [2]Plato kemudian meninggal pada tahun 347 SM pada usia mendekati delapan puluh tahun. Dalam persahabatannya dengan Dion ipar Dionysios yang adalah tyrannos Syrakusa, mereka berdua mempunyai ideal kesepakatan untuk memengaruhi Dionysios dengan ajaran filosofinya agar tercapai suatu perbaikan sosial yang dianggap bisa melaksanakan teorinya tentang pemerintah yang baik dalam praktik. Tertanam kuat dalam benaknya bahwa kesengsaraan di dunia tidak akan berakhir sebelum filosof menjadi pemimpin atau pemimpin menjadi filsuf. Akan tetapi kenyataan akhirnya Filsafat Plato dituding membahayakan  bagi kerajaan, akhirnya Plato ditangkap dan dijual sebagai budak di pasar, tetapi karena dikenal sebagai bekas murid dari Annikeris ia kemudian ditebus. Peristiwa ini diketahui oleh sahabat dan pengikut Plato di Athena. Mereka kemudian mengumpulkan uang untuk membayar hasil tebusan. Akan tetapi uang tersebut kemudian dialihkan untuk membeli sebidang tanah terkait perihal tebusan terhadap Plato ditolak oleh Annikeris. Dengan sebidang tanah tersebut didirikanlah sebuah sekolah atu pondok yang dengan area sekitarnya terdapat kebun yang sangat indah.[3]Pemilihan nama “Akademia” berhubungan halamannya dekat dengan sebuah kuil yang didedikasikan kepada pahlawan yang bernama Akademos.[4]Istilah “Akademik” yang merujuk kepada hal-hal ilmiah atau dunia pendidikan dewasa ini merupakan permulaan dari peristiwa Akademia Plato ini. “Akademia” ini dirancangkannya sebagai center penyelidikan ilmiah yang mana Plato hendak merealisasikan cita-citanya, yakni membuat pendidikan secara ritin pada berbagai macam disiplin pengetahuan dan filsafat khusunya kepada orang-orang muda yang  akan menjadi pemimpin-pemimpin politik nanti.[5] Jika Isokartes yang terlebih dahulu mendirikan sekolah mementingkan latihan dalam ilmu retorika atau seni berpidato maka Plato secara lebih konsekuen dengan menekuni visi sebuah sekolah yang bertujuan ilmiah. Ia tidak saja membatasi pada persoalan-persoalan etis saja seperti yang dilakukan oleh gurunya Sokrates, tetapi mampu mencurahkan minatnya pada bidang kajian yang luas sekali yang mencakup seluruh ilmu pengetahuan. Pengorganisasian negara dan pembuatan undang-undang mendapatkan perhatian khusus sebagai pokok penyelidikan semua ilmu ini dan juga pengetahuan lain yang sudah dipraktikan di negeri Yunani pada saat itu, dipelajari dalam Akademia di bawah nama “filsafat”.[6]

Metode ajaran yang dilakukan oleh Plato ketika menjadi pengajar di Akademia yaitu dengan mengadakan pengajaran lisan. Kebanyakan agaknya Ia tidak melakukan pengajaran secara sistematis tetapi melakukan diskusi-diskusi yang sebagian dipimpin oleh Plato sendiri dan juga sebagian muridnya diangkat menjadi asisten. Proses transfer ilmu dan pengetahuan ini terkesan idak kaku dan monoton tetapi lebih leluasa serta menciptakan suatu proses diskusi yang hangat terkait tema yang dipelajari dengan aktualitas kejadian-kejadian di kehidupan nyata. Salah satu  muridnya yang juga brilian dan cerdas ialah Aristoteles yang akan kita bahas dalam naskah selanjutnya.

Mengenai Karya- Karya Plato.

 Berdasarkan sumber- sumber  sejarah dari riwayat Plato, rupa-rupa karyanya banyak tertuang dalam bentuk penggalan dialog-dialog. Hal ini bisa dikarenakan perkembangan sastra dan seni yang berkembang sangat kental dalam budaya Yunani waktu itu. Seperti pernah dijelaskan oleh dosen saya Romo Richar Muga ketika mengikuti perkuliahan Sejarah Filsafat Barat Kuno di STFK Ledalero,[7] terdapat penyair terkenal yang bernama Humeros dimana diceritakan bahwa Karya-karyanya amat berpengaruh di sekoalah-sekolah serta banyak hampir semua dihafalkan oleh orang-orang Yunani. Karena pada masa itu para penyair berkeliling ke seluruh Yunani dan bercerita kisah-kisah tersebut selama ratusan tahun.[8]Maka kita dapat menyimpulkan bahwa filsafat tidak Lain sebagai sesuatu sebanding dengan dialog. Selain itu dalam berbagai literasi ditemukan adanya tulisan mengenai pergelaran seni drama yang dipentaskan yang memuat berbagai tema dari pelbagai bidang kehidupan baik itu politik, agama, budaya dan sebagainya diuraikan dalam bentuk drama-drama. Sokrates guru Plato yang dikenal tidak menulis  menerapkan filsaftnya dalam dialog sehari-hari, melakukan Tanya-jawab dengan kawan-kawan sekotanya di Athena, hal ini juga memberikan pengaruh bagi Plato yang menuliskan semua karya filsafatnya dalam bentuk dialog. Dialog- dialog itu misalkan Apologia(Pembelaan terhadap Sokrates ) yang ditulis tidak lama setelah kematian Sokrates. Akan tetapi dari semua karya Plato yang berjudul Politeia adalah karya yang paling popular. Politeia adalah suatu karya yang membahas tentang Negara.

Tentang Ide-ide

Bagi Plato mengenai “ide” merupakan suatu obyek yang subtansial atau berdiri sendiri. Bukanlah seperti yang diartikan sebagai sebuah konsep atau gagasan daripada aktifitas atau cara kerja suatu proses berpikir dari manusia melainkan ide-ide itu terlepas dari subyek yang berpikir. Menurut Plato, ide-ide itu tidak diciptakan oleh pemikiran manusia, ide-ide itu tidak tergantung pada pikiran manusia, melainkan pemikiran yang tergantung pad aide-ide. Justru karena ada ide-ide yang berdiri sendiri memungkinkan pemikiran kita ada.[9]Jadi hemat saya, bagaimana kita bisa mengenal tentang  kebaikan karena pemikiran kitalah yang dihubungkan dengan ide tentang kebaikan dan bagamana kita mengetahui dan mengenal tentang sesuatu itu indah karena pemikiran kita yang menaruh perhatian pad ide tentang keindahan. Jadi jika “ide-ide” adalah sebuah subtansi maka pemikiran adalah aksidenta. Pemikiran dikatakan aksidenta dalam hubungan dengan “ide-ide” yang sifatnya subtansia karena pemikiran adalah kejadian atau proses berpikir ketika kita mengarahkan pemikiran kita pada suatu “ide” tertentu.

Ajaran tentang ide-ide

Pada pembahasan sebelumnya dijelaskan tentang ajaran Plato mengenai ide-ide serta dimuatkan pula riwayat hidup dan karya dari Plato serta jejak karir bagi perkembangan Filsafat khususnya filsafat Yunani. Kali ini kita menggali lebih jauh pokok pembahasan mengenai ide-ide menurut Plato.  Sudah dipaparkan bahawa Plato merupakan seorang pemikir idealis dan dasar atau fundamen dari pemikirannya sangat ditentukan oleh gurunya Sokrates dimana filsafat Sokrates sangat mencerminkan gagasan-gagasan yang bersifat abstrak dan idealis. 

Plato sangat konsenkwen dengan ide-ide dimana menurut dia yang nyata adalah ide-ide sedangkan realita adalah proyeksi dari ide-ide yang tertampak di hadapan indrawi. Ide-ide itu berdiri sendiri dan berciri substansi dan realitas adalah “mimesis” atau tiruan. Semakin sesatu realitas mengarahkan dirinya dengan ide-ide makan realitas itu lebih terlihat baik dan sempurna. Kesempurnaan realitas menjadi baik untuk ditangkap sejauh ide tentang hal tersebut disertakan kedalam realitas. Bagaimana jika misalnya si dodi melukiskan tentang sesuatu lukisan pemandangan menjadi tidak mungkin lukisan itu menjadi baik apabila ide-ide tentang lukisan itu tidak ikut ambil bagian dalam pembuatan lukisan tersebut. Ide-ide menurut Plato tidak berubah dan bersifat tetap, nah kita kembali ke ilustrasi mengenai lukisan si Dodi tadi, bahwa lukisan tadi biisa hilang atau dibuang namun ide tentang lukisan yang tergambar dan dilihat oleh indra tadi tetap ada. Maka jelaslah bagi Plato bahwa yang nyata dan real itu adalah dunia ide. 

Jadi dalam pemikiran Plato mengenai ide-ide secara implisit telah diidentifikasi mengenai dunia ide-ide dan dunia indrawi. Yang mana ide-ide dapat dikenal melalui proses pengetahuan atau theoria (Knowledge) dan pengenalan akan ide-ide itu bersifat otonom, kokok, jelas dan tidak berubah dimana rasio menjadi alat untuk mencapai pengenalan dan ilmu pengetahuan adalah medan bagi pengenalan itu untuk ditunjukan atau dipraktekan.[10]  

Mengenai kerangka pemikran Plato mengenai dua dunia antara dunia ide-ide dan dunia indrawi adalah sebuah gagasan yang berkembang atas ketegangan pemikran dari Herakleitos dan Parmeinedes dimana Herakleitos mengakui bahwa arkhe adalan sesuatu yang berubah dan dinamis dan baginya tidak ada yang tinggal tetap. Hal itu kontras dengan gagasan Parmeneides yang mengakui bahwa segala sesuatu adalah yang tinggal tetap dan tidak berubah dan hal ini benar dalam pemberlakuan kepada ide-ide.

Alegori gua 

Bagi yang pernah membaca atau mendengar tentang riwayatPlato tentu tidak asing dengan cerita mengeanai alegori gua. Alegori gua merupakan suatu dogma filsafat Plato untuk mengafirmasi mengenai konsep ide-idenya. Dan mitos tentang gua itu adalah dogma filsafat yang sangat masyur. Tentang ini termuat dalam dialog Politeia bahwa manusia dapat dibandingkan demikian- menurutnya dimana orang-orang tahanan  yang sejak lahirnya terbelenggu (terpenjara ) dalam gua dan mukanya selalu tidak dapaat bergerak dan selalu terarah kepada dinding gua, dan di belakang mereka terdapat api yang menyala. Dan  beberapa orang budak mondar-mandir di depan api tersebut sambil memikul berbagai macam benda, yang mengakibatkan rupa-rupa bayang-bayang dari para budak terpantul dalam dinding gua tersebut. Akhirnya orang-orang tahanan mengira bahwa baying-bayang para budak tersebut merupakan realitas yang sebenarnya dan bahwa tidak ada realitas lain. Akan tetapi beberapa waktu sesudah seorang tahanan dilepaskan ia pada akhirnya menemukan bahwa yang ia lihat selama menjadi tahanan adalah bukan realitas yang sebenarnya ketika menemukan realitas yang sesungguhnya saat ia dilepaskan ketikan mengamati api yang ada di situ dan obyek-obyek di luar gua  seperti matahari yang menyilaukan mata. Dan pada akhirnya ia menceritakan hal tersebut kepada teman-temannya. Akan tetapi teman-temannya tidak mempercayai orang tersebut dan seandainya mereka tidak terbelenggu mereka dapat saja membunuh akan setiap orang yang mau melepaskan mereka dari gua.[11]Gambaran Gambaran tentang alegori atau perumpaan tentang gua ini sebenarnya sebuah lukisan atau penggambaran Plato sendiri mengenai kematian Sokrates. Sokrates dilihat Plato sebagai sosok tahanan yang telah dilepaskan yang memberikan pencerahan baru mengenai  realitas yang sebenarnya diluar keterbelengguan orang-orang Athena. Akan tetapi ketaktersampaian pemahaman akal orang Athena khususnya kalangan konservatif dan para pemimpin yang ingin memberikan pencerahan oleh Sokrates akhirrnya sokrates pun dibunuh karena bertentangan dengan kebenaran yang telah dibentuk pada orang-orang Athena. 

Mengenai jiwa

Ajaran Plato  mengenai jiwa dipicu pula oleh Orfisme dan Mazhab Pythagorean selain mengembangkan thesis sokrates tentang jiwa yang mana jiwa bagi Sokrtaes adalah intisari dari kepribadian manusia dan menjadi tujuan utama dari pencapaian manusia dalam pengejaran akan kebahagiaan jiwa. Plato mengemukakan tentang Kebakaan jiwa. Hal ini mencerminkan suatu gagasan mengenai ide-ide yang tinggal tetap dan tak berubah. Begitupun jiwa-jiwa bersifat baka. Dan dalam cara kerja pengenalan adalah jiwa yang mengenal ide-ide bukan badan. Jiwa bagi Plato dianggap sebagai inkoporeal (tidak berwujud fisik) dan merupakan aspek abadi dari keberadaan seseorang yang setelah kematianpun jiwa tersebut tetap ada. Plato pun membagi jiwa ke dalam tiga aspek yakni logistikon (pikiran atau akal) atau bagian rasional dan yang kedua adalah thymoeides adalah bagian dari keberanian atau semangat atau nafsu dan yang ketiga adalah to epithymetikon adalah bagian keinginan atau hasyrat.[12]  

Dalam Timaos Plato mengungkapan konsep jiwa yang berkaitan dengan Kosmologi dimana jagat raya dilihat sebagai makrokosmos dan manusia sebagai mikrokosmos, dunia baginya adalah suatu makhluk hidup yang terdiri tubuh dan jiwa dan tubuh dan jiwa ini diciptkan oleh “Sang Tukang” atau “Demirgos”. Jiwa dunia diciptakan sebelum jiwa manusia.[13]

Ajaran tentang Negara

Seperti sebelumnya dalam bagian Karya-karya Plato telah disinggung Karya-karya Plato dan kesempatan ini hendak diulas terperinci tentang satu karya fenomenalnya megenai Politeia dan nomoi serta Politikos yang secra eklpilisit membicarakan tentang Negara. Bagi Plato tujuan manusia adalah eudaimonia tentang hiidup baik yang mana terdapat peran etika dalam hidup bernegara. 

Politeia berarti “tata polis” atau “tata negara”dan yang dalam konteks modern diterjemahkan dalam bahsa inggris sebagai “Repoblik”seharusnya kurang tepat atau salah kaprah. Dalam tata polis ini plato membagi paket atu special orang-orang dalam hidup bernegara yang paling dasar adalah golongan para pekerja atau petani yang menjadi dasar ekonomis selain pedagang dan para ahli music jika pois sudah mencapai taraf mewah.

Selain itu terdapat golongan khusus yang bertugas untuk menjaga polis yang disebut golongan penjaga (phylakes) atau para tentara. Dan para penjaga harus dididik dan dibentuk agar mereka menonjol dalam hal keberanian.[14] Selain itu, Plato juga membagi tiga golongan dalam sebuah negara yang ideal. Golongan pertama adalah para filsuf . kepemimpinan negara seharusnya diserahkan kepada golongan ini karena mereka memiliki pemahaman dan pengertian mengenai yang baik. Kepemimpinan negara seharusnya diserahkan kepada tangan mereka. Setelah itu terdapat golongan yang kedua yakni prajurit- prajurit yang mana mereka ditugaskan untuk menjamin keamanan negara dan mengawasi agar para negara tunduk kepada para filsuf. Dan golongan yang terakhir adalah petani-petani dan para tukang yang menanggung kehidupan ekonomis bagi seluruh warga polis.[15] Plato membagi spesialisasi tingkantan masyrakat sepertinya terbentuk suatu hierarki mungkin dengan maksud agar orang menjalani peran sesuai dengan bakat dan kemampuannya dan menjalani tugas sesuai dengan kapasitas dan kualitas diri. Dan spesialisasi ini menjadi sebuah kualifikasi atau syarat menjadi sebuah negara yang baik atau ideal dan yang bisa sempurna. 

Lebih lanjut ajaran tentang negara dapat dilihat dalam dialog Politikos dimana negarawan harus mampu menciptakan keselarasan antara semua keahlian dalam negara sehingga terlihat harmonis. Seorang jenderal harus ahli dalam bidangnya dan seorang hakim juga harus harus mengadili menurut isnstruksi undang-undang. Dan menurut politicos undang-undang sebaiknya dibuat sejauh diraskan perlu menurut keadaan kongkrit. Akan tetapi disarankan harusnya terdapat undang-undang umum atau the second best dank arena alsan praktis undang-undang harus dipandang sebagai instansi  tertnggi  dalam negara meskipun seorang negarawan bila menyimpang ia juga harus dihukum. Selain Politikos tentang negara dituangkan pula dalam  Nomoi suatu karya atau dialog terkahir disinlah cikal bakal model pemerintahan mulai lebih tergagas, dimana Plato mengusulkan agar bentuk negara yang bagus adalah nomoi semacam campuran antara demokrasi dan monarki. Tidak lagi seperti dalam politeia. Nomoi menjadi semacam jalan tengah antara dua kestrim antara monarki karena bisa menumbuhkan bahaya kelaliman dan demokrasi yang terlalu banyak memberikan kebebasan. Hal ini dilatari oleh peristiwa perang Parsi antara Persia (mewakili corak kelaliman Raja Xerxes) dan Yunani (ciri Athena dipimpin oleh keadaan pemimpin yang kurang berwibawa) waktu itu yang memberi sebuah refleksi baru bagi Plato untuk membuat sebuah konsep baharu pada model negara. Diman nomoi mengusulkan agar semua petugas negara dipilih oleh rakyat dan diutamakan kepada mereka yang cakap dan jabatan pemerintahan yang terpenting mesti dipegang oleh menteri pendidikan.[16]

Mengenai akademia yang didirikan oleh plato diteruskan oleh beberapa muridnya dan eksis hingga delapan abad ke depannya sebelum ditutupi oleh perintah kaisar Kristen  Justinianus pada tahun 529 Masehi. Diketahui bahwa murid yang paling berbakat dari Plato ialah Aristoteles akan tetapi Aristoteles menempuh suatu corak pemikiran yang baru sama sekali dan semua gagasannya adal reformasi platonik atau kontra Platon . lebih lanjut Aristoteoles akhirnya menndirikan seuatu sekolah tersendiri dan mendapatkan seorang murid yang bakal tersohor dan fenomenal dalam sejarah yakni Alexander Agung atau Alexander The Great. Dan setelah Aristotels maka berakhirlah babak atau corak pemikiran filasfat klasik .

Catatan Kaki (Footnote)

[1] K. Bertens, Sejarah Filssafat Yunani (Yogyakarta : Penerbit Kanisius, 1999) hlm.115.
[2]ibid,hlm.17.[3]Tony W. Pratama,Refleksi Pemikiran dalam Gelas Kaca, Plato : Repoblik, 2015,hlm.6-7.[4]K Bertens Op.Cit,hlm.118
[5]Bertens.Cit
[6]Loc.Cit[7]STFK Ledalero sekarang IFTK Ledalero merupakan Lembaga pendidikan Calon Imam milik Serikat Sabda Allah yang merupakan Lembaga Pendidikan dengan Akrediatadi “B”. Selain menyediakan Program Studi Filsafat bagi calon imam kini IFTK Ledalero telah menambahkan beberapa program studi baru seperti Prodi PKK Agama Katolik, Prodi DKV ( Desaine Komunikasi Visual) dan Prodi Kewirausahaan.[8]Wikipedia,diakses dari https://id.m.wikipedia.org/wiki/Homeros, pada tanggal 4 April 2003, Pulul 22.23 Wita. 

[9]K. Bertens. Op.Cit. hlm.131.

[10]  

ibid, hlm 132[11]  Ibid , hlm 135 [12] P2k.stekom.ac.id/ensiklopedia/Konsepsi _Jiwa_ menurut_ Plato#  diakses pada tanggal 13 april 2023 pukul 14.07  wita. [13] K. Bertens, Op.Cit, hlm.140 [14] Ibid,hlm.142-143.

[15] Ibid, hlm.145.

[16]  ibid, hlm.152.Catatan Tambahan:Tyrannos dalam bahasa indonesia diartikan sebagai penguasa tunggal yang bisa disinonimkan dengan Raja.Arkhe adalah prinaip dasar atau awal sesuatu
Daftar Pustaka.

 K. Bertens, Sejarah Filsafat Yunani, Yogyakarta, 1999.

 Tony W. Pratama, Plato : Repoblik ,Refleksi Pemikiran dalam Gelas Kaca, Jakarta 2015

 Wikipedia.com diakses pada tanggal 4 April 2023

P2k. Stekom.ac.id diakese pada 13 april 2023.

By Ardy G

Pernah belajar di bidang Filsafat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Eksplorasi konten lain dari Patadela.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca